Beranda Refleksi SDGs Menghilangkan Peran Perempuan Dalam Pandangan Islam

SDGs Menghilangkan Peran Perempuan Dalam Pandangan Islam

Tanggal : Pukul :
829
0
Oleh : Nilawati Wahab

SDGs adalah Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) yang mengandung 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan.


Tujuan ini dicanangkan bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030. Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti dari Tujuan Pembangunan Millenium Development Goals (MGDs) yang ditandatangani oleh Pemimpin – Pemimpin dari 189 negara sebagai Deklarasi Millenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015. Salah satu tujuannya adalah tidak akan ada lagi kemiskinan.

Kemiskinan adalah PR besar yang hingga hari ini masih belum mampu dipecahkan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Ibarat lingkaran setan, problem ini menjadi pangkal sekaligus ujung dari berbagai masalah yang muncul, mulai dari masalah sosial, hukum hingga instabilitas politik di negara-negara tersebut. Kalau diperhatikan SDGs ini secara gamblang mengaitkan antara kemiskinan dengan peran kaum perempuan.

Perempuan dalam hal ini, bukan hanya dipandang sebagai objek yang harus dientaskan, tapi juga sebagai pelaku yang didorong untuk terlibat total dalam menyelesaikan problem kemiskinan global dengan cara aktif terlibat khususnya dalam kegiatan ekonomi atau produksi.

Inilah program yang masif dipropagandakan sebagai Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP). PEP ini diharapkan, separuh masyarakat yg terangkat dari kemiskinan. Bahkan keterlibatan mereka di sebut-sebut akan mampu mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi negara dan menghapus problem kemiskinan dunia secara perlahan.

Istilah pemberdayaan ekonomi perempuan (PEP) memang makin kencang di suarakan sejalan dengan makin rapuhnya fundamental ekonomi kapitalisme yang nampak dari fenomena kian akutnya problem kemiskinan di berbagai negara dunia. Proyek ini terus diintrodusir melalui berbagai kebijakan dan program-program ekonomi yang diaruskan hingga tataran grassroot atas nama realisasi MDGs atau SDGs.

Proyek PEP ini diaruskan seiring dengan proyek global mainstreaming Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG). Sebagaimana target SDGs, di tahun 2030 harus sudah tercipta dunia dengan kesetaraan mutlak laki-laki dan perempuan di berbagai bidang kehidupan, sehingga bumi layak disebut planet 50:50. Karena terwujudnya KKG inilah yang dianggap sebagai prasyarat mutlak bagi suksesnya capaian SDGs khususnya untuk target mengeliminasi 100% kemiskinan global di tahun 2030.

Baca Juga :   Ayo Sriwijaya FC, Tiga Poin Harga Mati!

Tentu saja yang terjadi ini sangat bertentangan dengan islam dan berbahaya bagi umat, baik proyek PEP maupun ide KKG justru membuka celah kerusakan yang lebih lebar ditengah umat. Selain mengeksploitasi kaum perempuan dan menjebak mereka sebagai penopang tegaknya hegemoni sistem kapitalisme yang hampir runtuh, yakni dengan mendorong mereka menjadi mesin penggerak industri kapitalisme sekaligus menjadi objek pasar mereka.

Proyek-proyek ini juga akan melunturkan fitrah perempuan sebagai pilar keluarga dan penyangga masyarakat yang justru dibutuhkan untuk membangun peradaban Islam yang cemerlang. Bahkan lambat laun, proyek-proyek ini akan meruntuhkan struktur bangunan keluarga dan masyarakat hingga tak ada lagi jaminan bagi munculnya generasi terbaik pembangun peradaban. Kenapa? Karena perempuan kian kehilangan fokus dan orientasi tentang kontribusi terbaik yang sejatinya bukan ada pada peran ekonomi, melainkan ada pada peran keibuan. Ini salah satu program barat untuk menjadikan kaum muslim buta politik (Apolitis), sehingga kaum muslimin tidak mampu bersikap kritis terhadap semua pelanggaran syari’at. Akibatnya, Barat akan terus mulus terhadap semua rencana mereka. Situasi inilah yang saat ini menimpa islam dan kaum muslimin.

Program ide ini tanpa disadari berakibat menimbulkan penyebarluasan ide gender. Agenda gender adalah satu kesatuan agenda yang memiliki tujuan utama untuk menghancurkan bangunan keluarga ideal. Rencana jahat penghancuran keluarga muslim telah disusun barat dengan sangat sistematis. Mereka menjangkau setiap celah yang memberi peluang untuk dihancurkan. Sehingga tanpa sadar, saat ini keluarga muslim dalam jebakan yang mematikan. Dua sasaran utama yang dituju dalam proyek jahat ini adalah perempuan terutama kaum ibu-ibu dan generasi muda.

Baca Juga :   Jalur Independen Akan Menjadi Pilihan

Sejatinya, meskipun dalam Islam perempuan bekerja hukumnya boleh, namun pilihan bekerja berarti berkonsekuensi bertambah pula beban tanggung jawab mereka, baik terhadap dirinya, keluarganya, masyarakatnya, yang semuanya tentu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Target dari semua produk gender ini adalah melenyapkan ketundukan seorang muslim dan muslimah terhadap hukum syari’at.

Semua pelanggaran terhadap hukum Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW tentang fungsi dan peran seorang ibu pada hakekatnya adalah menghilangkan berkah dan rahmah atas kehidupan. Agenda gender yang kufur menjadikan perempuan berbangga dan berbondong-bondong menyongsong peran publiknya dalam melupakan peran domestik mereka sebagai penjaga dan pengawal generasi masa datang. Mereka rela melanggar syari’at demi mengejar prestise semu yang diciptakan kaum kafir, bangga sebagai perempuan yang mandiri, setara dan berdaya.

Mereka seharusnya sadar bahwa merebaknya kemiskinan dan semua turunannya pada hari ini justru merupakan dampak dari cengkraman Sistem Ekonomi Kapitalisme Global yang terbukti rusak dan membawa kerusakan. Dan bahwa solusi satu-satunya adalah dengan menegakkan sistem Islam.

Sistem Islam lah satu-satunya sistem yang sudah terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan selama belasan abad, tak hanya bagi umat Muslim, tapi juga non Muslim. Tak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Bahkan dalam sistem Islam, kaum perempuan benar-benar terjamin hak-haknya, termasuk hak finansial dan hak politik-strategisnya sebagai ibu, arsitek generasi pemimpin peradaban cemerlang.

Maka dari itu sebetulnya kaum muslim, bahkan dunia, harus membangun kembali islam, karena hanya aturan Islamiyah akan mewujudkan sistem perlindungan menyeluruh bagi keluarga. Marilah kita perjuangkan kembali tegaknya sistem islamiyah demi memenuhi seruan Allah dan dengannya akan terwujud kemuliaan, kesejateraan dan kemajuan yang dicita-citakan.


*Warga Perumahan Alhafidz Garden 1 blok. D3 Jl, Prajurit Yusuf Zen rt. 23 rw. 05 kel. Kalidoni Kec. Kalidoni Palembang

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here