Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Palembang Madani Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern

Palembang Madani Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern

Tanggal : Pukul :
603
0
Palembang Madani Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern - Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H.
Palembang Madani Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern - Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H.

Kembalikan Kejayaan Palembang Darussalam begitu judul berita di DetikSumsel.Com pada 2 Mei lalu. Judul berita ini sebagai kesimpulan dari tujuan digelarnya Festival Palembang Darussalam (FPD) 2017. Menarik memang apa yang dicita-citakan Kerukunan Keluarga Palembang, sebuah organisasi berbasis kedaerahaan di kota Pempek ini, dengan cara berkaca kembali pada sejarah Palembang yang pernah mengalami masa keemasan (golden age) ketika zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Caranya seperti apa? melalui tema FPD tahun ini, yakni, Melestarikan Budaya Islami Palembang Darussalam untuk Menuju Masyarakat Madani.

Bagi penulis, melestarikan Budaya Islami Palembang Darussalam sama halnya dengan mengembalikan ruh pada raganya, sehingga Palembang yang saat ini memasuki tahapan pembangunan yang begitu pesat tetap tidak kehilangan value core dan tidak tergilas oleh aspek-aspek minus kemajuan zaman. Kesadaran ini sesungguhnya adalah sebuah kesadaran yang wajar bagi setiap individu yang berdarah Palembang, namun saat ini justru kesadaran inilah yang hampir terlupakan kala dihadapkan dengan hadirnya banyak hal baru yang mengatasnamakan “kemodern-an”.

Bagaimanapun, Palembang abad modern ini tidak boleh meninggalkan intisari dari kejayaan Palembang yang pernah bersinar di masa Kesultanan Palembang Darussalam dengan keutuhan konstituen yang lebih kita kenal sebagai masyarakat madani (civil society). Kesadaran ini pernah dituangkan oleh ketua KKP Palembang, Kgs H Abdul Rozak melalui tawaran gagasan Palembang Madani sebagai Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern. “Kita ingin mengembalikan kejayaan Palembang Darussalam pada abad modern, dengan menciptakan masyarakat Palembang Madanidengan cara menjaga tradisi kebudayaan Islam yang menjadi akar masyarakat,” kata Rozak sebagaimana dikutip di laman berita DetikSumsel.Com.

Sebelum memahami bentuk masyarakat madani dalam konteks kearifan Palembang yang dimaksud dalam gagasan tersebut, penting kiranya kembali pada konsep dasar masyarakat madani itu sendiri. Sebenarnya, konsep “masyarakat madani” merupakan penerjemahan atau pengislaman konsep “civil society”. Dari berbagai literatur menyebutkan bahwa orang yang pertama kali mengungkapkan istilah ini adalah Anwar Ibrahim saat menjadi narasumber pada simposium Nasional dalam rangka forum ilmiah pada acara festival istiqlal, 26 September 1995 lalu. Kemudian, dikembangkan di Indonesia oleh Nurcholish Madjid. Pemaknaan civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah dianggap sebagai legitimasi historis ketidakbersalahan pembentukan civil society dalam masyarakat muslim modern.

Baca Juga :   Idul Fitri: Fitrah dan Membangun Ukhuwah

Mengembalikan Kejayaan Palembang Darussalam

Jika merujuk dari apa yang dicita-citakan oleh KKP melalui FPD ini, maka jelas konsep Palembang Madani ini, ingin menjadikan masyarakat Palembang sebagai masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Mengapademikian? Dahulu Palembang telah mengalami dua fase kejayaan. Yakni, ketika menjadi pusat dari Kerajaan Sriwijaya dan kemudian fase kedua, masa Kesultanan Palembang Darussalam. Pada fase ini, Palembang menjadi pusat perdagangan dan pusat ilmu pengetahuan, hal ini ditandai dengan lahirnya ulama masyhur dunia asal Palembang yaitu Syekh Abu Shomad al-Palimbani, serta maraknya lalu lintas perdagangan di Sungai Musi. Pasca kedua fase tersebut, kini Palembang berada menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Ibu Kota Provinsi Sumatera selatan. Pada fase ini Palembang tetap menjadi pusat perdagangan, pusat pemerintahan, pusat ilmu pengetahuannamun skupnya mengecil hanya di tingkat provinsi. Artinya perlu kerja keras untuk mengembalikan kejayaan Palembang sebagaimana fase Kesultanan Palembang Darussalam yang pernah ada. Kita semua pastinya tidak ingin, Palembang hari ini hanyalah Palembang yang kita banggakan akan kejayaan masa lalunya. Tapi harus menjadi spirit kita bersama bahwa Palembang adalah Kota yang penuh dengan sejarah hebat, hebat orangnya, hebat sistemnya dan hebat infrastrukturnya. Sehingga itu bisa memotivasi kita untuk mengembalikan lagi Kejayan Palembang Darussalam.

Hanya saja, yang membedakan Palembang pada fase sebelumnya dengan Palembang abad Modern adalah Palembang yang rentan akan kearifan lokalnya. Apa saja itu? kearifan lokal ternyata tidak hanya tertuang dalam kesenian dan kebudayaan saja. Tapi juga karakteristik masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Juga kearifan terhadap alam sekitar sebagai basis kemajuan.

Palembang Madani Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern

Konsep Palembang Madani menjadi salah satu solusi mengembalikan kejayaan Palembang Darussalam di abad modern ini. Sebab, beberapa karakteristik masyarakat madani sangat tepat jika diuraikan sebagai garis tujuan Palembang yang kini sangat pesat dalam pembangunan infrastruktur dan penyembangan nilai-nilai Sumberdaya Manusia.

Baca Juga :   Calon Independen: Peluang atau Tantangan?

Adapun karakteristik Palembang Madani yang diharapkan nantinya, adalah terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat. Lalu, terciptanya perkembangan modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok.

Kemudian, tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan, dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial. Lalu, Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forumpengembangan isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik.

Dari sisi sosial, adanya kohesifitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan. Adanya jaminan, kepastian dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya. Terakhir, terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.

Penulis bermimpi, konsep Palembang Madani sebagi Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern ini segera terwujud. Tapi ini sekali lagi bukan perkara mudah, secara bersama-sama kita butuh membuka mata, bangun dan membulatkan niatan yang tulus dan disertai ketegasan dari stakeholder untuk merealisasikanya. Karenanya, Palembang abad Modern ini harus memiliki pemimpin yang berani mengambil langkah konkrit tersebut, selayaknya tangan dingin Sultan Mahmud Badaruddin II ketika memimpin Palembang Darussalam. Palembang memang harus dipimpin oleh orang yang tidak hanya pintar dan memilik kekuatan modal politik saja, tapi juga ia yang mengerti sejarah, kaya empati dan memiliki pandangan serta gagasan berlandasakan kearifan lokal. Sehingga dalam setiap kebijakannya tidakmengancam bahkan menghilangkan identitas serta karakter daerah dari segala lini. Pembangunan dan Inovasi adalah tanda kemajuan suatu wilayah namun tidak boleh bersebarangan dengan culture identity value yang ada. Memisahkannya merupakan kemerosotan dan menyatukannya akan melahirkan nilai identitas budaya yang lebih baik. Wallahu ‘alam bishawab.

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi DetikSumsel.Com

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here