Jajaran Redaksi Media Online DetikSumsel.com mengucapkan Maulid Nabi Muhammad SAW
Penghapusan Denda dan Bunga Pajak Kendaraan oleh Pemprov Sumsel
Saat pemaparan dari Narsum Bahaya TAR dari rokok melalui tembakau alternatif, Rabu (26/09).

Sumsel Duduki Peringkat 12 Perokok Terbanyak di Indonesia

Palembang, Detik Sumsel – Setelah sukses mengadakan roadshow di Jakarta, Bandung, dan Bali. Kali ini Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) kembali menggelar diskusi di Palembang. Bertempat di Riverside Benteng Kuto Besak (BKB), diskusi tersebut mengangkat topik mengenai pengurangan risiko kesehatan akibat bahaya TAR dari rokok melalui produk tembakau alternatif.

Bekerja sama dengan peneliti dari kalangan akademis, pemerhati kesehatan publik, dan pengamat hukum, dengan harapan dapat memberikan solusi dalam mengatasi masalah rokok khususnya di ibu kota provinsi Sumatera Selatan.

Diskusi tersebut menghadirkan beberapa narasumber seperti dr Mariatul Fadilah MARS selaku Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI), dr Ardini Raksanagara MPH Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dan Ariyo Bimmo SH LLM Pengamat Hukum, yang membahas tentang konsep pengurangan bahaya tembakau sebagai solusi untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia. Upaya menurunkan angka perokok dan meminimalisir risiko penyakit akibat rokok, hingga otensi produk tembakau alternatif di Indonesia dalam perspektif regulasi dan kesehatan.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, dr Ardini Raksanagara MPH mengatakan, perokok dan masyarakat luas perlu diedukasi mengenai zat berbahaya yang terkandung dalam rokok, seperti TAR. Karena dengan pemahaman yang utuh, seseorang bisa termotivasi dan akhirnya berpartisipasi aktif dalam gerakan menurunkan penyakit akibat rokok.

Baca Juga :   Konsumsi Miras di Pinggir Jalan, 10 Pemuda di Lahat Dicangking Petugas

“Perokok seharusnya punya akses informasi terhadap fakta ilmiah dan penelitian yang kredibel, sehingga mereka paham apa perbedaan TAR dan nikotin yang terdapat dalam rokok termasuk langkah alternatif yang dapat membantu mengurangi risiko kesehatan mereka. Seperti melalui pendekatan pengurangan risiko yang terdapat pada produk tembakau alternatif,” katanya, Rabu (26/9).

Hal ini merujuk pada data riset Kementerian Kesehatan, proporsi perokok terhadap jumlah penduduk di Sumsel telah mencapai 30,1 persen, menempatkannya sebagai provinsi dengan jumlah perokok tertinggi ke-12 di Indonesia. Tingginya angka perokok di kota ini membutuhkan suatu solusi yang komprehensif untuk menurunkan angkanya menjadi lebih rendah.

TAR merupakan zat berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk pada saat rokok dibakar. Zat ini merupakan penyebab perokok kerap mengalami penyakit jantung, pernapasan, serta kanker.

Sedangkan, nikotin adalah zat alami yang terdapat pada tembakau. Meskipun nikotin bukan penyebab penyakit akibat rokok, zat ini tidak bebas risiko dan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan ketergantungan. Selain pada rokok, nikotin juga terkandung dalam sayuran, seperti kembang kol, kentang, terung, dan tomat.

“Di tahun 2017, YPKP Indonesia melakukan penelitian untuk mengetahui perubahan sel pada mulut kelompok perokok aktif, pengguna rokok elektrik, dan non pengguna. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki jumlah inti sel kecil dalam kategori tinggi sebanyak 147,1. Sedangkan, pengguna rokok elektrik dan non perokok masuk dalam kategori normal, yakni berkisar pada angka 70-80. Jumlah inti sel kecil yang semakin banyak menunjukkan adanya ketidakstabilan sel yang merupakan indikator terjadinya kanker di rongga mulut,” jelasnya.

Baca Juga :   Kapolda Sumsel Perintahkan Anak Buahnya Lakukan Razia Tempat SPA dan Pijat

Sementara itu, Pengamat Hukum, Ariyo Bimmo SH LLM mengatakan, dengan jumlah pengguna produk tembakau alternatif yang semakin meningkat, yang berdasarkan data Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) pada tahun 2017 sudah mencapai lebih dari 1 juta vapers, maka penting bagi pemerintah untuk memformulasikan regulasi produk tembakau alternatif yang sesuai dengan tingkat risiko dan profil produk ini, dengan mengacu pada kajian dan bukti ilmiah.

“Karena apabila secara ilmiah produk tembakau alternatif terbukti memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok, maka sudah semestinya aturan pemerintah disesuaikan dan tidak seketat rokok,” katanya.

Lebih lanjut Ariyo meminta pemerintah Indonesia bisa berkaca dari Pemerintah Inggris yang melihat potensi produk tembakau alternatif dari hasil penelitian ilmiah.

“Secara hukum, produk ini memiliki landasan yang cukup kuat untuk dirumuskan dalam sebuah regulasi. Oleh karena itu, penting untuk mulai dilihat dari sudut pandang tersebut dan melakukan penelitian komprehensif agar potensinya tidak sia-sia,” tegasnya. (Bra)

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC
Lakukan Penukaran Uang

About Bara Revolusioner

Avatar

Check Also

Melihat Kemegahan Masjid Abdul Kadim Desa Epil Muba

Impor Marmer dari Italia Hingga Miliki Duplikat Broken Chair Jenewa Sekayu, Detik Sumsel- Berdiri megah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jajaran Redaksi Media Online DetikSumsel.com mengucapkan Sumpah Pemuda