Detik
Meraih Keberkahan Seperti Keluarga Nabi Ibrahim
Oleh: Abdul Malik Syafei, S.HI.,MH

Meraih Keberkahan Seperti Keluarga Nabi Ibrahim

Hari-hari ini, terasa berat bagi kita, ujian dan cobaan datang menguji ketaqwaan dan keimanan kita. Terbaru, virus corona contohnya, telah mengasah loyalitas kita kepada Allah Swt, seberapa sabar kita menghadapinya, dan seberapa kualitas keimanan kita, dalam mensyukuri hikmah dibalik musibah ini.


Seharusnya, di saat-saat seperti ini, ueforia ibadah haji menggema, ummat muslim dari seluruh penjuru dunia, berbondong-bondong menuju tanah suci untuk menyempurnakan rukun islam yang kelima. Tapi, kahadiran pendemi ini, telah berdampak terhadap niat ibadah haji ummat Muslim, terutama asal Indonesia karena tertunda keberangkatannya. Ibadah haji tahun ini dibatasi untuk penduduk sekitaran Arab Saudi saja. Tidak ada jaminan tahun depan apakah bisa berangkat karena anti virusnya belum ditemukan dan entah kapan karena sekarang baru sebatas prediksi. Terpukulnya ekonomi akibat pendemi ini juga dirasa terhadap ibadah kurban yang tidak seramai tahun sebelumnya.

Berat rasanya, tapi ini bukan menjadi penghangcur semangat kita untuk mengambil hikmah dan pelajaran dalam menerima ujian dari Allah Swt Allah. Sesungguhnya, ujian ini belumlah seberapa dari ujian yang diberikan Allah kepada Nabiulah Ibrahim AS. Meskipun ibadah haji tahun ini di batasi, ummat muslim Indonesia ditunda keberangkatan hajinya, ibadah qurban menurun kuantitasnya, tapi kita tetap dapat mengambil ibroh dari perjalanan Nabi Ibrahim beserta keluarganya, yang mana ibadah haji dan qurban, tidak terlepas dari kisah dan ajarannya. Laqodkana lakum fihim uswatun hasanan (Sesungguhnya pada Nabi Ibrahim dan Keluarganya terdapat tauladan yang baik)
Keluarga Penuh Keberkahan

Kenapa kita perlu meneladanai Nabi Ibrahim dan keluarganya? karena keluarga ini adalah keluarga yang diberkahi Allah SWT. Dalam setiap tahyatul akhir setiap shalat, kita selalu membaca doa: Wa barik ala syaidina Muhammad wa ala ali syaidina Muhammad. Kama Barokta Ala Syaidina Ibrahim wa ala syaidnina ibrahim. (Ya Allah berkahilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana engkau memberkahi nabi Ibrahim dan keluarganya).

Berkah dalam bahasa Arab dimaknai nikmat, sementara dalam arti luas bermakna “Sebuah karunia Allah SWT yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Atau dalam bahasa mudahnya berkah bermakna segala sesuatu yang banyak dan melimpah baik materi maupun bathiniyah, yang kesemuanya mendatangkan kebaikan yang bertambah-tambah.

Lalu, pertanyaannya bagaimana agar kita bisa mendapatkan keberkahan hidup seperti Nabi Ibarahim AS? apa resep keluarga ini, yang bisa kita petik dan terapkan dalam membangun keluarga dan kehidupan bermasyarakat agar supaya dapat tercatat juga sebagai keluarga yang diberkahi Allah Swt?

Banyak sekali pelajaran yang bisa kitaterapkan dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS, tapi setidaknya ada tiga gambaran yang bisa teladani.

Pertama, Nabi Ibrahim beserta keluarganya adalah keluarga yang Istiqomah dalam ketaqwaan kepada Allah Swt. Patuh akan perintah tanpa ada negosiasi, tanpa ada alasan. Patuh kepada Allah Swt tanpa syarat. Bayangkan saja, Nabi Ibrahim lama sekali tidak memiliki keturunan, menanti kehadiran putera, digambarkan dalam Alquran rambutnya sampai memutih, kisaran umur 90-an tahun, baru mendapatkan anak. Tapi, setelah sekian lama menunggu, sedang senang-senangnya, dapat perintahkan Allah untuk mengasingkan anaknya yang bernama Ismail dan istrinya Siti hajar karena ada kecemburuan dari istri pertamanya.
Ketika itu perintah Allah, maka Nabi Ibrahim langsung taat. Begitu juga sikap istrinya.

Baca Juga :   Dalami Pengelolaan Kerjasama Media, Pemkab Banyuasin Belajar ke OKI

“Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu untuk melakukan ini?.” tanya Hajar saat akan ditinggalkan di tengah gurun yang tandus tak bertuan.

“Benar” jawab Ibrahim.
“Kalau Allah yang memerintahkan demikian ini, niscaya Dia tidak akan menyia-nyiakan kami,” ungkap Siti Hajar taat, tanpa ada keluhan tanpa ada alasan.

Begitu juga ketika diperintahkan Allah Swt untuk menyembelih Ismail Anaknya, setelah anaknya beranjak remaja, dan sedang bahagia-bahagianya, Nabi Ibrahim datang dan berdialog dengan anaknya. Kisah ini diabadikan dalam al-Qur’an:

‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, Maka pikirkanlah apa pendapatmu’.
Apa Jawab Ismail?

’Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ (As Shaaffaat: 102)

Itulah potret keluarga penuh keberkahan, selalu ada dialog dalam setiap mengambil keputusan, walaupun keduanya tahu bahwa jika itu perintah Allah, maka tidak ada kata lain kecuali sami’na wa atha’na (Kami dengar dan kami ta’ati).

Ketika nabi Ibrahim akan mengurbankan anaknya, maka Allah ganti dengan domba yang besar dan sehat. Peristiwa inipulah lah, yang kini menjadi ajaran ibadah qurban dalam setiap lebaran haji. Mengandung dimensi ketuhanan karena wujud ketaqwaan dan kemanusian karena terdapat nilai berbagi dalam ibadah ini.

Kedua, keluarga nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk ikhtiar dalam hajat yang kita inginkan. Dalam gurun yang tandus, Siti Hajar kehabisan air, dan puteranya Ismail kehausan. Jika kita lihat secara logika, tidak mungkin ada air di gurun yang tandus, tapi Siti Hajar tidak mau menyerah, ia terus berusaha dengan lari-lari kecil, dari bukit shafa ke bukit marwah, ia tahu ini tidak mungkin, tapi terus berlari-lari sebagai wujud ikhtiar, tidak mau menyerah dan pasrah begitu saja dengan keadaan. Barulah, setelah berputar 7 kali, tanpa diduga, air justru keluar dari tanah hentakan kaki Bayi Ismail. Air inilah, yang kemudian dikenal dengan sumur zam-zam, yang tidak pernah kering dan membasahi dahaga seluruh tenggorokan ummat muslim se-dunia.

Andai, Allah Swt ingin memberikan air, bisa saja langsung diberikan, karena ini kuasa-Nya. Tapi Allah tetap ingin melihat ikhtiar dari hambanya. Lari-lari kecil ini, kemudian dikenal sebagai Sa’i yang masuk dalam rukun dalam ibadah haji. Sa’i asal katanya dari Sa’a artinya berlari yang menunjukkan bahwa kita harus ikhtiar dalam kehidupan ini.

Allah Swt berfirman:
Innallaha la yughaiyiruma bi qoumin hatta yuqhoiyiruma bi anfusihim. (Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga ia berubah nasibnya sendiri)

Ketiga, setelah bertaqwa, berikhtiar, Nabi Ibrahim mengajarkan kita agar selalu berdoa dan pasrah kepada Alla Swt. “Faiza azamta, fatawakkal alallah” ketika engkau memiliki keinginan maka pasrahkanlah (berdoalah) kepada Allah Swt. Nabi Ibrahim kita ketahui lama tak memiliki keturunan, tapi beliau tak berhenti untuk berdoa kepada Allah Swt. Robbi Habli Minasshalihin “ya Allah berikanlah kami keturunan yang shaleh-halehah”. Terus ia panjatkan, sampai lama usianya menua, dan barulah Allah berikan keturunan bersama istrinya Siti Sarah usia 100 tahun-an dan informasi ini langsung dari malaikat, ketika semua manusia berkata tidak mungkin. Berkat doa dan kesabarannya, Nabi Ibrahim dikaruniai putera bernama Ishak yang garis keturunannya kemudian melahirkan bangsa yahudi Nabi Ya’kub, Nabu Yusuf sampai ke Nabi Isa As. Sementara puteranya Ismail keturunannya kebawah melahirkan Nabi Muhhamad Saw.

Baca Juga :   Kurangi Jumlah Lahan Terlantar Pemkab OKUT Terus Lakukan Cetak Sawah

Begitu juga saat beliau berhadapan dengan raja Namrud, tidak bisa menghindari masuk ke dalam api, beliaupun berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah, Hasbunallah wa ni’mal wakiil (cukup lah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung).

Nabi ibrahim mengajarkan kita agar menjadikan doa sebagai senjata dan jangan meminta kepada selian kepada-Nya. Dengan keyakinan, bahwa tidak ada doa yang tertolak, karena semua doa di dengarkan oleh Allah Swt. Karena ini janjinya, Ud u’ni Astajib lakum (memintalah kepadaku, maka akan aku akbulkan) yakinlah bahwa doa kita didengarkan oleh Allah Swt.

Hanya saja memang, pengkabulan doanya bisa jadi tidak sesuai dengan keinginan kita, karena Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita. Cara Allah mengabulkan doa beragam, ada yang dikabulkan sesuai keinginan, ada yang dipending sampai waktu yang tepat, sehingga indah pada waktunya, dan ada juga yang diganti dengan yang lebih baik karena Allah maha mengetahui, Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun…

Yakinlah, dan mintalah kepada Allah, pasti dikabulkan, jangan berharap pada manusia, karena akan kecewa. Allah mendengar doa kita, karena Ia sangat dekat dengan kita, Wa’idza sa’alaka i’badi ‘anni (Apabila ada hambaku bertanya tentang aku ya Muhammad) fa’inni qorib (aku dekat) ujibu da’watad da’i idza da’an (aku mengabulkan doa hambaku yang meminta) (QS. Al-Baqarah: 186).

Sabar dan Syukur
Teladan Nabi Ibrahim dan keluarganya yang istiqomah dalam ketaqwaan, ikhtiar dalam hajat dan tawakkal dalam doanya, dapat kita contoh dalam penerapan kehidupan, dan berkeluarga sehari-hari. Kunci dari keberkahan keluarga ini, juga selalu sabar dalam ujian, dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. Semoga kita bisa meneladaninya dan momentum Idul Adha (hari raya kurban) dapat mengambil hikmah dari pristiwa-priwstiwa besar dari pengorbanan Nabi Ibrahim. Mari kita berdoa agar kita dan keluarga kita juga tercatat sebagai keluarga yang diberkahi Allah Swt sebagaimana keluarga Nabi Ibrahim AS dan keluarga Nabi Muhammad SAW….Amin

Wallahua’lam bisshawab………..


*Penulis adalah Wakil Sekretaris PWNU Sumsel/Ketua Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Sumsel

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC

About Raam

Raam

Check Also

Pasal Upah, Pasutri Asal Empat Lawang Dibantai

Lahat, Detik Sumsel — Nasib naas dialami Zakani (55) dan Nur Aini (50) warga Pasar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *