Pemerintah Sumatera Selatan
Beranda Refleksi Pendemi dan Ancaman Kepunahan Spesies Manusia

Pendemi dan Ancaman Kepunahan Spesies Manusia

Tanggal : Pukul :
1099
0
Pendemi dan Ancaman Kepunahan Spesies Manusia
Oleh : Prasetyo Nugraha

Di era musim Corona yang secara resmi ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemi global, seakan-akan terlihat dunia sedang dalam marabahaya dan spesies manusia di dalamnya terancam mengalami kepunahan sebagaimana flora-fauna yang telah punah sebelumnya.


Agregasi virus Corona yang bergerak massif dengan kecepatan yang boombastis, menjadikannya virus pertama yang paling menakutkan dimana teknologi informasi sedang berada di puncaknya. Nyaris tidak ada negara di muka bumi yang tidak disasar olehnya. Saat ini saja, jutaan manusia telah terjangkit dan terus bertambah ribuan perhari, serta bahkan ratusan ribu nyawa telah melayang akibat virusnya.

Secara teori, Rob Wallace dalam Big Farms Make Big Flu: Dispatches on Infectious Disease, Agribusiness, and the Nature of Science menyebutkan proses pembentukan wabah penyakit ialah patogen yang merupakan bibit virus atau bakteri yang hidupnya berparasit atau membutuhkan medium. Eksistensi patogen yang semakin terdesak pada habitat aslinya, yakni hutan atau lautan beserta ekosistem di dalamnya yang berusia ribuan atau bahkan jutaan tahun. Namun akibat hutan-laut dirusak dan menipis karena dijadikan sebagai area perkebunan dan pertambangan serta sebagian dieksploitasi dijadikan area bisnis lainnya. Sementara berparasit merupakan keniscayaan bagi mikroorganisme patogen, singkatnya tempat dijadikan media/inang terakhir ialah tubuh manusia itu sendiri.

Mungkin bermutasi adalah cara meng-update diri bagi organisme parasit. Akibatnya, mutasi patogen dalam perkembangan sejarah pervirusan dunia telah lama berlangsung. Semisal Allamah Muhaqqiq Muhammad dalam al-Isya’ah li Asyrot al-Sa’ah mencatat bahwa virus Thoun yang menjadi wabah penyakit berbahaya dan menular di zamannya yang juga menewaskan ribuan hingga jutaan orang pun mengalami mutasi sebanyak lima kali, yakni Pertama, Thoun  Syirawaih, keduaThoun  Amwas. Ketiga, Thoun  al-Jarif, dan keempat  adalah Thoun  Fatayat, serta terakhir ialah Thoun  al-Asyraf.

Covid-19 bukanlah virus pertama dan terakhir (kendati tidak diharapkan), sebab inang tempat mutasi patogen atau bibit virus berparasit sudah semakin punah, akibatnya patogen secara alami berubah mengganas dalam tiap fase mutasinya. Hannah Hoag dalam Study Revives Bird Origin for 1918, mencatat sekitar satu abad terakhir tentang jenis baru atau bentuk mutasi baru patogen, yaitu Flu Spanyol yang dipercayai berasal dari patogen di unggas, menginfeksi seperlima populasi manusia di dunia dan sekitar 50 juta orang meninggal dunia.

Baca Juga :   Grab Luncurkan #KitaVSCorona Untuk Mitra dan Penumpang

Selain itu, pada tahun 1976, muncul wabah Ebola yang berasal dari patogen di kelelawar buah Afrika Barat menginfeksi 33.577 warga dan sebanyak 13.562 meninggal dunia. Selanjutnya muncul wabah H1N1 yang berasal dari patogen di babi pada tahun 2009, sekitar 1.632.258 orang terpapar oleh virusnya dan meninggal sebanyak 284.500 orang. Setelah tiga tahun berselang, muncul kembali wabah MERS yang berasal dari patogen di kelelawar, menjangkiti 2.494 orang dan sebanyak 858 orang meninggal dunia.

Seiring perjalanan waktu, ada banyak penyakit diakibatkan mutasi patogen yang terus menerus membanyangi manusia. Pada awal abad 21 juga muncul wabah bernama SARS, jumlah orang terinfeksi oleh virusnya sekitar 8.096 orang dan sebanyak 774 orang meninggal dunia. Dan Covid-19 merupakan patogen baru hasil dari evolusi SARS tersebut.

Dari historis dengan seabrek data di atas seharusnya dijadikan pengalaman dan pembelajaran. Samahalnya epidemi dan pandemi dimaksud, akibat dari Covid-19 juga menimbulkan kepanikan, ketakutan dan kehilangan nyawa, bahkan dengan kecepatan sebarannya menambah bumbu horor merasuk ke dalam sendi kehidupan manusia.

Covid-19 menjadi semakin berbahaya karena ketidakmampuan pemerintah selaku penyelengara negara dalam hal pencegahan dan penanganan. Kecepatan sebaran Corona seperti sama dengan pesan di media sosial – dianggap masyarakat sendiri yang harus pintar menangkalnya, sehingga kebijakan pemerintah mengatur penanggulangan ancaman krisis ekonomi lebih utama dibandingkan pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19 itu sendiri.

Tidak bisa dipungkiri pemerintah Jokowi-Amin memang sudah bekerja, namun kerja-kerja negara dalam pencegahan dan penanganan harus dimaksimalkan, menggingat beratus-ratus korban terjangkit Corona bertambah setiap harinya, maka suatu kewajiban belajar dari pengalaman masa lampau, termasuk belajar dari negara yang telah berhasil dalam penanganannya.

Mempelajari sejarah artinya mampu menginsyafi bumi sebagai tempat-huni semua mahluk hidup yang membutuhkan keseimbangan, dan belajar dari pengalaman masa lalu artinya mampu secara dialektika melakukan pencegahan dan penanganan ketika sejarah (tempat dan waktu berubah) kembali terulang.

Pandangan menjaga kepentingan ekonomi nasional sudah tepat, tetapi memandang keselamatan warga adalah hal yang paling pertama dan utama. Krisis adalah dampak dari Corona, bukan sebaliknya. Membiarkan virus berkeliaran bebas menjangkiti masyarakat akan menambah parah krisis itu sendiri. Covid-19 merupakan 100 persen virus impor, artinya segera negara memberhentikan penerbangan umum, termasuk jalur darat dan laut sebagai pintu masuk-keluar Corona.

Baca Juga :   Kartini di Pentas Demokrasi

Sekali lagi Covid-19 adalah Pandemi Global, penyebarannya mencerminkan mudahnya dan fluiditas mobilitas Corona lintas ruang dan jaringan yang melintasi setiap batas negara. Maka tidak ada kata tidak; jalan atas dan jalan bawah harus ditempuh oleh Indonesia.

Jalan atas adalah mengajak musyawarah kepala-kepala negara untuk melakukan kerja besar yang hanya bisa dilakukan dengan berkerja sama dan kerja bersama untuk mempercepat pengembangan vaksin dan obat Covid-19. Dan Jalan bawah ialah pemerintah responsif dan masyarakat partisipatif.

Corona adalah masalah global, sudah menjadi kepentingan umat manusia untuk mengentaskannya. Lebih dari itu, kekuatan negara ketimbang “menghimbau” dan “mengharap” lebih baik digunakan sebagai hak privilege-nya menjadi katalisator menghimpun negara-negara di dunia melakukan pengembangan vaksin sembari juga pengembangan obat untuk penderita yang telah terpapar, agar nyawa manusia tidak melayang akibat Covid-19. Kerja-kerja ini adalah legacy yang baik bagi periode terakhir pemerintahan Jokowi-Amin, sejarah akan mencatatnya apalagi dunia sedang menantikan katalisator tersebut di saat Amerika dan China sibuk saling serang terkait siapa yang paling bertanggung jawab atas pandemi global ini.

Selanjutnya dengan jalan bawah dapat mengurangi kepanikan warga terhadap penyebaran Covid-19. Responsifitas pemerintah pusat hingga daerah menjadikan negara lebih peka melihat dan mendengar masyarakat.

Selain itu, semua elemen warga negara juga harus mengambil peran partisipatif, berdasarkan protokol kesehatan bahu membahu bekerja sama melawan Corona. Intinya yang di depan kasih teladan (jangan mencla-mencle), yang di belakang memberikan dukungan. Bersatu, bersolidaritas, saling menguatkan, jangan saling menyalahkan apalagi mau mengambil keuntungan dalam kesusahan. Dan selagi musim Corana tinggalkan semua urusan, kecuali urusan kemanusiaan.

Hingga saat ini belum ada yang dapat memprediksi kapan Corona akan berakhir. Untuk melindungi keberlanjutan spesies manusia di masa depan dan alam semesta secara keseluruhan, tetaplah jaga kesehatan sampai vaksin dan obat Covid-19 ditemukan, dan teruslah berdoa agar Allah, Tuhan YME membukakan jalan yang terbaik untuk membebaskan kita semua dari Covid-19 dan segala macam pandemi lainnya secara tepat dan cepat. Amin YRA


Penulis: Prasetyo Nugraha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here