Iklan Detik Sumsel

Selamatkan Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo

0
149
Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo dulu dan sekarang. (Ist) - Dudy Oskandar: Jurnalis dan juga pemerhati sejarah Sumsel
Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo dulu dan sekarang. (Ist) - Dudy Oskandar: Jurnalis dan juga pemerhati sejarah Sumsel

KALAU kita melintas di Jalan Ki Ranggo Wiro Sentiko Kecamatan Ilir Barat IB II Palembang mungkin tidak ada sesuatu hal yang aneh atau yang unik yang kita lihat  namun jika kita masuk ke belakang tepatnya di belakang Ruko Indomaret atau di belakang bekas kantor Polisi Militer maka akan menemukan sebuah bangunan  bernilai asitektur tinggi dari budaya dan seni dari zaman Kesultanan Palembang Darusalam yang akan membuat kita berdecak kagum atas bangunan tersebut.

Bangunan tersebut adalah Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo (Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko) yang merupakan  komplek pemakaman tokoh penting di Kesultanan Palembang Darusalam yang merupakan tempat dimakamkannya salah seorang tokoh dari masa Kesultanan Palembang Darussalam yaitu di masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I) dan keluarganya, dialah adalah Ki Ranggo Wiro Sentiko yang saat itu menjabat sebagai menteri di masa SMB I.

Dari sisi letaknya, lokasi komplek pemakaman ini memang agak tinggi sehingga ketika kita akan menuju ke komplek pemakaman ini jalannya agak menanjak dan wajar kalau pemakaman zaman dulu lokasi pemakaman di kota Palembang di letakkan di lokasi yang tinggi lantaran Palembang dahulu banyak dataran rendah yang kebanyakan sungai dan perairan.

Sayang bangunan ini  kini terlantar dan terbengkalai dan dikelilingi pemukiman warga, sejumlah tembok dalam bangunan tersebut ada yang roboh lantaran selama ini tidak ada upaya penyelamatan bangunan bersejarah ini.

Berdasarkan catatan dalam buku  Sejarah Melayu Palembang, 1930, RM. Akib dan buku 101 Ulama Sumsel, 2012, Kms.H.Andi Syarifuddin menjelaskan asal mula dibangunnya Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko dimana pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Lemabang (1724-1757), ia diangkat oleh sultan menduduki jabatan menteri. Dalam tahu 1728, ia diperintahkan oleh sultan mulanya untuk membangun komplek gubah pemakaman ungkonan sultan-sultan Palembang di Tanah Talang (sekarang disebut Talang Keranggo menurut namanya, di kelurahan 30 ilir). Selang tiga hari kemudian, selesailah gubah yang mempunyai seni arsitektur tinggi tersebut. Sultanpun pergi meninjau ke lokasi, namun setelah diamat-amati, bertitahlah sultan kepada Wiro Sentiko.

“Sungguh bagus kerjaanmu itu, Sentik. Tetapi gubah itu untuk perempuan kau perbuatkan. Bukan untuk aku, sebab memakai sumping. Sebab itu, ambil sajalah untukmu.”Kata Sultan.

Seminggu kemudian, tepatnya hari Jum’at, 1 Rajab 1140H atau 12 Februari 1728, Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Wiro Sentiko pergi melihat lokasi tanah lain di Lemah Luhur (tanah tinggi). Setelah mufakat, lalu diperintahkan kepadanya agar lokasi itu diratakan dengan ditimbuni tanah merah. Itulah maka disebut Lemah Abang (Lemabang) sekarang ini. Dilokasi inilah dibangun komplek pemakaman SMB l dan keluarga besar Raja-Raja  Palembang yang dikenal dengan sebutan astana “Gubah Kawah Tekurep” yg kini menjadi situs cagar budaya & objek wisata, berlokasi di 3 Ilir Palembang.

Semenjak itu, Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggodigunakan komplek pemakaman oleh Ki Ranggo Wiro Sentiko beserta keluarga dan para keturunannya.

Siapakah Kemas Kiranggo Wiro Sentiko

Tokoh penting di Kesultanan Palembang ini tidak saja alim dalam bidang agama, tetapi juga ahli dalam bidang arsitektur bangunan sekaligus menjabat sebagai menteri kerajaan.

Baca Juga :   Budaya Baca dan Masa Depan Pembangunan Manusia

Nama lengkap beliau  Kemas Kiranggo Wiro Sentiko bin Kemas Ranggo Diwangso bin Kms.  Ngabehi Rakso Upayo bin Kms. Temenggung Yuda Pati alias Khalifah Kecik.

Ia dilahirkan di Palembang pada jaman pemerintahan Sultan Muhammad Mansur Kebon Gede (berkuasa 1706-1714). Pendidikan dasarnya diberikan oleh ayahnya sendiri di lingkungan keraton, karena ayahnya menjabat sebagai Kepala Penjaga Istana Kuto Cerancangan (17 ilir sekarang) pada masa Sultan Agung Komaruddin (1714-1724). Selain itu, Wiro juga mendapat gemblengan dari para ulama besar lainnya, seperti: Tuan Faqih Jalaluddin, Sayid Hasan Idrus, Kgs. Jakfar bin Khalifah Gemuk dan lain-lain.

Wiro sentiko ketika di era Sultan Agung ini menjabat sebagai asisten ayahnya menjadi Kepala Penjaga Istana. Pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Lemabang (1724-1757), ia diangkat oleh sultan menduduki jabatan menteri. Kiranggo Wiro Sentiko sendiri dikuburkan di Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo yang dibangunnya sendiri ini, yabg kini kondisinya tidak terawat dan sangat memprihatinkan.

Padahal di sini dimakamkan para tokoh  ulama penting. Hingga akhir hayatnya Wiro mempunyai beberapa orang isteri, diantaranya ialah Nyi Ranggo. Dari perkawinannya ia memiliki beberapa putra-putri, antara lain ialah Nyimas Hatimah yang menjadi menantu SMB l, dan Kemas Ranggo Wiro Diprano Delusin (w.1803). Seluruh zuriat keturunannya dimakamkan di ungkonan ini.

Nama Kiranggo Wiro Sentiko sekarang diabadikan menjadi sebuah nama jalan yg melintas di kawasan 30 ilir Palembang.

Lama Terlantar

Sejak beberapa kali kota Palembang memiliki Walikota Palembang komplek pemakaman ini jarang di sentuh atau bahkan tidak pernah disentuh untuk diperbaiki atau mendapatkan perhatian dari pemerintah kota Palembang.

Akibatnya bangunan ini banyak terjadi kerusakan sejumlah tembok sudah ada yang runtuh dan perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah kota Palembang.

Jumat (17/2/2017) pagi komplek pemakaman ini dibersihkan jajaran pihak Dinas Kebudayaan Kota Palembang di pimpin Kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang Sudirman Teguh dibantu kalangan zuriat Kesultanan Palembang Darusalam dan masyarakat kota Palembang setelah beberapa hari sejumlahnya di tinjau lebih dahulu.

“Selama ini setiap jumat kita gelar senam bersama, namun sekarang kita ganti dengan kegiatan bersih-bersih makam. Khusus hari ini (kemarin,red), kita bersihkan makam Ki Ranggo Wirosentiko. Apalagi selama ini, makam tersebut kurang terawat baik oleh warga sekitar maupun zuriat atau keturunan dari Ki Ranggo Wirosentiko,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sudirman Teguh di dampingi Camat Ilir Barat II, A Halim Machmud kepada sejumlah wartawan.

Dijelaskan Sudirman, setelah hari ini dibersihkan, maka langkah selanjutnya dengan perbaikan dan pemugaran. Apalagi diakui mantan Kepala DP2H Kota Palembang tersebut, di Palembang ini terdapat 20 makam bersejarah baik dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang maupun Kesultanan Palembang Darussalam.

“Bila kita tidak memiliki kepedulian terhadap makam sejarah ini, maka lambat laun makam ini akan beralih fungsi. Bahkan ada beberapa makam sejarah yang beralih fungsi dan dibangun ruko, dan ini yang kita sayangkan.  Dan untuk perbaikan dan pemugaran, kita akan libatkan dari BUMN maupun BUMD yang ada di Kota Palembang,” katanya.

Baca Juga :   Ingin Dibawa Kemana Banyuasin?

Di samping itu, menurut Sudirman, tanpa adanya makam bersejarah ini, keberadaan Kota Palembang tidak akan pernah ada. Terlebih lagi, makam-makam bersejarah ini memiliki hubungan historis sejarah langsung dengan keberadaan Kota Palembang. “Kalau tidak kita mulai dari sekarang, generasi muda akan banyak tidak tahu dengan sejarahnya. Tanpa sejarah, kita tidak akan pernah ada dan mengetahui asal mula Palembang,” katanya . Untuk saat ini difokuskan pada pendiri Kota Palembang dan zuriatnya.

Selain itu, dirinya juga menghimbau ke seluruh zuriat atau keturunan juga memiliki kepedulian yang sama dengan masyarakat lainnya. “Kalau zuriatnya saja tidak punya keinginan untuk merawatnya, bagaimana masyarakat yang lain akan ikut merawatnya,” katanya.

Selain itu setelah makam ini dibersihkan maka akan di siram dengan pestisida agar tanaman liar tidak lagi tumbuh di makam tersebut selanjutnya akan dilakukan perbaikan untuk makam tersebut dengan terlebih dahulu di kaji oleh tim arkeologi makam tersebut.

Segera Selamatkan

Berkaca dari permasalahan tersebut sudah seharusnyaUngkonan Astana Gubah Talang Keranggo (Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko) diselamatkan , jika perbaikan tersebut hanya mengandalkan bantuan dana Corporate Social Resposibility (CSR) dari perusahaan belumlah cukup.

Seharusnya pemerintah pusat juga harus membantu perbaikan dan merestorasi makam ini dan sudah sepantasnya komplek ini dijadikan kawasan cagar budaya nasional yang harus diselamatkan.

Karena kedepan Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo (Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko) selain bisa dijadikan objek wisata juga menjadi lokasi pembelajaran seni arsitektur nasional.

Mencermati upaya rehabilitasi Candi Borobudur setelah letusan Merapi 2010, UNESCO telah menyumbangkan dana sebesar 3 juta dollar AS untuk mendanai upaya rehabilitasi Candi Borobudur . dengan membersihkan candi dari endapan debu vulkanik akan menghabiskan waktu sedikitnya 6 bulan.

Disusul penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem tata air dan drainase yang tersumbat adonan debu vulkanik bercampur air hujan. Restorasi berakhir November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.

Kenapa upaya seperti yang dilakukan di Candi Borobudur tidak dilakukan juga di  Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo (Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko) dan kalau perlu makam-makam bersejarah lainnya yang ada di kota Palembang.

Perlu adanya komitmen yang kuat dari pihak Pemkot Palembang, Pemprov Sumsel dan pemerintah pusat untuk  merestorasi Ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo (Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko), tanpa itu maka ungkonan Astana Gubah Talang Keranggo (Gubah Ki Ranggo Wiro Sentiko) hanya terlihat sebagai reruntuhan tanpa makna.

Sudah selayaknya pihak Pemkot Palembang, Pemprov Sumsel melakukan lobi ke pusat untuk meminta bantuan pusat untuk menyelamatkan bangunan bersejarah ini.  (Oleh Dudy Oskandar: Jurnalis dan juga pemerhati sejarah Sumsel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here