Pemerintah Kabupaten Banyuasin Siap Menyukseskan Asian Games Tahun 2018

Pilkada dan Lansia

0
19
Pilkada dan Lansia - Lismiana, S.E., M.Si.
Pilkada dan Lansia - Lismiana, S.E., M.Si.

Dalam beberapa hari lagi kita akan memperingati Hari Lanjut Usia Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Mei setiap tahunnya. Peringatan ini merupakan salah satu bentuk penghargaan dan kepedulian Negara kepada penduduk golongan lanjut usia (lansia). Namun, dalam kenyataannya masih terdapat banyak permasalahan yang melanda penduduk golongan lansia di Indonesia, seperti Jaminan Kesehatan bagi Lansia yang masih belum mencukupi, Pelayanan Sosial Lansia yang masih sedikit dan masih banyaknya lansia yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Mendulang Suara Lansia

Permasalahan-permasalahan ini dapat diselesaikan jika terdapat komitmen yang kuat dari para pihak yang berwenang, khususnya para Pemimpin-Pemimpin Daerah, baik Gubernur maupun Walikota atau Bupati. Pada tahun ini, akan digelar Pemilihan Kepala Daerah secara Serentak di 171 daerah. Dapat dipastikan bahwa semua  pasangan calon (paslon) akan gencar mencari pendukungnya. Jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, jumlah penduduk lansia (seseorang yang telah berusia 60 tahun ke atas) Indonesia tahun 2017 meningkat sekitar dua kali lipat dari tahun 1971, yakni menjadi 8,97 persen (23,4 juta). Bahkan, pada tahun 2035 diproyeksi akan terjadi Peledakan penduduk lansia yaitu mencapai 15 persen. Besarnya jumlah Lansia merupakan pangsa “pendukung” yang besar sekali. Untuk itu, pasangan calon (paslon) peserta Pilkada diharapkan memiliki Program-program yang mendukung penyelesaian permasalahan-permasalahan di golongan Lansia agar mendapat dukungan yang kuat dari golongan Lansia dan keluarga para Lansia.

Meningkatnya jumlah penduduk lansia  di negeri ini nantinya merupakan hal yang membahagiakan apabila lansia tersebut sehat dan produktif. Akan tetapi, di sisi lain, meningkatnya jumlah penduduk Lansia menjadi masalah yang tidak sederhana jika Lansia memiliki berbagai penyakit. Sehingga, diperlukan program yang dapat mengayomi lansia di Indonesia.

Lansia memiliki peranan penting dalam menjaga Ketahanan Nasional, yaitu berperan dalam keluarga dan masyarakat, melalui interaksi yang baik dengan anak-anak dan masyarakat. Dalam keluarga, lansia sangat berperan dalam hal penanaman nilai terhadap anak-anak dan cucu mereka terutama bagi lansia yang berperan pula mengasuh cucu mereka dimana ayah dan ibu cucunya bekerja. Anak yang diasuh dengan pola yang tepat, diharapkan dapat mencapai kematangan dalam proses tumbuh kembang menjadi remaja hingga lansia sehat berkualitas dan produktif hingga ikut pula menopang ketahanan nasional bangsa.

Baca Juga :   Harapan Baru Masyarakat Kota Lubuklinggau dalam Pergantian Masa Kepemimpinan

Sehingga, untuk menopang ketahanan nasional bangsa perlu kiranya pemerintah ataupun paslon yang akan menjabat nantinya membuat program yang mendukung ketahanan lansia. Karena program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)  tahun 2017 belum bisa membiayai semua lansia yang sakit. Hanya sebesar 12,63 persen rumah tangga lansia di Indonesia tahun 2017 yang memiliki jaminan sosial. Atau hanya sekitar tiga dari lima lansia yang memiliki jaminan kesehatan. Tentu saja, program yang dibuat paslon bagi lansia tersebut hendaknya dimulai sejak dini sehingga program juga berlaku pada  semua kelompok umur, mulai manusia dalam kandungan hingga lansia. Program tersebut harus mendukung keterpenuhinya gizi calon bayi dalam kandungan. Karena calon-calon bayi tersebut akan menjadi calon lansia dalam beberapa puluh tahun ke depan. Tentunya, untuk menjadikan bangsa yang berketahanan nasional salah satunya dimulai dari ketahanan Lansia (lansia yang sehat, berkualitas dan produktif).

Program Pelayanan Sosial Lansia

Di dalam Permensos RI Nomor 19 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lansia menyebutkan bahwa pelayanan sosial lansia adalah upaya yang ditujukan untuk membantu lansia dalam memulihkan dan mengembangkan fungsi sosialnya. Pemerintah telah berupaya menjalankan program untuk pelayanan terhadap lansia diantaranya Program Pendampingan Sosial Lansia melalui Perawatan di Rumah (Home Care) dengan jumlah penerima program Home Care sebesar 2.000 lansia tersebar di 11 provinsi di Indonesia; Program Asistensi Sosial Lanjut Usia Telantar (ASLUT), dengan penerima ptogram tahun 2017 sebanyak 30.000 lansia tersebar di seluruh provinsi di Indonesia;  dan Program Family Support Lansia, dengan jumlah penerima program tahun 2017 sebesar 1.000 orang tersebar di 5 provinsi di Indonesia.

Baca Juga :   Pemenang Pilkada Sumsel adalah Alex Noerdin

Program pelayanan sosial yang dilakukan Pemerintah sudah cukup banyak. Namun hanya mencakup sebagian kecil lansia di Indonesia. Untuk itu, perlu di lakukan perluasan program pemberdayaan bagi lansia terutama lansia produktif, yaitu bagi lansia yang masih dapat bekerja. Program-program pemberdayaan tenaga kerja lansia yang dapat dilakukan seperti pelatihan keterampilan kerja yang dapat menjadi bekal mereka bekerja nantinya, pendampingan usaha untuk mengembangkan usaha lansia, pemberian bantuan sarana kerja dan perluasan usaha yang sesuai bagi lansia.

Masih banyak lansia yang bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Di tahun 2017, persentase lansia bekerja menurut BPS mencapai 47,92 persen. Hal ini berarti hampir separuh dari lansia masih aktif bekerja   untuk   memenuhi   kebutuhan   hidup   atau   sebagai bentuk aktualisasi diri. Bahkan, Meskipun sudah berusia lanjut, masih ada 57,72 persen lansia masih bersatus sebagai Kepala Rumah Tangga yang berarti bahwa mereka masih menopang kebutuhan keluarga dengan bekerja. Tingginya persentase lansia bekerja ini dapat menunjukkan bahwa lansia masih memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja dan tetap aktif di hari tuanya meskipun kondisi fisiknya telah menurun.

Pemerintah maupun paslon yang akan menjabat nantinya perlu mempersiapkan lansia supaya masih mampu bekerja, menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk pembangunan. Semoga dengan semangat Hari Lanjut Usia Nasional, berbagai program untuk mempersiapkan kualitas sumber daya manusia dapat dilakukan secara komprehensif, dan berwawasan kelanjutusiaan, yang pada akhirnya meningkatkan ketahanan nasional. Semoga!

*Penulis adalah Statistisi Ahli Pertama Seksi Analisis Statistik Lintas Sektor Badan Pusat Statistik  Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here