Pasang Iklan Detik Sumsel
Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Unsri Tambah Kuota Bidik Misi

Unsri Tambah Kuota Bidik Misi

Tanggal : Pukul :
543
0
Panitia SNMPTN Unsri mengumumkan penambahan kuota bidikmisi untuk pelaksanaan SNMPTN khususnya Universitas Sriwijaya.

Lipsus, Detik Sumsel- Jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2019 yang tengah dibuka tak hanya memberi kesempatan bagi peserta reguler. Seperti biasa, Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memberi slot khusus bagi peserta yang ingin mengambil program biaya pendidikan mahasiswa miskin berprestasi (Bidikmisi) untuk masuk PTN.

Humas dan Publikasi SNMPTN Unsri, Prof Dr Ir Zulkifli Dahlan MSi DEA mengatakan, dari target kuota tahun sebelumnya yang berjumlah sekitar 900 orang, kali ini Unsri mengusulkan ke pusat untuk menambah kuota tersebut khusus penerima Bidik Misi. “Tahun ini rencananya Unsri kembali akan mengusulkan 1.000 orang dengan harapan bisa terealisasi semuanya. Karena sebelumnya juga ada kuota 1.000 orang namun hanya terisi tidak sampai dengan angka seperti yang ditargetkan,” ujarnya.

Adapun beberapa persyaratan yang harus dipenuhi peserta antara lain merupakan siswa SMA/SMK/MA yang akan lulus pada tahun 2019. Kemudian lulusan tahun 2018 yang bukan penerima Bidikmisi dan tidak bertentangan dengan ketentuan penerimaan mahasiswa baru di masing-masing perguruan tinggi. “Usia paling tinggi pada saat mendaftar adalah 21 tahun,” jelasnya.

Selain itu, peserta tidak mampu secara ekonomi dengan kriteria khusus seperti siswa merupakan penerima Beasiswa Siswa Miskin (BSM) atau Pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau sejenisnya. Jika tidak maka bisa menyertakan surat keterangan tidak mampu atau surat lainnya yang membuktikan ketidakmampuan untuk memudahkan verifikasi nantinya.

“Pendapatan kotor gabungan orangtua atau Wali maksimal sebesar Rp4 juta per bulan dan atau pendapatan kotor gabungan orangtua/wali dibagi jumlah anggota keluarga maksimal Rp750 ribu setiap bulannya,” jelasnya.

Baca Juga :   Sedekah Ruwah Picu Harga Bahan Pokok Naik

Zulkifli menambahkan, pendidikan orangtua atau Wali setinggi-tingginya S1 (Strata 1) atau Diploma 4. Peserta juga harus memiliki potensi akademik baik berdasarkan rekomendasi objektif dan akurat dari Kepala Sekolah.

Sebelumnya, pada tahun lalu untuk peserta penerima beasiswa Bidik Misi ini kebanyakan berasal dari Sumsel, namun ada juga dari Aceh dan terjauh dari Kalimatan Timur.

“Kita akan persiapkan tim yang akan melakukan visitasi ke rumah peserta Bidik Misi ini. Visitasi ini juga bersamaan dengan peserta Bidik Misi lewat jalur SBMPTN,” jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Rektor Unsri, Prof Dr Ir Anis Saggaf, MSCE. Terkait penambahan kuota Bidik Misi ini sendiri, pihaknya optimis bisa disanggup oleh Kemenristekdikti. Sebab melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan berkomitmen untuk fokus pada peningkatan pembangunan SDM melalui berbagai upaya cerdas, salah satunya adalah Program Bidikmisi.

“Kami berharap Program Bidikmisi di tahun ini dapat berjalan lebih baik, terus  memberi asa generasi muda cerdas Indonesia dari seluruh daerah untuk menggapai pendidikan tinggi dan memutus mata rantai kemiskinan untuk Indonesia yang lebih sejahtera di masa depan,” ujarnya.

Hal ini terbukti dengan alumni penerima Bidikmisi yang mampu berkarir dengan sukses didalam dunia industri dan wirausaha. Menurutnya Bidikmisi telah terbukti dapat memutus rantai kemiskinan, maka tahun ini pemerintah berkomitmen dan melakukan inovasi dalam meningkatkan layanan Bidikmisi, diantaranya meningkatkan kuota penerima Bidikmisi menjadi 130.000 penerima seluruh Indonesia.

Baca Juga :   Setiap Hari, Satu Unit Motor Pasti Hilang

“Jumlah ini meningkat 44% dibandingkan tahun 2018, dengan pengalokasiannya untuk PTN, PTS termasuk Vokasi dan mahasiswa,” jelasnya.

Selain itu juga pemerintah telah mengalokasikan Bidikmisi pada Program Profesi Guru (PPG) selain profesi dokter, dokter gigi, dokter hewan, ners dan apoteker yang telah ada sebelumnya. Lalu menambah alokasi penerima Bidikmisi khusus mahasiswa difabel.

“Integrasi data Bidikmisi dengan pangkalan data Kemendikbud dan Kemensos untuk mendorong proses penerimaan yang lebih transparan, akuntabel dan tepat sasaran.
Untuk meningkatkan layanan Bidikmisi, saat ini telah dikembangkan Bidikmisi Apps yang mempunyai fitur menampilkan data diri, prestasi mahasiswa, informasi pencairan dan pembayaran elektronik, tracer study, informasi terbaru serta fitur lapor, yang diharapkan akan mempermudah penerima mendapatkan informasi mengenai Bidikmisi,” tegasnya.

Adapaun Pendaftaran calon mahasiswa Bidikmisi untuk tahun 2019 dilakukan melalui jalur SNMPTN, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Penelusuran Minat dan Kemampuan Politeknik Negeri (PMDK-PN), Ujian Masuk Politeknik Negeri (UMPN) serta Seleksi Mandiri pada PTN dan PTS.

“Mekanisme pendaftaran Bidikmisi melalui jalur seleksi SNMPTN dan SBMPTN pada tahun 2019 mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun 2018 karena adanya transformasi dalam sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru, tahun ini pemerintah membentuk Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT),” terangnya.(tet)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here