Pemerintah Sumatera Selatan
Beranda Refleksi Sejarah Baru SDM Sumsel

Sejarah Baru SDM Sumsel

Tanggal : Pukul :
365
0
Sejarah Baru SDM Sumsel
Oleh : Evi Rosiana, SST, M.Si

Baru-baru ini Provinsi Sumatera Selatan mengukir sejarah baru dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Sejarah baru ini ditandai dengan naiknya kualitas SDM Sumsel dari sedang menjadi tinggi. Badan Pusat Statistik di awal Februari 2020 mengumumkan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumsel yang berhasil masuk pada level tinggi dengan nilai 70.02. Capaian ini mengukuhkan Provinsi Sumsel sebagai Provinsi dengan penduduk berkualitas tinggi.


Prestasi berupa predikat IPM tinggi sangat membanggakan. Apalagi tercapai di saat gencarnya program yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas SDM. Predikat IPM tinggi juga menunjukkan bahwa kualitas SDM Sumsel sudah dapat disejajarkan dengan Provinsi-Provinsi lain yang juga memiliki IPM tinggi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta.

Kualitas SDM menjadi prasyarat mutlak pembangunan. SDM yang berkualitas tinggi umumnya cepat tanggap menghadapi perubahan yang terjadi. Saat ini dunia berubah dengan sangat cepat. Perkembangan teknologi telah memasuki industri 4.0 dimana otomatisasi dan digitalisasi mengikis peran manusia dan digantikan dengan mesin.

Di tengah wabah Covid-19 yang melanda, digitalisasi menjadi sebuah sarana masyarakat dalam bekerja, belajar dan bermasyarakat. Dengan digitalisasi maka kebijakan bekerja dan belajar dari rumah dapat diterapkan. Dengan digitalisasi pula maka rumah dapat dijadikan ruangan kelas dan ruang bekerja.

Namun tentu perkembangan dunia digital bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi menjanjikan kemudahan. Di sisi lainnya memberikan tantangan. Hal ini sejalan dengan penelitian dari McKinsey Global Institute dengan judul The Future  of  Work In America : People and Places, Today and Tomorrow. Dalam penelitiannya tersebut tim peneliti McKinsey menemukan bahwa pemanfaatan teknologi akan berefek hilangnya berngsur-angsur beberapa profesi yang saat ini bisa menyerap banyak tenaga kerja. Contoh profesi tersebut yaitu pegawai administrasi, pelayan restoran, buruh pabrik dan pekerjaan lainnya yang bisa dilakukan secara otomatisasi dengan mesin. Meskipun penelitian ini berfokus pada lapangan kerja di Amerika, tetapi tidak menutup kemungkinan hasil penelitian ini bisa menjadi gambaran situasi lapangan kerja kita di masa depan.

Baca Juga :   Mencerdaskan Konsumen Sejak Dini

Berkaca dari hasil penelitian tersebut, meskipun kualitas SDM Sumsel sekarang sudah tinggi, tetapi tidak secara otomatis akan memperoleh pekerjaan yang layak. Karena itu tetap diperlukan campur tangan pemerintah dalam menciptakan iklim kondusif agar SDM Sumsel yang berkualitas dapat meningkat kesejahteraannya melalui pekerjaan layak.

IPM Tinggi VS Pekerjaan Layak

Setidaknya terdapat tiga komponen yang digunakan dalam mengukur tingginya kualitas manusia. Ketiga komponen tersebut yaitu kesehatan, pendidikan dan standar hidup layak. United Nations Development Programme (UNDP) mengukur kualitas manusia melalui Human Development Index (HDI) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM di Indonesia dihitung oleh BPS dengan mengacu pada konsep dan metodologi UNDP tersebut.

Pada tahun 2019 ketiga komponen IPM yaitu kesehatan,pendidikan dan standar hidup layak di Sumsel meningkat. Saat ini umur harapan hidup penduduk Sumsel telah mencapai 69,65 tahun. Sektor pendidikan juga mengalami peningkatan dimana harapan lama sekolah penduduk Sumsel adalah 12,39 (setara Diploma I). Begitu pula dengan rata-rata lama sekolah penduduk Sumsel meningkat menjadi 8,18 tahun (setara kelas VIII). Sedangkan pengeluaran per kapita per tahun penduduk Sumsel meningkat menjadi 10,9 juta per kapita per tahun pada 2019.

Baca Juga :   Kongres Alumni FISIP Unsri, Untuk Siapa?

Di sisi lain peningkatan kualitas SDM Sumsel akan ideal jika dibarengi penciptaan lapangan kerja layak. International Labor Organization (ILO) mempunyai visi dan misi bahwa semua orang berhak mendapatkan pekerjaan yang layak (decent work). Mengapa pekerjaan yang layak?, karena dengan pekerjaan yang layak lah persoalan mendasar seperti kemiskinan, pendidikan rendah, kerawanan sosial politik dan lain sebagainya dapat diminimalisir.

Pekerjaan layak merupakan aspek utama dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Pekerjaan layak yaitu pekerjaan yang produktif yang memiliki kebebasan (freedom), persamaan (equity), keamanan (security) dan bermanfaat (human dignity). Dalam cara lain juga diartikan sebagai pekerjaan yang dilakukan atas kemauan sendiri, memberikan penghasilan yang cukup untuk membiayai hidup secara layak dan berharkat, serta terjamin dari keamanan dan keselamatan fisik maupun psikologis.

Pekerjaan layak patut diupayakan. Karena dengan pekerjaan layak keadilan sosial dapat dicapai. Memiliki pekerjaan layak membebaskan manusia dari rasa takut akan kelaparan, kekurangan biaya pendidikan dan kekurangan biaya kesehatan. Dengan pekerjaan layak setiap manusia juga bebas dari rasa cemas dan stress karena mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam bekerja serta sarana aktualisasi diri. Semoga saja selain setelah berhasil meraih predikat IPM tinggi, selanjutnya Sumsel dapat mewujudkan meratanya pekerjaan layak.


Penulis: Evi Rosiana, SST, M.Si., PNS pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here