Pemerintah Sumatera Selatan
Beranda Refleksi PMII Di Titik Nadir

PMII Di Titik Nadir

Tanggal : Pukul :
543
0
PMII Di Titik Nadir
Oleh: Maiyang Sari

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tak terasa telah berdiri 60 tahun di bumi pertiwi, organisasi yang didirikan oleh 13 pemuda yang menginginkan perubahan ini telah tumbuh menjadi organisasi besar. Tentunya butuh proses yang panjang  agar tetap eksis sebagai wadah pergerakan yang tak lekang oleh zaman. Perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar agar untuk  berdiri bukan hanya di  Indonesia tapi sudah melanglang buana sampai mancanegara.


Dinamika-dinamika sudah ada sejak awal berdiri menjadi tantangan tersendiri untuk terus terintegrasi menjadi lebaih baik lagi.  Dengan cita-cita awal menjadi organisasi Independen, PMII terus berupaya menjadi garda terdepan untuk selalu mengawal pemerintah dan penyambung lidah rakyat.

Kepekaan sebagai mahasiswa yang penuh dengan kehausan akan ilmu juga dibalut dengan analisa yang tajam, ini yang menimbulkan kekuatan tersendiri pada mahasiswa untuk membuat perubahan-perubahan tak terkecuali pada PMII. Maka terkedang jangan heran ketika menemukan mahasiswa yang menginginkan perubahan yang cepat sampai kadang-kadang tidak sabar akhirnya banyak sekali norma-norma yang dilanggar.

PMII yang berlatar belakang Ahlu Sunnah wal jama’ah seyogyanya mejadi filter untuk mahasiswa agar tidak tersesat pada ambisi semata, PMII pada era sekarang dimana arus Globalisasi dan modernisasi lebih cepat dibayangkan sehingga dituntut untuk lebih mengokohkan pijakan.  seperti yang ditulis oleh Gusdur dalam kutipan PMII DAN TANTANGAN MASA DEPAN, “Cukup banyak di PMII yang sudah bukannya ingin membawa perubahan tetapi terbawa oleh arus perubahan”.

Baca Juga :   Mengkritisi Hasil Survey Menjelang Pilkada Sumsel

Bagaimana PMII kedepan masih menjadi Tanda Tanya besar maka dari itu perlu adanya persiapan dari tubuh PMII itu sendiri, bukan lagi memikirkan pergerakan kader dan anggota tetapi sudah memiliki orientasi pencapaian perubahan, tentunya perubahan yang diingkan harus diisi oleh orang-orang yang berkualitas dan mempunyai kredibilitas.

“Ketika kita berada dalam Organisasi maka kepentingan kelompok, kepentingan pribadi akan tereduksi di organisasi tersebut demi kemaslahatan bersama”

-Bunda Khofifa, (Gubernur Jatim, Mantan PB Kopri)

Dari kutipan diatas tentunya pemahaman seperti itu harus ditanamkan kepada seluh anggota dan kader agar terus melangkah  dengan niat lurus, senantiasa setiasa pada proses, namun 60 tahun berdiri tentu ada hal yang peru dibenahi di tubuh PMII oleh seluruh anggota dan kader agar menjadi lebih baik lagi. Ada sebuah sajak yang ingin saya sampaikan kepada para sahabat-sahabati pergerakan dalam menyambut hari lahir PMII, sebuah renungan agar kita tak salah pijakan.

Baca Juga :   "Bekunci" Cara Warga Jermun OKI Lockdown dari Pandemi Covid-19

“PMII Di Titik Nadir, ketika skeptisme kader dan anggota sudah merajalela, menghapus idealisme yang kian punah

PMII Di Titik Nadir, ketika ego jadi dewata nurani pun jadi jelata, taka da lagi corak Aswaja yang ada hanyalah gaya hidup Hedon yang menguasa

PMII Di Titik Nadir, ketika kepentingan bersekongkol dengan kekuasaan dan melenyapkan Persahabatan

PMII Di Titik Nadir ketika suara dibatasi, gerakan diawasi, lalu prinsip dijual beli”

Seorang kader harus memiliki Integritas yang tinggi dan moralitas yang mumpuni, agar ia akan menjadi kaca bagi regenerasi kader selanjutnya uswatun hasanah bagi anggota lainnya.

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk !, kutipan Tan Malaka yang melegenda menjadi pecutan agar bermental baja, tahan banting disetiap dinamika, mempunyai integritas yang luar biasa, agar turut serta mengembangkan Aswaja di seluruh Nusantara.

Selamat hari lahir PMII Ke-60 Th, Khidmat PMII untuk Negeri, panjang umur pergerakan di bumi pertiwi.


Penulis: Maiyang Sari, kader PMII UIN Raden Fatah Palembang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here