Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Populasi Kerbau Rawa di Sumsel Terancam

Populasi Kerbau Rawa di Sumsel Terancam

Tanggal : Pukul :
156
0
Grafis/Ilustrasi: Raam/Detik Sumsel

Lipsus, Detik Sumsel – Populasi kerbau rawa di Sumatera Selatan sejak 10 tahun terakhir berkurang hingga 30 persen. Tercatat ada sekitar 15 ribu ekor kerbau rawa pada tahun 2010 lalu yang tersebar di tiga wilayah di Sumsel diantaranya Kecamatan Pampangan OKI, Kecamatan Rambutan Banyuasin, dan Tanjung Senai Ogan Ilir namun di tahun 2019 ini populasi kerbau rawa di Sumsel tinggal sekitar 10 ribu ekor.

Menurunnya populasi kerbau rawa di Sumsel ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk salah satunya minimnya perhatian Pemerintah Provinsi dan Pemerintah daerah di tempat populasi kerbau rawa itu sendiri.

Peneliti Kerbau Rawa dari Universitas Sriwijaya, Arfan Abrar menyebutkan saat ini kondisi populasi kerbau rawa makin memprihatinkan, terlebih di Sumsel yang sejak 10 tahun terakhir berkurang hampir lima ribu kerbau rawa.

“Jelas dengan kondisi jumlah populasi yang ada saat ini keberadaan kerbau rawa di Sumsel sangat terancam,” ungkap Arfan yang juga Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

Baca Juga :   Alokasikan Rp 30 M untuk Perbaikan Jembatan Lingkar Timur Pagaralam
Gerombolan kerbau rawa di Kecamatan Rambutan Banyuasin tepat di swamp buffalo center tampak sedang mencari makan di lahan rawa yang mengering karena sudah masuk musim kemarau. (Foto: BRG Pusat for Detik Sumsel)

Menurutnya, kondisi berkurangnya populasi kerbau rawa ini harus menjadi perhatian serius banyak pihak termasuk Pemerintah. “Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan populasi kerbau rawa di Sumsel,” ungkapnya.

Lanjutnya, keberadaan swamp buffalo center merupakan satu solusi untuk upaya peningkatan populasi kerbau rawa khususnya yang ada di wilayah Sumsel. “Ini yang saat ini digencarkan,” sebutnya.

Dikatakan, saat ini pola kegiatan di swamp buffalo center yang dilakukan di periode awal yakni diantaranya seleksi untuk populasi dasar, morfometrik, adaptasi perbaikan teknik budaya, dan aplikasi inKA dan IB.

Kemudian, di periode populasi dasar dilakukan rekording dan pengamatan performans melalui respons terhadap faktor lingkungan, dan analisa kekerabatan.

“Lalu di periode produksi dan kestabilan genetik dilakukan kestabilan mutu genetik dan bibit kerbau rawa pampangan,” jelasnya.

Area swamp buffalo center yang saat ini mulai digencarkan fasilitasnya untuk meningkatkan populasi kerbau rawa di Sumsel.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru juga yakin akan mampu mengembangkan potensi kerbau rawa di Sumsel secara maksimal. Dengan pengelolaan yang baik dan pengalaman yang mumpuni, dia yakin Sumsel dapat mandiri memenuhi kebutuhan daging tanpa ekspor dari daerah luar.

Baca Juga :   Herman Deru Lepas Keberangkatan Peackeeper Polisi dalam  Misi Perdamaian di Afrika Tengah 

“Masyarakat Sumsel ini sangat berperhatian terhadap perkembangan ternak khususnya sapi dan kerbau rawa. Saya sendiri juga merupakan salah satu pelaku peternak dan penjual daging,  pengalaman itu nyata,” katanya.

Dikatakannya, kerbau rawa merupakan hewan ternak yang memiliki potensi yang luar biasa. Selain dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat juga dapat menjaga alam dengan sangat baik. Karena itu, dia menyambut baik jika kerbau rawa serius dikembangkan di Sumsel.

“Pasalnya kerbau rawa memiliki potensi susu yang luar biasa,” ujarnya.

Sebagai orang yang cukup berpengalaman sebagai pelaku peternak, faktor manusia diakuinya mempunyai peran lebih dari 30 Persen terhadap keberhasilan pengembangan barulah faktor berikutnya adalah pendanaan. (tet)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here