Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Muara Enim Somad Mengais Rezeki di Ring 1 PT BA

Somad Mengais Rezeki di Ring 1 PT BA

Tanggal : Pukul :
226
0
Tampak Somad Pemulung bekas botol plastik saat kegiatan panjat pinang di Lapangan Saringan, Tanjung Enim.

Muara Enim, Detik Sumsel – HUT PT BA ke 38 dan 100 tahun penambangan diperingati dengan gegap gempita, yang memecahkan Rekor Dunia dan Rekor Muri. Salah satunya, dapat dilihat kegembiraan peserta panjat pinang dilapangan Saringan Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul belum lama ini. Namun, disisi lain tampak seorang warga yang diketahui namanya Somad (56) Warga Tanjung Enim, tampak asyik seakan tak perduli  dengan kegiatan dan mencari pelastik bekas, seperti botol air mineral dan lainya yang bisa dijualnya.

“Inilah pekerjaan saya,  Pak.  Yah,  kalau tidak mencari barang bekas dan botol air mineral kosong,  bagaimana saya bisa memperoleh uang untuk membeli beras bagi istri dan anak-anakku, ” ujar Somad.

Dikatakan dia, pekerjaan Somad sehari-hari memang  mencari barang-barang bekas yang dijualnya ke pengepul. Sebab sejak direlokasi dari kampungnya di Bukit Munggu, Kelurahan Pasar Tanjung Enim, ia sudah tidak memiliki pekerjaan tetap lagi.

“Dulu,  sebelum direlokasi PT Bukit Asam,  saya bekerja sebagai petani.  Sekarang saya sudah tidak ada lagi lahan setelah diambil alih perusahaan tambang terbesar di Indonesia tersebut, ”cetusnya.

Baca Juga :   Perwanida Bersama Roket Chiken Gelar Lomba Mewarnai

Sebenarnya, sebelum Somad melepaskan tanah dan tempat tinggalnya, ia sudah berpikir jauh terkait masa depan anak-anaknya.  Karena sebagian warga sudah melepaskan tanah dan tempat tinggalnya ke PT Bukit Asam, akhirnya Somad ikut-ikutan melepaskan lahan tempat tinggal yang sudah dihuninya  selama lima generasi.

Sebelum melepas lahan perkebunan dan tempat tinggalnya, mereka selalu mendapat intimidasi dari oknum tertentu. Dari tahun ke tahun,  tanah dan jalan tempat tinggalnya mulai bergerak dan bergetar. Bahkan tanah jalan yang berada sekitar 15 meter dari bibir tambang,  sudah mulai retak. Bahkan mereka hingga 50 centimeter.

“Saat itu saya takut bukan main.  Setelah berkoordinasi dengan istriku,  akhirnya kami melepas tanah perkebunan dan rumah tempat tinggal yang kami cintai itu ke PT Bukit Asam,” beber Somad sempat menitikkan air mata.

Setelah dua tahun ia tak ke kebun lagi,  akhirnya Somad memutuskan untuk bekerja sebagai pemulung. Meski pada awalnya ada perasaan malu,  tapi karena kebutuhan hidup lebih mendesak, akhirnya Somad menyandang karung plastik untuk mengumpulkan barang-barang bekas dari satu tumbunan sampah ke timbunan sampah lainnya.

Baca Juga :   Juarsah: Saya Terakhir Komunikasi Pak Bupati Senin Sore

Berapa penghasilan yang diperoleh dari barang-barang bekas  hasil pengumpulannya dari timbunan sampah? Kata Somad, tidak menentu.  Bahkan, semakin banyak pengumpul barang bekas,  penghasilannya saat ini semakin sulit. “Sulit sekali,  Pak.  Mencari uang Rp 20 ribu sehari,  saya harus membanting tulang ke sana-sini,” kata Somad sembari menyeka keringat yang mengucur di dahinya.

Dari pada tidak bekerja dan tak memiliki penghasilan,  ada baiknya ke luar rumah, mengais sampah yang ditemui untuk mencari botol plastik bekas air mineral dan barang lain yang bisa dijual ke agen pengepul barang daur ulang.

Melihat ada keramaian dalam lomba panjat pinang ini,  Somad pun mencoba mengais rezeki dari cangkir dan botol plastik bekas air mineral.  “Yah siapa tahu mendapat barang bekas yang lumayan.  Hasilnya bisa untuk menaflahi anak isteriku, ” tutup Somad.(ndi)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here