Iklan Detik Sumsel

Pengungsi Tertua di Sulteng Ungkap Seringnya Gempa Dulu, dan Ini Terparah

0
134
Djidja nenek berumur 106 tahun yang tercatat sebagai pengungsi Tertua di Sulteng.
Djidja nenek berumur 106 tahun yang tercatat sebagai pengungsi Tertua di Sulteng.

Palu, Detik Sumsel, – Dengan raut ramah disela wajah keriputnya Djidja yang hanya bisa duduk di atas kasur di dalam tenda pengungsian mencoba tetap tegar dan semangat menjalani harinya. Kakinya yang tak mampu berlama-lama berdiri menopang berat badannya hanya sekedar menikmati teriknya matahari di kota Palu

Djidja merupakan satu dari ribuan orang yang selamat dari keganasan bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang memporakporandakan Palu, Sigi, dan Donggala pada 28 September 2018.

Wanita ini ternyata tercatat sebagai pengungsi tertua di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Palu, Sulawesi Tengah. Usianya kini memasuki angka 106 tahun.

Diusianya yang mencapai satu abad ini, bencana gempa bumi dengan kekuatan dahsyat bukan untuk pertama kalinya ia rasakan. Beberapa puluh tahun lalu, ia sempat merasakan bencana serupa.
“Nenek pernah alami gempa serupa sewaktu muda dulu. Tapi dia sudah tidak ingat lagi detailnya, hanya sekilas saja, yang jelas gempa di Palu ini sudah biasa tapi yang terparah memang saat ini, ” kata Vera, cucu Djidja menerjemahkan perkataannya yang hanya bisa berbahasa Kaili saja.

Ingatan Dijdja kembali pada 28 September 2018 lalu saat azan magrib berkumandang. Saat itu anak dan cucunya tengah bersiap salat magrib. Sedangkan ia berada di kamarnya seorang diri. Tiba-tiba bumi bergetar hebat, seperti blender raksasa yang mampu memutar apa saja yang ada di atasnya.

“Nenek langsung bangun mencoba keluar kamarnya, itu goyangan gempa sangat kuat. Kalau tidak pegang kursi mungkin Nenek sudah jatuh. Nenek langsung lari ke luar rumah menyelamatkan diri, tidak ada yang membantunya,” tuturnya.

Gempa yang berlangsung cepat itu ternyata membuat rumah yang ditinggalinya rusak, bersama dengan ratusan rumah lainnya. Ia dan anak-cucunya mengungsi ke tanah lapangan di atas bukit hingga hari ini.
“Sekarang sudah enak, ada tenda dan kelambu. Hari pertama setelah gempa panas dan banyak nyamuk,” ceritanya.

Djidja berharap tidak ada lagi bencana di tanah kelahirannya hingga ia menutup usia. “Jangan ada gempa begini lagi, ingin sehat terus panjang umur. Alhamdulillah kalau dapat rumah lagi, karena kamar saya sudah rusak,” tukasnya. (vot)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here