Bersama Herman Deru dan Mawardi Yahya, Saatnya Perubahan Menuju Sumatera Selatan Yang Lebih Maju

PKK Muba Perkenalkan Batik Gambo, Warisan Lokal ‘Rasa’ Dunia

0
150
Ketua PKK Muba, Thia Yufada, saat memperkenalkan kain jumputan tradisional khas Musi Banyuasin (Muba).

Sekayu, Detik Sumsel – Meperingati hari Batik Nasional, yang jatuh pada 2 Oktober, setiap tahunnya. Membuat Ketua Dekranasda Muba yang juga Penggagas Gambo Moeba, Thia Yufada mengatakan dirinya akan terus berusaha maksimal untuk memperkenalkan Gambo Muba di Nusantara maupun internasional.

“Alhamdulillah saat ini Gambo Moeba mulai dilirik dan mampu bertengger di industri fashion baik di level nasional dan internasional,” bebernya.

Lanjutnya, saat ini sudah ada beberapa produk kreasi “Gambo Moeba”dan akan terus berinovasi untuk kebutuhan industri fashion. “Sesuatu yang tidak berguna kami coba manfaatkan dengan maksimal agar mampu bernilai tinggi dan menghasilkan sesuatu yang luar biasa untuk perkembangan industri tekstil,” kata ibu dua anak ini.

Ketua TP PKK Muba ini juga menambahkan, adanya getah Gambir di Kabupaten Muba ini seperti menjadi sebuah harta karun yg bernilai tinggi yang bisa dimanfaatkan lebih luas dalam mengurangi pemakaian zat kimia dalam industri kain lokal. “Ini juga bagian dari upaya untuk mengangkat kearifan dan kebudayaan lokal di Muba,” bebernya.

Gambir atau yang biasa disebut gambo oleh masyarakat Musi Banyuasin, menurutnya, dijadikan kain jumputan khas, memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan jumputan lainnya. Diantaranya, dari mulai bahan pewarna yang menggunakan bahan alami dari getah gambir, sampai pengerjaan yang menggunakan tenaga lokal.

“Bahan pewarnanya menggunakan gambir lokal yaitu dari Toman, Kecamatan Babat Toman, merupakan gambir dengan kualitas terbaik saat ini, dari sejumlah penelitian,” pungkasnya.

Diketahui, bahwa Hari batik Nasional, ditetapkan pada tanggal 2 Oktober 2009 yang lalu. Setelah Badan PBB untuk kebudayaan UNESCO, menetapkan batik sebagai warisan Kemanusiaan untuk budaya Lisan dan non Bendawi (Masterpieces of the oral and intangible Heritage of Humanity). Teknik pewarnaan dengan menggunakan ‘malam’ untuk menutupi sebagian dari kain dalam pewarnaan, dimana dengan teknik tersebut dibuat motif-motif tertentu yang memiliki keunikan dan arti tertentu. (edy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here