Pemerintah Sumatera Selatan
Pemerintah Musi Banyuasin
Beranda Refleksi Virus Corona dan Implikasi Ekonomi

Virus Corona dan Implikasi Ekonomi

Tanggal : Pukul :
623
0
Virus Corona dan Implikasi Ekonomi
Oleh : Rini Tri Hadiyati, S.ST, M.Si

Virus corona atau corona virus disease (COVID-19) bukan hanya mengguncang Wuhan, tetapi juga dunia. Hampir seluruh negara di dunia merasakan teror virus ini, termasuk Indonesia. Lebih dari 100 ribu orang di sedikitnya 107 negara positif terinfeksi virus corona. Jumlah korban meninggal juga sudah melampaui 4.000 orang pada Selasa (10/3). Jumlah pasien yang positif corona di Indonesia juga telah bertambah menjadi 27 orang. Sejak diumumkannya kasus dua orang positif corona di Indonesia,  masyarakat berbondong-bondong membeli masker dan hand sanitizer meskipun dengan harga yang tak lagi masuk akal. Pedagang masker dan hand sanitizer juga seperti tak ingin melewatkan kejadian ini untuk mendulang keuntungan. Di sini, gejolak ekonomi sudah mulai terjadi. Permintaan pasar yang tinggi dengan supply terbatas tentu menyebabkan kenaikan harga dan kelangkaan barang.


Dampak Sektor Pariwisata

Ekonomi global saat ini tengah menghadapi beberapa tantangan, seperti perang dagang Amerika-China yang masih terus berlangsung, konflik geopolitik dan sebagainya. Tantangan ekonomi global semakin bertambah dengan mewabahnya virus corona. Virus corona tak hanya berdampak bagi ekonomi China negara asalnya, melainkan juga ekonomi dunia. Virus corona menjadi pemicu perlambatan aktivitas ekonomi secara global. Indonesia juga turut merasakan dampak virus corona dari segi ekonomi. Dengan larangan wisman China berkunjung ke Indonesia ataupun sebaliknya, sektor transportasi dan pariwisata dalam negeri langsung terkena imbasnya. Dari 1,27 juta kunjungan wisman ke Indonesia pada Januari 2020, sekitar 181,3 ribu kunjungan (14,25%) berasal dari China. Wisman asal China merupakan wisman terbanyak kedua yang mengunjungi Indonesia, setelah Malaysia di urutan pertama. Dengan mewabahnya virus corona pada pertengahan Februari lalu yang menyusul pelarangan wisman China ke Indonesia, otomatis perolehan devisa dari sektor pariwisata akan menurun. Sementara untuk Sumatera Selatan (Sumsel),  jumlah kunjungan wisman asal China pada Januari lalu hanya sebanyak 49 kunjungan. Jika dilihat selama periode 2019 lalu, jumlah wisman asal China yang berkunjung ke Sumsel sebanyak 538 kunjungan. Mungkin untuk Sumsel, sektor pariwisata tidak terlalu terpengaruh dengan adanya pelarangan wisman China ke Indonesia karena Sumsel bukan destinasi utama bagi mereka.

Baca Juga :   Layanan Pajak Tutup Sementara Waktu

Dampak Industri

Wabah corona mengakibatkan pemerintah China mengeluarkan peraturan yang membatasi penduduknya beraktivitas di luar rumah, terutama untuk daerah yang menjadi pusat wabah atau dekat dengan pusat wabah. Pelarangan ini berdampak pada  tersendatnya proses produksi di China dan menyebabkan beberapa pabrik harus menghentikan operasionalnya. China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, sehingga Indonesia juga turut merasakan imbasnya. Besarnya impor nonmigas dari China ke Indonesia pada Januari 2020 sebesar USD 3,9 Miliar. Jika dilihat sepanjang Januari-Desember 2019 lalu, besaran impor nonmigas dari China sebesar USD 44,58 Miliar atau sekitar 26,11% dari total impor Indonesia.  Impor asal China utamanya berupa bahan baku industri maupun barang jadi. Dengan terganggunya proses produksi di China menyebabkan rantai distribusi menjadi terhambat yang berakibat pada proses produksi industri dalam negeri.

Bahkan diberitakan delapan perusahaan di Jawa Tengah terancam tutup karena pasokan bahan baku dari China berkurang. Dampak lanjutan terhadap industri dalam negeri bisa berupa upaya efisiensi perusahaan seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada pekerjanya. Jika kondisi ini terus dibiarkan tentu industri-industri dalam negeri yang bahan bakunya bergantung dari China bisa gulung tikar. Dalam situasi demikian, sedapat mungkin mengalihkan bahan baku/penolong ke pasokan dalam negeri.

Sumatera Selatan sendiri pada Januari 2020, memiliki besaran impor dari China sebesar USD 28,82 juta. Dengan total impor Sumsel sebesar USD 54,77 juta, artinya lebih dari 50% impor Sumsel bergantung pada China. Jika dilihat dari penggunaan barang impor, sebesar 0,88% digunakan sebagai barang konsumsi, 70,94% sebagai bahan baku/penolong dan sebesar 28,18% sebagai bahan modal. Artinya sebagian besar impor yang berasal dari China merupakan bahan baku/penolong. Sektor industri pengolahan di Sumsel merupakan sektor yang memberi kontribusi tertinggi kedua terhadap perekonomian Sumsel, setelah pertambangan. Memang tidak semua industri di Sumsel menggunakan bahan baku dari China, tetapi untuk industri yang bergantung pada bahan baku dari China tentu perlu mengupayakan ketersediaan bahan baku dari sumber yang lain.

Baca Juga :   BI Tidak Melayani Penukaran Uang Lebaran

Selain dari sisi impor, juga tentu berdampak pada sisi ekspor. Jika dilihat nilai ekspor nonmigas ke China sepanjang 2019 yaitu sebesar USD 25,85 Miliar atau sekitar 15,43% dari total ekspor Indonesia. Demikian juga dengan Sumsel, berdasarkan data ekspor Januari 2020, China merupakan negara tujuan utama ekspor Sumsel dengan nilai sebesar USD 105,09 juta. Dengan total ekspor Sumsel sebesar USD 348,69 Juta, artinya sekitar 30% nilai ekspor Sumsel ditujukan ke China.

Jika ditilik komoditas ekspor Sumsel, sekitar 94% ekspor Sumsel berupa ekspor nonmigas: komoditas pertanian sebesar 1,13%, komoditas pertambangan sebesar 20,43% dan komoditas industri sebesar 72,45%. Artinya ekspor ke China didominasi oleh bahan baku/penolong untuk kegiatan industri, seperti: karet remah, karet buatan, panel kayu, bubur kertas dan sebagainya.

Dampak terhadap Konsumsi

Dengan terhambatnya supply bahan baku industri dari China akan mempengaruhi produksi dalam negeri yang berimbas pula pada pengurangan kapasitas produksi ataupun kenaikan harga akibat kekurangan bahan baku. Pengurangan kapasitas produksi dapat membuat perusahaan melakukan efisensi pengurangan karyawan yang dampaknya bisa melemahkan daya beli masyarakat. Demikian juga dengan kenaikan harga yang dapat menyebabkan menurunnya permintaan pasar. Dampaknya konsumsi rumah tangga juga akan mengalami perlambatan. Perekonomian Indonesia ditopang sekitar 56,62% oleh konsumsi rumah tangga. Demikian juga dengan perekonomian Sumsel yang sekitar 65,53% didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Ketika konsumsi rumah tangga mengalami penurunan, maka pertumbuhan ekonomi akan langsung terdampak. Langkah-langkah antisipasi memang harus sesegera mungkin direalisasikan untuk mengurangi ancaman virus corona terhadap perekonomian kita.


Penulis : Rini Tri Hadiyati, S.ST, M.Si. Statistisi Ahli Muda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here