Pemerintah Sumatera Selatan
ACT GLOBAL QURBAN
Beranda Nasional Selamat Tinggal Bensin, Selamat Datang Biofuel

Selamat Tinggal Bensin, Selamat Datang Biofuel

Tanggal : Pukul :
224
0
Bupati Muba Dodi Reza saat melihat-lihat biofuel yang sudah dilakukan pengujian di ITB.

Palembang, Detik Sumsel- Keterbatasan bahan bakar fosil sebagai salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbarui di Indonesia menjadikan wacana untuk menciptakan sumber energi alternatif dari bahan baku lain yang jumlahnya masih melimpah dan dapat diperbarui. Terlebih, saat ini untuk bahan bakar (BBM) jenis Bensin yang semakin langkah diperoleh, bahkan untuk mendapatkan bbm jenis bensin ini kendaraan roda dua dan roda empat harus rela antrian panjang hingga memakan badan jalan raya.

Menyiasati hal tersebut, Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS) akan mengelola inti kelapa sawit menjadi menjadi bahan bakar nabati atau biofuel. Peluang ini dianggap sangat strategis untuk menciptakan sumber energi alternatif, terlebih Dodi juga membaca peluang bahwasannya pihak Pertamina Refinery Unit III telah menyiapkan kilang dengan kapasitas 30.000-40.000 KL/bulan khusus untuk menampung biofuel.

“Saat ini Pemkab Muba sedang menuju pembuatan biofuel yang berbasis sawit, Muba dengan memiliki potensi kelapa sawit yang cukup luas berkeinginan untuk melakukan transformasi industri sawit sehingga akan bisa mendongkrak haga jual TBS kelapa sawit pekebun, kalau inovasi ini direalisasikan, perlahan kita akan meninggalkan bensin, oleh sebab itu kami bersama ITB dan BPDP-KS bekerjasama dalam merealisasikan terobosan inovasi energi terbarukan biofuel ini,” terangnya.

Dodi menambahkan, upaya pembenahan tersebut diharapkan mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat dan berkelanjutan.

“Kita juga nantinya berencana akan membangun mini refinery untuk penampungan sementara, dan sebagai langkah awal, produksi turunan dari tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT. Pertamina di Plaju, Palembang,” bebernya.

Baca Juga :   Dodi Reza Apresiasi Warga Muba Jaga Kebersihan

Kemudian, mantan anggota DPR RI dua periode ini juga menambahkan setelah berjalan nantinya di tahap awal dirinya akan mewajibkan seluruh kendaraan dinas di lingkungan Pemkab Muba menggunakan bahan bakar atau biofuel tersebut untuk operasional.

“Dalam waktu dekat MoU akan segera kita lakukan bersama ITB dan BPDP-KS untuk segera merealisasikan ini, dan nantinya tahap awal kendaraan dinas di Pemkab Muba wajib pakai bio fuel Muba ini sebagai wujud implementasi pemanfaatan energi terbarukan dan sustanaible atau berkelanjutan,” ulasnya.

Sementara itu, untuk tahapan proses pengelolaan minyak nabati dari inti kelapa sawit yakni dimulai dari proses perengkahan – LPG – Biogasoline/green gasoline. Secara umum minyak nabati dapat terurai secara biologis dan lebih sempurna (lebih dari 90% dalam waktu 21 hari) daripada bahan bakar minyak bumi (sekitar 20% dalam waktu 21 hari).

Diketahui, pada Januari lalu Pertamina Refinery Unit III melakukan Launching Perdana Bahan Bakar Ramah Lingkungan Biofuel (B-20) di Kilang RU III Plaju.

GM RU III Plaju, Yosua I. M Nababan mengatakan, B20 ini merupakan
komitmen Pemerintah sesuai Permen ESDM No 41 Tahun 2018 untuk menerapkan penggunaan campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar dengan minyak nabati (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) sebesar 20 persen yang diproduksi oleh Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN).

Menurutnya, pihaknya telah melakukan improvement baik dari segi sarfas penerimaan FAME maupun produksi B-20 dalam tempo yang cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000-40.000 KL/bulan.

Dikatakan, FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui RPM (Rumah Pompa Minyak) Fuel di area storage tanki untuk dilakukan blending Solar sebagai B-20 untuk kemudian di lifting melalui sarfas existing baik via kapal maupun pipeline ke TBBM wilayah Sumsel dan Lampung. “Kami berterima kasih atas apresiasi Menteri ESDM RI saat kunjungannya ke RU III lalu. Menciptakan energi bersih menjadi prioritas kami sebagai Green Refinery pertama di Indonesia,” sambungnya.

Baca Juga :   Pelaku Curas Sadis, Diamankan Tim Srigala

Selain untuk memenuhi Regulasi, injeksi FAME sebanyak 20% ke dalam produk solar dapat memberikan potensi improvement kualitas finish product.

Pjs General Manager MOR II, Hendrix Eko Verbriono, mengatakan, “Keunggulan B-20 ini memiliki CetaNe number diatas 50 yang artinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan CetaNe number Solar murni yakni 48. Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan.”Kerapatan energi pervolume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk Diesel tersebut”, tuturnya.

Penerapan Bahan Bakar Ramah Lingkungan ini tentunya juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara.

Melalui pemanfaatan Minyak Sawit ini, selain menyejahterakan Petani Sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dari Business as Usual (BAU) pada tahun 2030.

RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500 – 5.000 KL/hari. Saat ini secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan Biosolar (B-20) 180.000-200.000 KL/bulan.

“Ini merupakan bagian dari upaya Pertamina menjamin ketahanan stok BBM Ramah Lingkungan di pasaran,”
ulasnya.

Ke depan pihaknya akan terus melakukan inovasi diantaranya langsung mengolah CPO di dalam kilang untuk menghasilkan green fuel berupa green gasoline, green diesel dan green avtur.(tet)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here