Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Sumsel Berduka, Karhutla Renggut Paru-Paru Manusia

Sumsel Berduka, Karhutla Renggut Paru-Paru Manusia

Tanggal : Pukul :
1210
0
Penulis: Elvira Vinky

“Cegah Penyakit ISPA”

Indonesia dengan luas lahan gambut sebesar 22.5 juta hektare berada pada urutan kedua di dunia setelah Brazil dengan luas lahan gambut sebesar 31 juta hektare. Lahan gambut di Indonesia di dominasi di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Riau, Jambi dan Sumatera Selatan merupakan provinsi yang memiliki lahan gambut terluas di Sumatera. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel menyatakan luas lahan gambut di Sumatera Selatan mencapai 1.4 juta hektare. Lahan gambut ialah bagian dari lahan basah yang tinggi akan bahan organik namun dekomposisinya rendah. Lahan ini sering terbakar jika keadaan tanahnya kering terutama musim kemarau.


Penyebab kebakaran hutan 99.9% disebabkan oleh manusia seperti kegiatan konversi lahan, pembakaran vegetasi, pembakaran semak belukar dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. Faktor alam hanya sebesar 0.1% ditentukan oleh curah hujan, arah angin, petir dan larva gunung berapi. Dampak kebakaran hutan dalam bidang kesehatan ialah gangguan pernapasan seperti ISPA, pneumonia, bronchitis, asma dan iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit.

Tahun 2019 ini dampak kebakaran hutan di Sumatera Selatan menyebabkan peningkatan pada penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). ISPA ialah penyakit yang disebabkan karena virus dan bakteri, dimana virus ataupun bakteri menyerang hidung, trakea dan paru-paru manusia. Virus dan bakteri tersebut dapat tertular dari penderita ISPA pada orang lain melalui batuk, bersin dan cairan penderita.

Kelompok rentan penyakit ini ialah balita, anak-anak, lansia dan perokok aktif yang memiliki sistem imunitas rendah. ISPA harus segera ditangani karena ISPA menyebabkan penderita kekurangan oksigen sehingga menyebabkan kematian.

Gejala penyakit ISPA ialah pilek, batuk tanpa dahak, hidung tersumbat, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, bernapas cepat atau kesulitan bernapas dan kebiruan pada kulit akibat kekurangan oksigen. Faktor yang paling berpengaruh pada penyakit ISPA ialah lingkungan dimana terjadi pencemaran udara seperti karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang menyebabkan kabut asap, asap rokok, asap obat nyamuk dan asap dari pembakaran sampah dan lainnya.

Grafik kasus ISPA di Sumatera Selatan menunjukkan peningkatan yang signifikan dimana kasus ISPA selalu meningkat setiap bulannya pada 2019. Di Sumatera Selatan dari Bulan Januari hingga Agustus 2019 kasus ISPA melonjak pada Bulan April 2019 dimana jumlah penderita sebanyak 55.237 orang dan terus menurun hingga Agustus 2019 sebanyak 34.583 penderita. Di Kota Palembang kasus ISPA banyak terjadi pada Bulan Maret 2019 sebanyak 16.769 orang dan mengalami penuruan setiap bulannya hingga Agustus menjadi 11.863 penderita.

Kasus ISPA di Musi Banyuasin terus meningkat setiap bulannya, pada Bulan Januari hanya 3.030 penderita dan melambung jauh pada Agustus 2019 mencapai 6.326 penderita. Hal ini disebabkan karena belakangan ini kebakaran hutan dan lahan sering terjadi di Musi Banyuasin. Sedangkan mulai Juli 2019 hingga saat ini daerah yang tidak terserang ISPA hanya di Lubuk Linggau dan Mura Utara.

Pemerintah berharap masyarakat segera melakukan tindakan pencegahan agar dapat terhindar dari penyakit ISPA dan jika masyarakat terserang ISPA maka segera lakukan tahap penanganan agar tidak semakin parah serta konsultasikan ke dokter jika gejala ISPA sudah tidak bisa ditolerir lagi. Beberapa komunitas di Kota Palembang membagikan masker kepada masyarakat pengendara sepeda motor di beberapa titik lampu merah.

Pencegahan penyakit ISPA dapat dilakukan dengan cara rajin mencuci tangan setalah melakukan aktivitas apapun, jangan memegang muka terutama bagian mulut, hidung dan mata saat sedang beraktivitas, gunakan masker saat keluar rumah, hindari kontak langsung dengan penderita ISPA, gunakan sapu tangan atau tisu saat batuk dan bersin, olahraga secara teratur, konsumsi makanan yang kaya akan vitamin C untuk meningkatkan imunitas, berhenti merokok dan lakukan vaksinasi MMR, influenza dan pneumonia.

Sedangkan bagi penderita ISPA hal yang dapat dilakukan ialah perbanyak istirahat dan minum air putih untuk mengencerkan dahak hingga mudah untuk dikeluarkan, mengonsumsi minuman lemon dan madu untuk meredakan batuk, saat tidur gunakan bantal tambahan untuk memposisikan kepala lebih tinggi, berikan inhalasi uap seperti menghirup uap dari semangkuk air panas yang telah di campur dengan minyak kayu putih untuk meredakan hidung yang tersumbat dan berkumur dengan air garam untuk meredakan sakit tenggorokan.


Penulis: Elvira Vinky, Mahasiswi IKM Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here