Pemprov
Tampak bangunan usaha panti pijat yang berada di Desa Manggul, Lahat. Foto Heru/DS

Tempat Esek – esek Berkedok Panti Pijat Menjamur di Lahat

Lahat, Detik Sumsel — Meskipun saat ini, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Laha telah mencatat ada sebayak enam izin keberadaan usaha Panti Pijat. Kenyataannya, masih adanya usaha jasa itu yang belum terdata. Parahnya lagi, sejumlah panti pijat yang tidak terdata itu diduga hanya kedok belaka, nyatanya dijadikan tempat esek-esek.

Saat dikonfirmasi, Plt Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu ( DPMPTSP) Kabupaten Lahat, Drs H Ali Afandi MPd, melalui Kabid Energi dan Promosi Usaha, Damhari SE MM mengungkapkan, salah satu usaha panti pijat yang tidak mengantongi izin, berada di Desa Lebuay Bandung, Kecamatan Merapi.

Baca Juga :   Bobol Gudang Tempat Bekerja, Empat Pria Ini Diciduk Polisi

“Rencana sudah mau kita tertibkan bersama tim pemerintah daerah, karena meresahkan msyarakat sekitar. Tapi masih ditunda, akan kita koordinasikan lagi dulu,” ucapnya, Jumat (26/10).

Damhari menjelaskan, saat ini pihaknya mencatat ada enam yang telah mengantongi izin operasional, diantaranya, Panti Pijat Serasi, Desa Kota Raya, Panti Pijat Riski, Jalan RE marta dinata, Bandar Agung, Panti Pijat Qifari Jaya, Jalan Terminal Lembayung, Panti Pijat Putra Jalan A Yani pagar Agung, Panti Pijat Riski di Desa Merapi, dan panti pijat Gemini Desa Manggul.

“Untuk panti pihat diketahui ada enam, yang lain sudah tutup. Sedangkan untuk izin bangunan dan izin usahanya, dibuat terpisah. Kalau bangunannya sewa, melampirkan surat kontrak, bahwa yang bersangkutan bukan pemilik bangunan,” ucap Damhari.

Baca Juga :   Berantas Kemiskinan Melalui Pemanfaatan Dana Kas Masjid

Tidak adanya tindakan tegas dari instansi terkait, untuk melakukan penutupan bagi usaha panti pijat tak berizin. Rupanya membuat masyarakat bertanya-tanya. Pasalnya di dua tahun belakang, operasi terkait panti pijat yang disinyalir dijadikan tempat esek-esek itu gencar dilakukan. Sedangkan saat ini seakan dibiarkan berkembang.

“Pasti ada alasannya, kenapa tidak ada penutupan bagi yang tidak berizin. Entah itu belum ada perintah, atau karena ada hal lain. Kita berharap saja, semoga pemerintah kita tidak mudah terbujuk oleh si pemilik usaha,” ucap Hendra, warga Kota Lahat. (heru).

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC

About Heru Senovlan

Avatar

Check Also

Fokus Program Pemerataan

Kayuagung, Detik Sumsel– Luasnya daerah Ogan Komering Ilir (OKI) yang mencapai 19.023,47 Kilometer persegi (Km²) membuat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *