Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Nasional Tekan Cost Maskapai, Bambang Desak Pemerintah Bangun LCT di Setiap Bandara

Tekan Cost Maskapai, Bambang Desak Pemerintah Bangun LCT di Setiap Bandara

Tanggal : Pukul :
90
0
Bambang Haryo Soekartono

Jakarta, Detik Sumsel – Mantan anggota Komisi V DPR, Bambang Haryo Soekartono, mengemukakan pemerintah semestinya lebih serius menyelamatkan maskapai penerbangan nasional.

Dia merekomendasikan dibangunnya low cost terminal (LCT) di seluruh bandara dan secara bersamaan menekan kurs dolar AS sehingga pada level keekonomian untuk bisnis jasa angkuran udara.

“LCT ini tentu diiringi dengan menekan biaya parkir, biaya navigasi dan biaya-biaya lainnya, termasuk passenger service charge (PSC). LCT seperti itu amat dibutuhkan dalam rangka menekan cost maskapai,” tuturnya.

Dia menuturkan di begitu banyak negara, termasuk di Eropa, LCT dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan publik terhadap penerbangan low cost carrier (LCC).

Baca Juga :   Bambang Haryo Sebut Jembatan Penghubung Bangka-Sumatera Mubazir

Sejalan dengan pembangunan LCT, Bambang Haryo menuturkan pemerintah semestinya menekan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Dengan kurs Rp14.000-an/dolar AS, beban biaya maskapai semakin berat.

“Karena komponen biaya didominasi oleh penggunaan dolar AS. Kalau dolar makin mahal maka semakin membengkak biaya maskapai,” ujarnya.

Karenanya, dia mengutarakan sudah saatnya pemerintah mengerahkan dan memanfaatkan seluruh instrumen untuk menekan nilai tukar dolar AS.

Pada sisi lain, dia mengingatkan pemerintah untuk tidak membuat regulasi, yang menambah beban maskapai penerbangan.

Bambang Haryo juga menyoroti kinerja AirNav, yang dinilainya sangat minim. Setiap runway produktifitasnya hanya sekitar 20-35 takeoff landing per jam, padahal banyak bandara di negara lain sudah antara 75-100 take off landing per jam.

Baca Juga :   Berjiwa Sosial, Sujarwoto Rutin Berikan Bantuan Panti Asuhan

Contohnya Bandara Heathrow di London, dia mengutarakan produktiftasnya per runway 100 takeoff landing per jam, sedangkan Bandara Soekarno-Hatta dengan 3 runway, target menteri perhubungan hanya 118 takeof landing per jam.

“Dengan kinerja runway kita, pesawat yang akan landing atau mendarat harus putar-putar, istilahnya holding, dan yang akan takeoff terbang harus antre panjang. Akhirnya terjadi inefisiensi biaya BBM, bertambah banyak. Waktu banyak yang hilang airlane dan konsumen sangat dirugikan,” cetusnya. (tet)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here