Beranda Refleksi Peran Jurnalisme Merawat Keberagaman

Peran Jurnalisme Merawat Keberagaman

Tanggal : Pukul :
176
0
Peran Jurnalisme Merawat Keberagaman - Yulia Savitri
Peran Jurnalisme Merawat Keberagaman - Yulia Savitri

Negara Indonesia ternyata menjadi inspirasi negara lain dalam hal pluralisme atau keberagaman. Dalam wawancara di Majalah Tempo edisi 4 – 10 Desember 2017, Perdana Menteri Denmark, Lars Lokke Rasmussen mengatakan, Indonesia adalah negara yang punya banyak agama dan kelompok etnis berbeda tapi masyarakatnya bisa hidup berdampingan secara damai. Ia memastikan, hal itu menjadi inspirasi besar bagi negara lain termasuk Denmark. 


Pemberitaan Tempo di atas terang benderang memperlihatkan dorongan kedamaian. Lain halnya dengan pemberitaan di Gatra edisi 11 November 2015 dengan judul ‘Kala Wali Kota Melarang Asyura’. Berita ini menyebutkan model pembatasan ekspresi keyakinan penganut Syiah memasuki babak baru. Setelah fatwa sesat MUI Jawa Timur 2012, vonis penodaan agama, hingga tingkat MA 2013, muncul larangan seremoni Asyura oleh Wali Kota Bogor Bima Arya. Diberitakan, timbul gejolak antara pemerintah dan rombongan jamaah Syiah, sementara ahli kajian agama menjadi narasumber tambahan.

Dalam bukunya ‘Jurnalis Keberagaman untuk Konsolidasi Demokrasi’, Usman Kansong, Direktur Pemberitaan Media Indonesia mengulas, berita Gatra menunjukkan kepedulian media terhadap isu keberagaman. Meski dari sisi aktualitas sudah berlalu, tetapi Gatra tetap mengangkat isu tersebut. Ditegaskannya, berita itu hendak menyebutkan bahwa negara gagal mengelola perlindungan bebebasan beragama (halaman 140).

Berita konflik seperti ini menarik untuk disimak apabila disajikan dalam praktik jurnalisme keberagaman. Lalu, seperti apa jurnalisme keberagaman itu? Buku setebal 152 halaman ini menjelaskan secara mendalam dan memberikan contoh berita jurnalisme keberagaman lainnya untuk dipelajari.

Baca Juga :   SDGs Menghilangkan Peran Perempuan Dalam Pandangan Islam

Jurnalisme keberagaman merupakan sebuah gagasan terbaru dalam dunia jurnalistik. Berbeda dengan jurnalisme lain, ia menawarkan pengangkatan hak-hak kaum marginal untuk bersuara dan mengedepankan jurnalisme damai. Usman Kansong menyajikan tesis, jurnalisme keberagaman hadir untuk menghadapi tantangan antikeberagaman atau anti toleransi di era transisi demokrasi. Di saat negara justru tidak berdaya mengelola keberagaman, sepatutnya jurnalisme hadir untuk mengambil perannya.

“Di era yang relatif lebih demokratis dibanding masa Orde Baru ini, identitas mengalami penguatan. Penegasan suku, agama, ras, maupun gender menjadi sarana untuk saling mengenal. Alih-alih menciptakan keberagaman, penguatan identitas ini justru lebih banyak memicu konflik. Konflik horisontal semakin runyam karena negara cenderung absen dan melakukan pembiaran. Adapun jurnalisme sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi semestinya berkontribusi di sini.” (halaman v).

Praktik jurnalisme keberagaman diharapkannya dapat berkontribusi pada konsolidasi demokrasi dalam mewujudkan keberagaman di Indonesia. Jurnalisme keberagaman bisa mendorong eksekutif menghasilkan kebijakan yang pro keberagaman, mendesak legislatif menghasilkan undang-undang yang menghormati keberagaman, atau memastikan yudikatif menegakkan hukum bagi pelanggar keberagaman. Tapi, peran itu tidak bisa dianggap enteng. Di buku ini, Usman Kansong memaparkan problem pemberitaan keberagaman yang menunjukkan jurnalisme belum mengambil peran hebat tersebut. Mulai dari menjamurnya pers berbasis agama yang defensif dan cenderung melahirkan opini serta hoaks, sikap pers arus utama yang acuh dan mencari aman dalam isu keberagaman, sampai sikap individu jurnalis yang malas memverifikasi ataupun tidak sensitif pada masalah keberagaman.

Baca Juga :   Calon Independen: Peluang atau Tantangan?

Buku ‘Jurnalis Keberagaman untuk Konsolidasi Demokrasi’ berisi semangat menggali peran pers dalam konsolidasi demokrasi. Isinya juga berupa panduan jurnalis dalam memberitakan isu keberagaman, misalnya membingkai berita dengan proporsional yakni tidak menjadikan korban sebagai pelaku dan tidak memberi begitu saja panggung kepada kelompok intoleran. Layak dibaca untuk akademisi, praktisi jurnalistik, maupun umum.

Meski sudah pernah diterbitkan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), Usman Kansong melengkapi isinya dengan memperkuat teori dan argumen dari segi filosofis, sosiologis, dan agama. Peraih beasiswa Chevening di Inggris dan Skotlandia ini ingin pembaca menyadari, realitas berbicara bahwa kebebasan kaum minoritas sudah terenggut, padahal Indonesia adalah negara demokrasi yang bebas dan merdeka. Peran negara seakan pasif, maka jurnalisme masuk memainkan perannya agar petinggi negara memihak pada keberagaman. Toh, keberagaman itu hukum alam.


*Peresensi adalah Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here