Pemerintah Sumatera Selatan
Pemerintah Musi Banyuasin
Beranda Refleksi Sholat dan Kesalehan Sosial

Sholat dan Kesalehan Sosial

Tanggal : Pukul :
317
0
Sholat dan Kesalehan Sosial
Oleh : Dr. H. Rosidin Hasan

Sholat adalah salah satu kewajiban ummat Islam yang harus dikerjakan setiap saat dan setiap hari dengan waktu-waktu yang telah ditentukan. Ibadah sholat ini menjadi ibadah mahdhoh yang sangat istimewa bagi Alloh dan Rosululloh serta ummatnya. Ada tujuan yang sungguh sangat mulia, mengapa  Alloh perintahkan Nabi Muhammad dan seluruh ummatnya untuk mendirikan sholat lima waktu dalam satu hari satu malam.


Disamping sholat adalah kewajiban bagi setiap orang muslim dan muslimah dengan syarat tertentu, sholat adalah ibadah yang paling istimewa dalam proses penyampaian perintahnya, termasuk dalam pelaksanaannya. Dari sisi penerimaan perintah sholat, perintah ini sangat berbeda dengan perintah-perintah kewajiban rukun Islam yang lain seperti Zakat, puasa Ramadhan dan haji. Terhadap perintah-perintah itu, Alloh menyampaikan perintahnya melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat Alloh, sedangkan perintah sholat Alloh mengundang langsung Rosulollah melalui peristiwa Isra Mi’raj untuk dihadirkan di hadapan Alloh Swt di Sidratul Muntaha.

Ada pelajaran yang sangat berharga bagi kita umat Rasulullah Muhammad Saw, pada saat Rasulullah menghadap Allah, setelah Rosululloh menyampaikan salam penghormatan kepada Alloh “Attahiyatu alamubarokatu asssolawatu attoyibutu lillah” seketika itu  Alloh menjawabnya “Salam dan rahmat Alloh tercurah kepadamu wahai nabi Muhammad” (Assalamu alaika ayuha annabiyyu warohmatu Allohi wabarokatuhu). Bagaimana sikap nabi Muhammad mendapatkan jawaban dari Alloh yang sungguh luar biasa terhadap diri pribadi nabi?.. nabi justra menyatakan “salam, rahmat dan berkah Alloh juga agar tercurah kepada orang-orang yang sholeh” (assamau alaina wa ala ibadillahi assholihin)

Dalam peristiwa dan moment yang sangat membahagiakan dan mengharukan perasaan  nabi Muhammad karena berhadapan langsung bertawajuh, beliau sangat tidak individual yang hanya untuk pribadi dan diri Rasulullah dan nabi selalu ingat dan memikirkan serta membagikan rahmat dan keberkahan Alloh  kepada umat beliau yang sholeh-sholeh.

Kesalehan Sosial dan Individual

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering mendengar pernyataan atau istilah  “kesalehan sosial dan kesalehan individual” kedua corak kesalehan ini mesti harus ada pada pribadi kita sebagai umat muslim. Pertanyaan kita apa yang membedakan terhadap corak kesalehan tersebut?,.. Dijelaskan oleh Dr. Helmiati Wakil Rektor I UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,..  Kesalehan Sosial  menunjuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai islami, yang bersifat sosial. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama; mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, mampu berempati, artinya  mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan seterusnya. Kesalehan sosial dengan demikian adalah suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, puasa, haji melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya. Sedangkann “Kesalehan individual” yang  kadang disebut juga dengan kesalehan ritual, adalah kesalehan yang hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bermasyarakat.  Pendek kata, kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba  formal, yang hanya mementingkan hablum minallah, tidak disertai hablum minan nas.

Lima Misi Besar Sholat

Dalam rangkaian pelaksanaan ibadah sholat, paling tidak ada lima misi utama yang ingin didapatkan oleh orang yang mendirikan sholat (muqimu asholat). yaitu thohuro, takbir, tahrim, takhosyu’ dan taslim.

Pertama “Thohuro” bersih dari najis dan hadats besar maupun kecil. Untuk menunakan ibadah sholat, maka seseorang harus bersih, tidak hanya dari najis yang mungkin secara matrial bisa dilahat secara kasaf mata, tetapi juga harus bersih dari hadats, sesuatu yang tidakan dapat dilahat secara kasaf. Kenapa? Karena orang yang sedang berhadats (besar maupun kecil) tidak dapat dibedakan dengan orang yang tidak berhadats. Disamping bersih dari najis dan hadats dalam bersholat seseorang juga harus suci pakaian yang dikenakan dan tempat sholat. Bahkan yang paling penting juga adalah sucinya hati orang yang akan menunaikan sholat.

Kedua “Takbir”. Sholat adalah pekerjaan yang diawali dengan takbir “Allohu Akbar” kalimat ini adalah kalimat untuk mengawali dialog seorang yang sholat dengan Alloh, yang berarti bahwa seluruh pengabdian seorang muslim didasarkan dengan Alloh yang Maha Besar, dan menyatakan diri bahwa dirinya adalah mahluk yang kecil, pangkat dan jabatannya kecil, harta dan bendanya kecil, pendeknya  selain Alloh adalah kecil……

Kertiga “Tahrim”, kalimat ini bersambung dengan takbir, yang para ulama menyebutnya sebagai “takbitu alihrom” yang berarti setiap orang yang sudah bertakbirutulihrom diharamkan untuk mengerjakan aktifitas lain selain dari prosesi sholat itu sendiri. Seperti makan dan minum walaupun sedikit, berbicara dengan orang lain sekalipun hanya satu kalimat yang diucapkan, mengerjakan sesuatu yang bukan bagian dari rukun-rukun sholat dan hal lain yang dapat memebatalkan sholat.

keempat “Takhosyu’”, dalam proses pelaksanaan sholat seseorang seharusnya menjaga kualitas sholat. Sholat yang berkualitas adalah sholat yang mampu menjadikan seluruh jasmaniyah dan ruhaniyah serta fikiran/angan kita fokus dan tertuju hanya kepada Alloh, tidak ada terlintas fikiran-fikiran lain selain hanya kepada Alloh. Karena seakan kita sedang diperhatikan oleh Alloh, atau paling tidak kita sedang dinilai oleh Alloh. Memang  benar,.. mendirikan sholat dengan khusyu dari mulai takbirotul ihrom sampai dengan salam agak sulit. Barang kali hanya orang-orang tertentu yang memiliki kualitas keimanan mereka kepada Alloh benar-benar sudah baik. Bagi kita yang yang imannya belum sebaik mereka, maka frekuensi kehusyuan sholatnya kadang menaik dan menurun. Kadang dalam pelaksaan sholat muncul fikiran dan angan yang bermacam-macam. Dari mulai ingat pada masalah pekerjaan dikantor bagi pegawai, masalah bisnis bagi pengusaha, masalah pelajaran pelajar dan mahasiswa, masalah belanja dipasar bagi ibu-ibu rumah tangga dan hal-hal lain yang dapat menipiskan kekhusuan kita, sehingga sholat kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan tidak membawa dampak kesalehan sosial

Kelima ‘Tasallam” ahir dari pelaksanaan mendirikan sholat, seorang sholat harus mengucapkan salam :”assalamualakum warurohmatullohi wabarokatuh” dengan disunahkan menoleh kekanan dan kekiri sebagai tanda kalau sholat sudah ditunaikan.

Implikasi Sholat dalam Kehidupan Sosial

Kelima nilai dan misi dalam pelaksanaan sholat tersebut seharusnya berimplikasi positif dalam kesalehan sosial bagi orang-orang yang mendirikan sholat, yang tercermin dalam prilaku, sikap dan perbuatan serta dalam bertutur-kata. Dari Takbirotul Ihram yang dengan kesadaran yang mutlak kita menyatakan dengan sesengguhnya bahwa yang maha besar adalah Alloh, yang berarti kita harus memperkuat kesadaran kita, bahwa kita ini sangat kecil tidak memiliki kehebatan dan kekuatan. Pernyataan ini seharusnya memunculkan sikap kerendahatian kita dalam kehidupan sosial, kita tidak boleh jumawa   dengan semua aksesoris kebendaan, keduniaan bahkan keilmuan yang ada dalam diri kita. Justru seharusnya semua anugerah kelebihan itu menjadi media untuk kita berkesolehan sosial ditengah masyarakat. Harta dan benda kita menjadi wasilah u8ntuk kita untuk berbagi kebahagian dengan orang lain menciptakan saling mengsihi dengan sesama ruhamau bainahum, ilmu yang kita miliki seharusnya menjadi pencerah dan penerang bagi masyarakat sekitar dengan dengan mengajarkan kepada mereka. “Takbirotul Ihrom” juga mengajarkan kepada kita sejatinya seorang yang melaksanakan dan mendirikan sholat seharusnya mampu untuk menghidarkan  diri dari hal-hal yang dilarang oleh Alloh, apalagi yang diharamkan oleh Alloh.

Demikian pula makna yang terkandung dalam ucapan “assalamualaikum” diahir sholat kita. Ini merupakan pelajaran penting bahwa orang yang mendirikan sholat harus menebar kedamaian dan menciptakan kesalehan sosial  ditengah masyarakat prularistik. Orang yang mendirikan sholat seharusnya menjadi model dan contoh kesalehan ditengah-tengah masyarakat, sholeh prilakunya, sikapnya, tutur katanya, perhatianya. Sehingga masyarakat merasa nyaman, merasa aman, mersa damai dengan keberadaan kita bersama mereka. Bahkan kepada orang yang berlainan agamapun  mereka merasa damai dan terlindungi walaupun mereka jumlahnya minoritas. Sebagaimana pesan Rosululloh “afsu assalam” kita diminta untuk menebarkan salam (kedamain) kepada siapapun baik yang kita kenal maupun yang belum keta kenal. Sebagaimana yang sering disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Makruf Amin Wakil Presiden RI, sholat kita harus memberikan manfaat dan mashlahat terhadap orang lain, bahkan tidak hanya manfaat dan maslahat  kepada manusia, tetapi juga bermanfaat dan maslahat bagi alam semerta Rohmatan lil alamin.


Penulis: Dr. H. Rosidin Hasan. Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here