Iklan Iklan
Pemprov
Oleh: Dian Eka Sari

Transformasi Guru dalam Penerapan PJJ

Tanpa terasa, genap 10 bukan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau yang lebih dikenal dengan istilah belajar dari rumah (BDR) berlangsung pada Desember lalu. Terlepas dari pro dan kontra, baik bagi guru maupun peserta didik terhadap pelaksanaan program BDR, tetapi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mengatasi pandemi ini, telah memberikan dampak positif bagi guru di dalam peningkatan kompetensinya.

Dalam pembelajaran Abad ke-21, selain disertai literasi, 4C (critical thinking, communication, collaboration, and creative) juga melibatkan teknologi dalam penyampaian materinya, sehingga pembelajaran berbasis STEM (saint, technology, engineering, and mathematic) pun marak digunakan. Hanya saja kesiapan guru dalam penggunaan teknologi ini tidak semua merata. Atau masih banyak guru yang gagap teknologi, sehingga kesenjangan terjadi ketika peserta didik yang diajarkan adalah generasi Z, sedangkan rata-rata guru, terutama PNS yang mengajar adalah generasi V dan W. Ketika diminta belajar untuk menguasai teknologi, jawaban yang keluar adalah “biarkan yang lebih muda saja” atau “sebentar lagi akan pensiun”. Akibatnya, saat mengajar di kelas, tetap mengajar “apa adanya”.

Ketika terjadinya pandemi Covid-19, terutama ketika memasuki tahun pelajaran baru 2020/2021, guru dihadapkan pada kenyataan bahwa pembelajaran akan dilakukan secara jarak jauh atau belajar dari rumah, akan melibatkan penggunaan teknologi di dalamnya. Sehingga, guru pun “terpaksa” harus bertransformasi untuk menyesuaikan dengan keadaan. Nah, dari sinilah hikmah ketika terjadinya pandemi, justru guru dipaksa atau terpaksa harus meningkatkan kompetensinya, terutama dalam menguasi teknologi.

Selama terjadinya pandemi, antusias guru untuk belajar memang sangat terasa. Budaya gotong royong, sangat terlihat jelas di dunia pendidikan. Selama ini, seminar atau pelatihan yang digelar perguruan tinggi, organisasi profesi, atau kementerian, hanya bisa diikuti secara terbatas dan harus memenuhi beberapa persyaratan. Namun, di tengah musibah ini, beragam pelatihan bisa diikuti guru, syaratnya hanya menyiapkan perangkat, kemauan, dan kuota yang mumpuni. Dulunya, sangat tidak mengenal aplikasi Zoom, Google Meet, Webex, Google Classroom, Telegram atau beragam aplikasi lainnya. Saat ini, banyak guru yang mahir mengoperasionalkan aplikasi ini dalam proses pembelajaran di sekolah. Proses belajarnya pun tidak mengenal tanggal merah. Justru pada akhir pekan inilah, para guru tetap antusias untuk meningkatkan kompetensinya. Seperti yang diungkapkan oleh Dirjen GTK Iwan Syahril. Menurutnya dikutip dari antaranews.com, guru-guru di Indonesia akan berkembang jika diberikan kesempatan untuk belajar. Ketika pandemi ini, guru-guru telah memiliki growth mindset yang sangat aktif untuk belajar dengan beragam moda. Sebagai contoh, Program Guru Belajar selama Covid-19, Program Pendidikan Keterampilan Hidup, Program Bimtek Guru Pembimbing Khusus yang diadakan oleh Dirjen GTK telah diikuti oleh jutaan guru dari seluruh Indonesia.

Baca Juga :   Lahat Kembali Tunda Terima Piala Adipura

Tak cukup sampai di situ, budaya berbagi dan peningkatkan kreativitas guru juga terlihat dalam program guru berbagi. Dari laman ini, guru bisa dengan mudah mendapatkan perangkat pembelajaran yang bisa mereka gunakan, baik untuk pembelajaran dalam jaringan (daring) serta luar jaringan (luring). Guru juga bisa menyalurkan kreativitas menulis di laman ini dengan cara berbagi artikel mengenai pendidikan yang telah mereka tulis.

Transformasi yang paling kentara ketika guru saat ini “berubah” menjadi artis dengan mengajar di depan kamera. Berdasarkan pengalaman pribadi ketika mengikuti bimbingan teknis tatap muka yang diadakan oleh Badan Bahasa Kemdikbud RI dalam pembuatan media digital, para guru tidak malu lagi untuk berbicara di depan kamera, meskipun memang terlihat kaku. Usia tidak membatasi semangat belajar para peserta. Banyak peserta dengan usia di atas 50 tahun tetap semangat untuk membuat video pembelajaran yang menarik. Antarsesama peserta pun tak segan berbagi aplikasi yang bisa mereka gunakan dalam membuat video pembelajaran, seperti canva, powtoon, animaker, explee, video scribe, dan beragam aplikasi lain. Selama ini hanya membuat salindia “apa adanya”, saat pandemi ini, guru mampu menambahkan beragam animasi dan tampilan yang luar biasa.

Baca Juga :   Sebelum Dilimpahkan ke JPU, Polisi Musnahkan 106 Kg Ganja Kering

Dari perubahan selama berlangsungnya PJJ ini, akun Youtube dipenuhi dengan beragam video pembelajaran yang dibuat oleh guru-guru di Indonesia. Setidaknya inilah sumbangsih yang diberikan oleh para guru saat musibah ini menimpa seluruh dunia, di tengah banyaknya konten-konten unfaedah, guru memberikan warna dengan beragam video pembelajaran yang bisa digunakan para guru di seluruh Indonesia dalam pembelajaran di sekolah mereka. Dengan kata lain, selama pandemi guru telah bertransformasi menjadi Youtuber.

Mengutip pernyataan yang selalu diucapkan oleh Dirjen GTK Iwan Syahril, guru harus merasa nyaman dalam ketidaknyamanan, tampaknya guru saat ini sudah mulai nyaman dalam penerapan PJJ ini. Hanya saja memang, kenyamanan ini dirasakan bagi para guru yang sudah mampu meningkatkan kompetensinya dan menyesuaikan dengan keadaan. Bagi guru yang enggan, mereka akan tetap merasa terbebani. Guru tempat sekolah saya mengajar ketika ditanya mengenai rencana tatap muka, mengatakan bahwa ia sudah merasa nyaman saat ini dengan pembelajaran jarak jauh. Menurutnya, dengan PJJ ini dia bisa melakukan beberapa hal sekaligus. Contohnya, ketika dia ditugaskan mengikuti pelatihan tatap muka atau daring, ia bisa mengikuti pelatihan sekaligus tetap bisa mengajar siswa di kelasnya. Selain itu, bisa mengikuti beragam pelatihan dalam satu hari walaupun berbeda kotanya. Dengan demikian, pembelajaran jarak jauh telah memberikan dampak positif bagi guru untuk meningkatkan kemampuan sekaligus kompetensi mereka. Selanjutnya, diharapkan budaya untuk belajar ini tidak harus menunggu ‘terpaksa’ atau menunggu harus terjadinya bencana, tetapi dilakukan dengan kesadaran sendiri.


Penulis : Dian Eka Sari, SMP Negeri 54 Palembang

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Danrem Gapo Minta Perusahaan Perkebunan di Sumsel Contoh PT Sinar Mas dalam Penanganan Karhutla

Palembang, Detik Sumsel — Danrem 044/Gapo Brigjen TNI Agus Jauhari Suraji S.I.P.,S.Sos selaku Komandan Operasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *