Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Waspada Ancaman Maut Nyamuk ‘Aedes’

Waspada Ancaman Maut Nyamuk ‘Aedes’

Tanggal : Pukul :
387
0
Ilustrasi/Grafis: Raam/Detik Sumsel

Lipsus, Detik Sumsel– Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi penyakit ‘langganan’ setiap musim penghujan. Setiap tahunnya, kasus DBD di sejumlah kota dan kabupaten di Sumsel relatif tinggi. Bahkan, tak sedikit penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini menelan korban jiwa.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumsel, di bulan Januari lalu saja, ada empat penderita DBD meninggal dunia dari empat kota dan kabupaten berbeda, yakni OKI, OKU Selatan, Musi Banyuasin, dan Kota Lubuklinggau.

Sedangkan, hingga 21 Februari, ada satu kasus DBD di Ogan Ilir (OI) yang menyebabkan penderita meninggal dunia. Berbagai hal ditengarai penyebab masih adanya korban meninggal dunia karena DBD.

Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada Januari lalu. Seorang bocah berusia empat tahun asal Kecamatan Tulung Selapan sempat mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) atau fase akhir kritis. Meski sempat dirawat secara intensif, tetapi nyawanya tak tertolong.

Diakui Direktur RSUD Kayuagung, dr Fikram didampingi Kepala Bidang Medik, H Ubaidillah, pasien terlambat dirujuk ke rumah sakit. Sebelumnya, korban menjalani rawat inap di Puskemas Tulung Selapan selama dua hari. Sebab lain kematian penderita DSS yakni pendarahan hebat pada saluran pencernaan yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak segera diatasi.

Kasus DBD yang menyebabkan kematian juga pernah terjadi di Lahat pada tahun 2017 silam. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lahat, Rasyidi Amri, melalui Kabid Pengendalian Penyakit Menular, H Ubaidillah SKM Mkes, tiga orang meninggal dunia. “Ketiganya meninggal dunia lantaran telat melakukan perawatan,” ujarnya.

Baca Juga :   KPU Libatkan Bawaslu dan Polisi

Secara keseluruhan, di bulan Januari ada 442 kasus DBD di seluruh Sumsel dengan jumlah tertinggi terjadi di Palembang sebanyak 101 kasus. Angka tersebut memang relatif tinggi dibandingkan yang terjadi pada Februari ini dengan jumlah 145 kasus. Kabupaten OI menjadi daerah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 25 kasus dan satu orang meninggal dunia.

Angka tersebut masih bisa meningkat karena musim penghujan diprediksi masih akan berlangsung hingga Maret mendatang. Tak jarang, kasus DBD juga masih kerap terjadi di musim pancaroba atau peralihan. Warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaannya agar tak terserang DBD hingga dapat menghindari terjadinya kematian.

Tim Detik Sumsel telah merangkum kondisi serangan nyamuk Aedes Aegypti di sejumlah daerah di Sumsel berikut ini.

• Kabupaten Ogan Komering Ilir

Hingga pertengahan Februari, berdasarkan data RSUD Kayuagung, ada 11 kasus DBD. Jumlah ini diprediksi akan meningkat karena pasien yang dirawat di rumah sakit ini juga berasal dari Ogan Ilir dan OKU Timur.

• Kabupaten Musi Banyuasin

Selama tahun 2019, sejak awal tahun hingga pertengahan Februari terjadi 61 kasus DBD. Angka ini relatif tinggi, karena sepanjang tahun 2017 hanya ada 87 kasus dan 2018 tercatat 94 kasus DBD.

• Kabupaten Ogan Ilir

Di Ogan Ilir, kasus penderita DBD pada tahun 2017 sebanyak 33 orang. Meningkat cukup tinggi di tahun 2018 sebanyak 115 kasus. Sedangkan, hingga pertengahan Februari telah terjadi 46 kasus DBD yang penderitanya didominasi usia 5-14 tahun. Selama rentang 2017-2019, DBD telah menyebabkan dua orang warga meninggal dunia.

Baca Juga :   Harus Didukung Sarpras yang Baik

• Kota Pagaralam

Dinas Kesehatan Kota Pagaralam mencatat terjadi sebanyak 72 kasus DBD sejak 2017 hingga pertengahan Februari ini. Selama rentang tersebut, belum ada tercatat penderita DBD yang meninggal dunia. Khusus di bulan Februari ini, ada 19 kasus dengan dominasi penderita berusia 1-14 tahun.

• Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU)

Sejak awal tahun 2019, tercatat empat kasus DBD terjadi di Kabupaten OKU. Satu orang balita berusia 3,5 tahun meninggal dunia karena DBD pada tahun 2017 silam.

• Kabupaten Lahat

Selama tiga tahun terakhir, jumlah penderita DBD tertinggi terjadi pada tahun 2017 silam sebanyak 90 kasus di Kabupaten Lahat. Dari jumlah tersebut, tiga diantaranya meninggal dunia. Jumlah kasus menurun di tahun 2018 menjadi 74 penderita. Sedangkan sejak awal tahun 2019 hingga saat ini, sudah tercatat 22 kasus DBD dengan usia penderita mayoritas 25-40 tahun.

• Kabupaten Muara Enim

Selama Januari lalu tercatat 32 kasus DBD yang ditemukan di Muara Enim. Menurut Dinkes setempat, kondisi ini selalu terjadi tiap tahun hingga bulan Mei mendatang. Pada tahun 2018 terjadi 122 kasus dan diharapkan tahun ini jumlahnya berkurang.

• Kota Palembang

Di bulan Januari, terjadi 152 kasus DBD berdasarkan data Dinkes Palembang. Hingga pertengahan Februari telah terjadi 83 kasus. Angka ini relatif meningkat dibanding pada bulan November dan Desember 2018 yang masing-masing hanya tercatat 50 kasus.(Tim)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here