Penghapusan Denda dan Bunga Pajak Kendaraan oleh Pemprov Sumsel
Kondisi pengungsian di Desa Tondo, Vatutela, Palu Barat
Kondisi pengungsian di Desa Tondo, Vatutela, Palu Barat

Sebulan Berlalu, Palu, Sigi, Donggala Fokus Pemulihan

Palu,  Detik Sumsel,- Deretan nama di papan kayu itu mulai terlihat pudar. Tertulis jelas di atas papan nama-nama korban ditemukan dan korban hilang akibat tsunami yang menerjang Kompleks Muara, sebuah perumahan nelayan yang berada di pinggiran Dermaga Pelabuhan Donggala.

Minggu (28/10) lalu, tepat sebulan dimana gelombang besar meluluhlantakan, bahkan menenggelamkan puluhan rumah persis di titik papan kayu itu dipasang.
Daratan seakan ikut tertelan bumi, ratusan bahkan ribuan manusia masuk kedalaman bersama rumah dan harta benda mereka tanpa ada yang tersisa.

Sebulan berselang pasca bencana besar itu, deretan nama-nama korban yang hilang, belum berubah. Masih ada 12 orang warga Kompleks Muara di Donggala yang hilang tanpa jejak.

Nampak nama-nama korban yang belum ditemukan dan masih hilang akibat tsunami di Kampung Muara, Pelabuhan Donggala masih menempel di papan pengumuman seadanya.
Begituan di  Kota Palu. Poster-poster yang dicetak di atas kertas A4 bertebaran di tiang-tiang listrik atau di tembok-tembok pinggir jalan. Poster sederhana itu mengabarkan duka dan kabar kehilangan.
Biasanya tertera satu buah foto, disertai dengan tulisan besar “Dicari”, ditambah keterangan “Anak Hilang Balaroa” atau “Terakhir terlihat di Pantai Talise”.
Poster itu sengaja dibuat oleh keluarga terdekat, tanda harapan ditemukan masih ada.

Mereka berharap keajaiban menyelamatkan keluarga mereka yang diduga digulung tsunami di Pantai Talise atau diremukkan likuefaksi di wilayah Balaroa dan Petobo.
Sebulan sudah duka besar itu dikenang. Di Kota Palu, sisa puing-puing gempa, tsunami dan likuefaksi belum sepenuhnya dibersihkan, walau perlahan kota ini mulai ramai dengan kemacetan dan aktifitas lainnya.

Di Sigi dan Donggala, mayoritas warganya yang terdampak gempa sudah sebulan menghabiskan siang yang terik juga malam-malam yang dingin di bawah tenda terlalu seadannya.
Memasuki pekan keempat ini pula, remuk redam tak berbentuk di Perumahan Balaroa, imbas dari likuefaksi, mulai diratakan seluruhnya.

Baca Juga :   Ingin Ngangsu Pengalaman dari Tentara

Tak ada lagi pencarian jenazah. Pencarian yang berhenti menandakan satu pesan, keluarga yang belum menemukan sanak saudaranya di Perumahan Balaroa diminta untuk segera mengikhlaskan.
Sebulan pascagempa, tsunami dan likuefaksi, sudah tak ada lagi proses pencarian jenazah di Petobo. Ribuan rumah di lokasi ini, dibiarkan begitu saja terkubur oleh lumpur. Lumpur yang keluar dari bawah tanah, lumpur yang bergerak liar sesaat setelah gempa besar sebulan lalu.
Teronggok dan menjadi saksi mati pun berlaku bagi Kapal Sabuk Nusantara 39. Sebulan lalu, ketika gelombang tsunami menerjang Pelabuhan Wani, kapal ini terempas, meloncat ke daratan. Kapal itu sampai hari ini masih dibiarkan termenung senyap.
“Biarkan saja di situ kapalnya, biar jadi museum. Jadi pengingat pernah ada tsunami besar di Kota Palu,” kata Aco, penyintas tsunami yang selamat. Rumahnya di belakang Pelabuhan Wani rata dengan tanah dihajar gelombang tsunami.

Sedangkan di pengungsian, Tondo, Vatutela, secerca semangat untuk bangkit meski dipupuk dengan air mata oleh Andayani, seorang ibu berusia 35 tahun asal Dusun 1, Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi ink
Tepat di hari ulang tahun sebulan pascagempa, Andayani menitipkan harapannya yang sederhana.
“Kami ini sudah sebulan tinggal di tenda. Tidak mengharap banyak. Kami ingin seperti dulu, tapi bukan ingin punya rumah. Kami hanya ingin anak-anak tetap sekolah. Tidak banyak berharap. Cuma itu saja. Makanan, obat-obatan. Karena anak-anak masih kecil, yang balita, kan, tidak tahu apa-apa,” kata Andayani, sembari meluapkan air matanya.

Andayani mengisahkan pula tentang rumahnya yang hancur akibat guncangan gempa, Jumat (28/9) sebulan silam. “Rumah kami runtuh total. Tidak ada lagi biar satu tiang berdiri. Tidak bisa dihuni lagi,” ujarnya.
Andayani tak mengharap muluk. Sebulan setelah gempa, ia tak berhenti mengucapkan syukur.
“Untuk sekarang ini alhamdulillah sudah sangat cukup di tenda seperti ini. Biarlah dulu begini hanya punya tenda. Yang penting makanan tercukupi. Karena anak-anak, kan, juga banyak di sini. Kalau kami orang tuanya masih bisa makan pisang, pepaya. Namun untuk anak-anak, kan, dia tidak tahu apa-apa, mereka tidak tahu mengapa hidup susah begini setelah gempa,” kata Andayani, sekali lagi menyeka air matanya.

Baca Juga :   Mimpi Warga Jatiwarno Terwujud Berkat TMMD Kodim Karanganyar

Satu bulan terlewati, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghitung jumlah pengungsi di seantero Palu-Sigi-Donggala mencapai 206.524 jiwa. Statistik pilu lain menyatakan gempa, tsunami, dan likuefaksi menyebabkan 2.086 korban meninggal dunia, sementara korban hilang mencapai 1.309 jiwa.

Bergegas memulihkan Palu-Sigi-Donggala, Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga masih terus berjibaku, bergerak dari desa ke desa, dari kecamatan ke kecamatan. Aksi kemanusiaan dipastikan merata dari posko-posko kemanusiaan ACT yang tersebar di Palu, Sigi, Donggala, bahkan sampai ke Parigi Moutung.

Menjejak hitungan sebulan pascagempa, upaya membangun kembali hunian bagi ribuan pengungsi juga sudah dimulai oleh ACT. Sampai Minggu (28/10) sudah ada lima lokasi Integrated Community Shelter (Hunian Nyaman Terpadu) yang bakal dibangun ACT untuk penyintas gempa, tsunami dan likuefaksi.

Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President ACT, mengatakan, lokasi ICS ACT  tersebar di wilayah Palu, Sigi, hingga Donggala.
“Hunian Nyaman Terpadu ACT akan berdiri di Kelurahan Duyu, Kota Palu, lalu di Desa Sibalaya Utara, Kabupaten Sigi, ada juga di Desa Lolu, Kabupaten Sigi. Sementara itu lokasi ICS lain Insya Allah akan diupayakan di Kelurahan Pantoloan dan Kelurahan Petobo, Kota Palu,” kata Syuhelmaidi.(vot)

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC
Lakukan Penukaran Uang

About Poetra

Avatar

Check Also

Ini Cara Pelda Supriyadi Apresiasi Kerja Keras Satgas TMMD

Kendal, Detik Sumsel — Danpos Ramil 05/Cepiring Kodim 0715/Kendal Pelda Supriyadi, saat istirahat siang memberikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *