Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Ramai-ramai Anak Tauke Karet Setop Kuliah

Ramai-ramai Anak Tauke Karet Setop Kuliah

Tanggal : Pukul :
2505
0
Grafis/Ilustrasi: Raam/Detik Sumsel

Lipsus, Detik Sumsel- Anjloknya harga komoditas sawit dan karet sangat berdampak bagi kelangsungan hidup petani di berbagai daerah khususnya di Sumsel, bahkan sebagian ‘Tauke’ dan petani sawit hingga karet di Sumsel sejak beberapa tahun belakangan mengaku tak sanggup lagi membiayai kuliah anak-anak mereka.

Tak sedikit dari anak-anak petani sawit dan karet di Sumsel yang terpaksa harus menyetop aktifitas kuliah anak mereka karena sumber pendapatan dari hasil perkebunan sawit dan karet sudah tidak mencukupi lagi untuk biaya kuliah dan biaya kehidupan merantau saat kuliah.

Seperti diungkapkan Jhon Kaiser, petani karet asal Kabupaten Musi Banyuasin ini mengaku dirinya terpaksa menyetop kuliah anak sulungnya yang sudah duduk di semester V (lima) di salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang. “Ini terpaksa dilakukan karena biaya kuliah dan biaya hidup saat kuliah di Palembang terus bertambah besar, sementara penghasilan dari bertani karet tidak lagi mencukupi,” ungkapnya kepada detiksumsel.com.

Dikatakan, kondisi anjloknya harga karet sejak dua tahun belakangan membuat dirinya terpaksa mengajak putra sulungnya untuk mengikuti jejaknya bekerja di kebun karet. “Apalagi harga karet sekarang perkilogramnya hanya Rp7 ribu,” keluhnya.

Baca Juga :   Herman Deru Hadiri Haornas di OKU Timur

Jhon mengaku, untuk biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari anaknya kuliah dirinya setiap bulan harus menyisihkan uang Rp5 juta. “Itu selain untuk biaya kos, juga biaya makan. Belum lagi kalau ditambah biaya pembelian buku dan keperluan lainnya, karena sudah tak sanggup lagi dengan berat hati anak saya harus DO (drop out, baca) dari kuliah,” ungkapnya lagi.

Senada juga dialami Gun (56), petani karet asal Lempuing Kabupaten OKI ini mengaku harus menyetop aktifitas perkuliahan anak perempuannya pada 2018 lalu karena sudah tidak mampu lagi membiayai aktifitas perkuliahan dan biaya hidup di Palembang. “Anak saya terpaksa DO saat semester tiga, sekarang anak saya ikut kerja honor mengajar di SD,” ujar Gun.

Tidak hanya itu, bahkan sejak harga karet anjlok dirinya bersama istri harus mencari tambahan dengan bekerja sebagai buruh harian lepas di pabrik. “Kalau dari sumber pendapatan karet saja tidak cukup lagi, saya dan istri harus mencari tambahan lain untuk kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Baca Juga :   Kantongi 8.805 Suara, Saksi Kawal Sampai Tuntas

Sementara itu, tidak hanya anak dari petani karet yang terkena imbas dari anjloknya harga tetapi juga sebagian petani sawit juga mengalami hal serupa dengan terpaksa harus menyetop aktifitas kuliah anak mereka karena harga sawit yang terus merosot. Seperti dialami Mulyadi (47) petani sawit asal Kabupaten Muratara ini juga terpaksa harus menyetop anaknya kuliah pada 2017 lalu. “Awalnya anak saya itu stop out, tetapi karena sudah tidak lagi bisa dibiayai terpaksa harus drop out,” ucapnya.

Mulyadi menyebutkan, kondisi harga komoditas sawit saat ini benar-benar anjlok perkilogram hanya Rp150 rupiah jauh dari harga normal yang berkisar Rp 600-700/kg. “Saya berharap harga sawit naik atau kembali normal,” pungkasnya.(tim)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here