Beranda Refleksi Pengelolaan CSR Sebagai Potensi Baru Penerimaan Zakat

Pengelolaan CSR Sebagai Potensi Baru Penerimaan Zakat

Tanggal : Pukul :
530
0
Pengelolaan CSR Sebagai Potensi Baru Penerimaan Zakat- Peny Cahaya Azwari,S.E.,M.M.,MBA.Ak,CA
Pengelolaan CSR Sebagai Potensi Baru Penerimaan Zakat- Peny Cahaya Azwari,S.E.,M.M.,MBA.Ak,CA

INDONESIA merupakan negara dengan jumlah mayoritas muslim terbesar di dunia sekitar 216 juta jiwa atau 8% total populasi muslim di dunia (BPS, 2015).Fakta tersebut menunjukkan potensi zakat yang sangat besar. Potensi zakat di Indonesia melalui riset Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan IPB mencapai Rp. 217 triliun per tahunnya. Angka ini dilihat berdasarkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Ketika PDB naik maka potensi zakat ini juga bergerak naik (Republika.co.id, 2016).

Namun, potensi tersebut belum didukung penghimpunan yang optimaldi lapangan. sehingga penghimpunan yang terealisasi masih terjadi ketimpangan yang sangat jauh antara potensi dengan realisasi yang terhimpun (Outlook zakat Indonesia, 2017). Berdasarkan sumber BAZNAS (2017) potensi zakat 2010 mencapai 217 triliun namun realisasiny baru tercapai 1,5 triliun (0.7%) dan ditahun 2016 dari potensi sebesar 442 triliun hanya terelisasi sebesar 4,4 triliun. Data 6 tahun terakhir menunjukkan penghimpunan dana zakat tidak melebihi angka 2 %. Minimnya penerimaan zakat tersebut disebabkan oleh beberapa faktor:

Pertama, rendahnya kesadaran wajib pajak, rendahnya kepercayaan kepada BAZ dan LAZ, prilaku muzakki yang masih menyalurkan zakat secara langsung.

Kedua, basis zakat yang tergali masih terkonsentrasi pada zakat tertentu, seperti zakat fitrah dan profesi.

Ketiga, masih rendahnya intensif bagi wajib zakat untuk membayar zakat (Indonesia Economic Outlook, 2010)

Zakat yang disalurkan pada umumnya hanya bersifat konsumtif untuk keperluan sesaat (Bank Indonesia, 2016). ). UU No.23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat bab III pasal 27 menjelaskan zakat dapat digunakan untuk usaha produktif. Karena itu BAZNAS harus lebih menekankan menyalurkan zakat dalam bentuk zakat produktif  karena dana zakat yang diberikan tidak habis begitu saja untuk dikonsumsi tetapi dana tersebut bisa digunakan dan dikembangkan untuk kebutuhan hidupnya secara konsisten kedepannya.

Baca Juga :   Mengenal Gigi Ala GM RS Pelabuhan

Melihat realisasi dana zakat yang terkumpul dari masyarakat masih kecil, maka masih diperlukannya sumber dana zakat yang baru untuk menambah dana zakat dan untuk menambah realisasi penyaluran dana ke para mustahik, salah satu inovasi baru yang bisa dilakukan oleh BAZNAS yaitu dengan memanfaatkan dana CSR (Corporate Social Responsility)  dari BUMN. CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab perusahaan yaitu suatu konsep bahwa organisasi, terutama perusahaan adalah memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepentingannya, yang diantaranya adalah konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (Bank Indonesia, 2016).

Potensi dana CSR di Indonesia menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, mencapai Rp. 12 triliun setahun. “CSR sebesar itu belum dikelola dengan secara maksimal, sehingga ke depan harus dioptimalkan untuk memberdayakan masyarakat dan mengembangkan perekonomian warga setempat. (Antaranews, 2015)

BAZNAS memanfaatkan CSR yang ada di perusahaan-perusahaan sebagai sumber dana tambahan baru untuk  dimanfaatkan menjadi zakat produktif. Kenapa zakat produktif? Karena dengan zakat produktif  dana zakat yang diberikan tidak dihabiskan untuk keperluan konsumtif tetapi dana ini untuk memberikan penghasilan dalam jangka panjang bagi para mustahik melalui usaha yang mereka jalankan dengan modal yang didapat dari zakat produktif tersebut.  Selama ini,BUMN mengelola dana CSR melalui organisasi Pengelola Zakat sendiri dan dikelola langsung melalui BUMN masing-masing. Hal ini menjadi kurang efektif  karena pengelolaan ikelola sendiri sehingga penyaluran menjadi terbatas di lingkungan BUMN. Data yang dimiliki BUMN untuk penyaluran ke mustahik punterbatas dan tidak terintegrasi dengan data BAZNAS yang memiliki data mustahik lebih lengkap dan menyeluruh. Kegiatan masing-masing BUMN pun tidak terintegrasi dengan BAZNAS dan BUMN lain sehingga berjalan sendiri-sendiri.

Baca Juga :   Isyarat Qur'an Tentang Merdekanya Nusantara

Penulis mencoba membuat suatu model yang ditawarkan agar efektifitas pengelolaan dan penyaluran dana CSR menjadi optimal melalui sinergitas BUMN dan BZANAS berupa skema berikut:

Dari skema tersebut, BAZNAS dan BUMNsebagai syarikat bersinergi dalam bentuk syirkah inan. Syirkah inan adalah penggabungan harta atau modal dari dua atau lebih yang tidak sama jumlahnya dam boleh satu pihak memiliki modal lebih besar dari pihak lain. Demikian halnya, beban tanggung jawab dan kerja, boleh satu pihak bertanggung jawab penuh, sedangkan pihak lain tidak. (Fiqh Muamalat: 2008). Bentuk kerjasama ini akan menghasilkan perusahaan BUMN akan memberikan dana CSR kepada BAZNAS untuk dikelola dan dijadikan zakat produktif serta menyalurkannya untuk dijadikan modal berwirausaha bagi para mustahik.

Skema ini menjadi solusi yang ditawarkan untuk meningkatkan sinergitas lembaga zakat yang memiliki data mustahik yang lengkap dan BUMN yang memiliki dana CSR bekerjasama secara terpadu dan terintegrasi melalui dana CSR dengan tepat sehingga diharapkan mereka yang sebelumnya masuk dalam kelompok mustahik, setelah mendapatkan dana CSR yang dapat dikelola dengan baik di kemudian hari menjadi muzakki agar pengelolaan zakat melalui dana CSR dapat disalurkan secara optimal,efektif, dan efisien. (Tulisan pertama dari dua episode)

*Dosen FEBI UIN Raden Fatah Palembang

**Mahasiswa S1 Ekonomi Islam FEBI UIN Raden Fatah Palembang

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here