Beranda Ekonomi Pertamina RU III Jadi Pilot Project Pengelolaan Sawit

Pertamina RU III Jadi Pilot Project Pengelolaan Sawit

Tanggal : Pukul :
189
0
Detiksumsel/Tohir - Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam kunjungannya ke RU III Plaju, Kamis (18/01).

Palembang, Detik Sumsel – Langkah Pertamina mengambil inisiatif energi terbarukan yang lebih bersih dengan mencapur kelapa sawit untuk menjaadi diesel mendapatkan apresiasi dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan.

Pengembangan green refinery merupakan era baru bagi industri Bahan Bakar Nabati (BBN) di Indonesia, yang sudah dikembangkan terlebih dahulu di Pertamina di Refinery Unit (RU) III, Plaju, Palembang.

“Kita patut memberikan apresiasi kepada Pertamina yang telah concern terhadap produksi bahan bakar ramah lingkungan yang berasal renewable resources, dalam rangka menciptakan udara yang bersih dengan produksi BBM yang bersih,” ujar Ignasius Jonan, dalam kunjunganya ke RU III Plaju, Kamis (17/1).

Ia menambahkan, apa yang dilakukan Pertamina dengan mengelola kelapa sawit untuk dikelola menjadi bahan baku campuran untuk minyak diesel, sehingga bisa menciptakan minyak yang ramah lingkungan serta bisa mengurangi impor bahan bakar 409 ribu barel.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati yang mendampingi kunjungan tersebut menyatakan, kilang Plaju menjadi pilot project dalam pengolahan minyak sawit menjadi bahan bakar berkualitas dan ramah lingkungan.

Hal ini juga sekaligus untuk menjawab tantangan dunia agar bisnis migas mulai move on dari sumber energi fosil menuju green energy.

“Pengembangan green energy di Kilang Plaju, akan menghemat kas perseroan hingga US$ 160 juta atau Rp 2,3 triliun per tahun, sekaligus mengurangi impor minyak hingga 7,36 ribu barel per hari (bph),” katanya.

Pengembangan Green Refinery sekaligus upaya Pertamina menyukseskan program pemerintah untuk perluasaan penggunaan B20 serta mengurangi impor BBM sehingga cadangan devisa akan terjaga.

Dalam jangka panjang, Pertamina telah melakukan kerjasama dengan ENI, perusahaan minyak asal Italia yang menjadi pelopor konversi kilang pertama di dunia, untuk mengembangkan kilang-kilang Pertamina menjadi green refinery.

Ditambahkannya, Pertamina juga menjajaki kerjasama dengan PTPN untuk suplai kelapa sawit sebagai bahan baku green-fuel, agar bahan bakar yang dijual tetap terjangkau bagi masyarakat Indonesia

Pada Desember 2018, telah dilakukan uji coba skema co-processing dengan injeksi RBDPO secara bertahap 2,5 hingga 7,5 persen. Hasilnya cukup menggembirakan, karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number hingga 91,3.

“Saat ini, unit RFCC Kilang Plaju yang berkapasitas 20,5 Million Barel Steam Per Day (MBSD) mampu menghasilkan green fuel yang lebih ramah lingkungan sebanyak 405 ribu barel per bulan setara 64.500 kilo liter per bulan. Selain itu, kilang ini juga menghasilkan produksi elpiji ramah lingkungan sebanyak 11 ribu ton per bulan,” ucap Nicke.

Indonesia, imbuh Nicke, merupakan negara pertama di dunia yang berhasil mengimplementasikan Co-Processing CPO (Crude Palm Oil) menjadi Green Gasoline dan Green LPG untuk skala komersial. Keberhasilan Green Refinery di Plaju, akan terus dikembangkan pada kilang lainnya seperti Kilang Cilacap, Balongan, dan Dumai. Bahan bakar yang dihasilkan pun akan diperluas seperti Green Avtur dan Green Diesel yang lebih ramah lingkungan. (May)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here