Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Warga Siap Terima Serangan Fajar

Warga Siap Terima Serangan Fajar

Tanggal : Pukul :
790
0
Ilustrasi: Raam/Detik Sumsel

Lipsus, Detik Sumsel- Memasuki bulan April, semakin mendekati tanggal 17 April. Artinya, tersisa 17 hari menjelang hari pemilihan untuk menentukan caleg dan capres pada Pemilu Serentak.

Masa kampanye terbuka pun tersisa 13 hari dan empat hari menjelang pemilihan, ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai hari tenang. Selama empat hari hari tersebut semua kegiatan kampanye pun diharapkan dihentikan oleh semua timses caleg dan capres.

Meski begitu, tradisi ‘serangan fajar’ masih menghantui menjelang pelaksanaan pemilihan. Bahkan, banyak calon pemilih yang hingga saat ini belum menentukan pilihannya dan menanti ‘diserang’.

“Tidak kenal semua dek, kalau pun kenal kok rasanya tidak yakin kalau orangnya mampu,” ucap Ds, seorang warga Sako.

Terkesan sedikit apatis, Ds menilai siapapun yang terpilih, tak akan terlalu memberi perubahan bagi negeri. “Ya kita tahu sendiri, banyak anggota dewan yang tertangkap korupsi. Mereka lebih memilih memperkaya diri, bukannya memberi perubahan lebih baik pada rakyat,” tuturnya menggebu.

Baca Juga :   27-29 Oktober Sumsel Bakal Hujan Lebat

Senada diungkap Fn, warga Kalidoni yang menyebut tak ingin menyamakan pribadi caleg. Ia yakin masih ada yang benar-benar ingin berjuang bagi rakyat.

“Tapi kadang kalau sendirian mau bekerjanya, ya masih tetap tidak jalan. Nanti sajalah, tunggu ada yang nyerang pas fajar mau pemilihan, baru nyoblos dia,” ungkap ibu rumah tangga ini sambil tertawa.

Tradisi serangan fajar ternyata masih cukup efektif untuk meraup suara. Banyak warga yang belum memiliki pilihan, dapat goyah dengan adanya ‘serangan fajar’. Menurut Fn, ia tak merasa rugi memilih calon yang memberinya uang. Walaupun ia tahu, pihak penyelenggara dan pengawas Pemilu berulang kali mengingatkan, tindakan money politic merupakan hal yang salah.

Baca Juga :   Ramai-ramai Anak Tauke Karet Setop Kuliah

“Ya katanya tolak uangnya, tidak usah coblos orangnya. Bukan indikator juga kalau yang tidak memberi kita uang, orang itu baik. Jadi ya saya tunggu caleg yang mau kasih warga saja lah,” ucapnya lagi.

Walaupun begitu, masih banyak juga warga yang mau memberikan suaranya tanpa mempedulikan pemberian calon dan timsesnya. Ariyanto misalnya, warga KM 5 ini memilih sesuai hati nurani.

“Saya ada kenalan yang jadi caleg dan memang selama kenal, Insya Allah baik. Semoga saja dia amanah. Dan saya menolak dengan tegas money politic,” katanya.(fir)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here