Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Daerah Merawat Keutuhan NKRI, Menebar Islam Damai

Merawat Keutuhan NKRI, Menebar Islam Damai

Tanggal : Pukul :
392
0
Merawat Keutuhan NKRI, Menebar Islam Damai - Hernoe Roesprijadji, SIP
Merawat Keutuhan NKRI, Menebar Islam Damai - Hernoe Roesprijadji, SIP

DEWASA ini, Bangsa kita diresahkan oleh fenomena merosotnya nilai kemanusiaan, digelisahkan oleh kekacauan, dan berbagai agenda adu domba yang menyeret umat kepada aksi saling lapor antar sesama serta tersebarnya berita HOAX yang memicu perpecahan umat. Bahkan, hampir setiap hari kita disuguhi tampilan Islam yang dibawakan secara tidak ramah, sementara sesama muslim saling marah. Dunia pun bertanya-tanya di mana perilaku rahmah dari agama yang katanya menebar kedamaian, yang membawa kasih sayang.

Mungkin kita telah menjadi saksi, bahkan menjadi pelaku peristiwa sejarah perubahan besar pada Mei 1998, yakni transisi demokrasi dari Orde Baru menuju Orde Reformasi. Reformasi yang diusung menuntut dibukanya kran kebebasan seluas-luasnya dalam hal menyampaikan pendapat dan berserikat. Dari kondisi demikian mendorong berbagai faham masuk tanpa filter yang jelas, dari mulai liberalisme, sosialisme, hingga fundamentalis. Globalisasi juga turut mendorong kebebasan, dengan perkembangan teknologi informasi dan kebebasan media yang semakin sulit dikontrol, menjadi faktor penting dalam mempengaruhi pergeseran budaya dan tata nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

NU (Nahdlatul Ulama) sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan terbesar di dunia, telah mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Konstribusi NU sebagai penjaga marwah kebangsaan dari mulai awal berdirinya (31 Januari 1926 M bertepatan 16 Rajab 1344 H) hingga kini memiliki tugas yang tidak mudah dan sedang menghadapi jalan terjal. Ujian berat ini, menuntut semua elemen NU baik secara struktural dan kultural untuk bersama-sama bergerak dalam kerangka mempertahankan nilai-nilai moral/local wisdom dengan tetap berpegang teguh dalam konsep Islam rahmatan lil alamin dan konsitusional negara-bangsa.

Pergeseran Nilai

Masyarakat Indonesia yang terkenal kesantunannya, kasih sayangnya, “guyub rukun”, menjadi raw model bagi bangsa lain dalam penataan kehidupan berbangsa dan bernegara secara ideal. Dalam kekinian wajah santun itu tiba-tiba berubah secara drastis manakala kebebasan demokrasi mulai digulirkan. Faham-faham liberalis, sosialis, dan fundamentalis berebut pengaruh untuk memperoleh simpati masyarakat. Kebencian, permusuhan, dan propaganda sengaja dikobarkan dan masyarakat secara sengaja dikotak-kotakkan dalam kepentingan ideologi, politik, dan faham keagamaan. Berbagai media cetak, elektronik, maupun media sosial tidak lepas dari perhatian kelompok-kelompok ekstrimis ini untuk menyebarkan pengaruh ideologinya.

Baca Juga :   Calon Tunggal Melawan Tabung Kosong

Sebut saja aksi terorisme yang baru saja terjadi pada 14/1 di Thamrin Jakarta tahun lalu serta berbagai aksi lainnya yang menyeret wajah Islam tidak lagi aman dan ramah bagi kehidupan berbangsa. Pada sisi lain, hegemoni kebebasan yang mengatasnamakan HAM (Hak Asasi Manusia) ternyata juga merubah pergeseran pola prilaku masyarakat dalam bentuk kebebasan individualisme, konsumerisme, hedonisme yang mengedepankan kepentingan individu dibanding kepentingan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian nilai-nilai ketimuran bangsa Indonesia yang selama ini kita pegang teguh, dengan mengedepankan musyawarah, sopan santun, dan “tepo seliro” (tenggang rasa) pun secara otomatis luntur nyaris tidak tersisa.

Sisi lain dari pergeseran nilai disebabkan juga oleh pertarungan ideologi global. Dimana pengaruh faham liberalisme, sosialisme, dan fundamentalisme sebagaimana diperankan oleh Blok Barat (AS dan sekutunya) dan Blok Timur (Rusia dan sekutunya), serta Al Qaeda dan ISIS cukup signifikan mengeser pola perilaku masyarakat. Kawasan Timur Tengah misalnya, telah menjadi medan tempur dalam perang perebutan pengaruh geopolitik global. Agenda misi global ini suka atau tidak juga berdampak kepada Indonesia. Meski tidak terjadi kontak secara fisik, namun perang asimetris dalam bentuk pertarungan opini, propaganda, dalam penyebaran ideologi telah bergerak secara masif.

Menebar Islam Damai

Tugas utama yang di emban oleh NU adalah menjaga moral bangsa, dan mempertahankan budaya dan keberagaman bangsa, sejalan dengan Pancasila dan UUD-1945, sebagaimana amanah para founding fathers, pendiri bangsa Indonesia ketika gagasan Negara Bangsa ini dibentuk. Sikap toleransi dan menghargai keberagaman yang selama ini kita junjung tinggi faktanya telah mengalami pergeseran. Bukan hanya itu, perbedaan ideologi pun menjadi pemantik kebencian antar sesama, baik dalam lingkup budaya, ekonomi, maupun keyakinan (agama).

Islam sebagai agama yang dianut mayoritas warga di negeri ini, sejatinya telah meletakkan fondasi yang kokoh dalam menghargai perbedaan. Sasaran dari keberhasilan dalam beragama Islam adalah terciptanya masyarakat yang berbudi pekerti dan akhlak yang luhur sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Anbiya ayat 107 yang berbunyi “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (sebagai rahmat bagi seluruh alam)”. Memaknai firman Allah SWT tersebut, keberadaan Islam dihadirkan dimuka bumi ini mengandung tugas penting bagi penganutnya untuk menciptakan keteraturan dan membawa pesan perdamaian dan keselamatan, agar Islam sendiri menjadi rahmat bukan hanya bagi pemeluknya, namun juga bagi seluruh umat manusia dan alam seisinya.

Baca Juga :   KELIRUMOLOGI TAHUN POLITIK.!!!

Memperingati hari lahir ke-91 ini, NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang telah mengakar secara kultur dan keagamaan, berkepentingan mengajak seluruh elemen bangsa dalam mengagas ulang serta melakukan restorasi pemikiran tentang keIndonesiaan yang rukun, aman, damai, dan penuh toleransi serta penuh kasih sayang. Dalam meletakkan pondasi amaliyahnya, Ahlussunnah wal jamaah Al Nahdliyyah memiliki lima konsep penting yakni, reformasi (Islahiyyah), keseimbangan (Tawazuniyyah), sukarela (tatawuiyyah), sopan santun (akhlaqiyyah), toleransi (tasamuh). Dari kelima konsep tersebut juga sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia untuk menuju bangsa yang berkemakmuran, berkepribadian, dan memiliki sikap saling menghargai dalam keberagaman.

Sebagai organisasi keagamaan yang menyatu dengan kultur bangsa, NU harus menjadi titik temu bagi seluruh konsepsi Islam yang ada di Indonesia, baik itu kaum Wahabi, Sunni, Syiah, dan lain sebagainya. Konsepsi ini guna mendorong semangat persatuan, dan upaya untuk mencari titik temu dan membangun toleransi untuk saling menghargai, demi terciptanya masyarakat yang beradab. Dalam hal ini, NU tidak dalam posisi membenarkan dan menyalahkan terhadap ideologi yang dianut oleh masing-masing kelompok. Lebih dari itu, demi kepentingan bangsa dan negara NU akan berada ditengah-tengah sebagai upaya menjembatani seluruh kepentingan yang ada, guna menjaga keteraturan nilai-nilai baik secara formal (UU), maupun kebudayaan sebagai upaya menjaga kearifan lokal karena langkah NU menebar Islam damai adalah untuk merawat keutuhan NKRI.

Penulis adalah Wakil Ketua PWNU Sumsel dan Dewan Pakar MPII Sumsel

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here