Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Mengetuk Kesadaran Orangtua Membangun Budaya Literasi Keluarga

Mengetuk Kesadaran Orangtua Membangun Budaya Literasi Keluarga

Tanggal : Pukul :
392
0

Keterbukaan wawasan atau literasi menjadi salah satu dari tiga komponen utama proyeksi pendidikan abad 21 untuk menghasilkan generasi emas yang siap menghadapi tantangan di masa depan agar tidak tergilas oleh zaman.


┬áLiterasi menjadi poin ketiga setelah pendidikan karakter (moral dan kinerja) dan pendidikan kompetensi (berpikir kritis, kreatif, komunikatif & kolaboratif atau bekerja sama). Jika tiga komponen utama tersebut dikerjakan dengan serius di ruang – ruang keluarga dan ruang kelas, maka anak akan siap menghadapi berbagai perubahan di masa depan.

Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, literasi yang harus dipikirkan saat ini tidak hanya Calistung (Baca, Tulis, Hitung), minimal enam literasi yang harus dikuasai sesuai kesepakatan World Economic Forum pada tahun 2015, yakni literasi baca tulis, literasi budaya, literasi teknologi, literasi sains, numerasi dan literasi keuangan.

Kunci dari semua literasi ini adalah literasi baca. Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan tentang banyak hal mengenai kehidupan. Membaca akan meningkatkan kemampuan memahami kata dan meningkatkan kemampuan berpikir, meningkatkan kreatifitas dan juga berkenalan dengan gagasan-gagasan baru.

Membaca adalah sebuah kegiatan yang ringan dan sederhana karena dengan membaca akan memiliki banyak manfaat. Fajar Rachmawati (2008: 4) menyebutkan manfaat membaca meningkatkan kadar intelektual, memperoleh berbagai pengetahuan hidup, memiliki cara pandang dan pola pikir yang luas, memperkaya perbendaharaan kata, mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia, meningkatkan keimanan, dan mendapatkan hiburan.

Namun sayangnya sedikit sekali masyarakat yang menyadari tentang manfaat dan pentingnya membaca ini, hal ini terlihat dari rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan Indeks minat baca di Indonesia yang dikeluarkan UNESCO pada 2012 mencapai 0.001. Artinya, pada setiap 1000 orang hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.

Fakta ini memprihatinkan karena mengingat membaca merupakan kunci utama untuk membuka pintu ilmu pengetahuan, membaca sebagai jendela dunia. Dengan kata lain, seseorang yang minim kegiatan membacanya akan menjadi orang tertinggal, tidak dapat mengembangkan diri karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki.

Banyak cara yang sudah dilakukan oleh pemerintah melalui Kemendikbud pemerintah menggalakkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Namun Gerakan Literasi Nasional (GLN) ini tidak dapat diwujudkan tanpa dukungan dari berbagai pihak. Literasi ini merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilakukan secara masif.

Gerakan literasi ini harus dimulai dari tiga poros utama, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Sebagai seorang pendidik saya sangat merasakan pentingnya keluarga dalam menunjang kemampuan membaca para siswa. Contoh nyata pentingnya keterlibatan keluarga adalah ketika saya kesulitan untuk meningkatkan keterampilan membaca beberapa siswa, untuk itu saya memanggil para orang tua siswa bersangkutan untuk mengajarkan anak-anaknya agar bisa membaca dengan lancar.

Dengan menjalin komunikasi yang baik dengan para orang tua, anak-anak kelas satu SD 42 Palembang yang belum bisa membaca jelang kenaikkan kelas, langsung bisa membaca dalam waktu dua minggu. Hal ini menjadi bukti bahwa keluarga menjadi awal tahapan efektif yang harus dilakukan untuk menghidupkan budaya literasi, karena keluarga sebagai salah satu unit terkecil yang ada di masyarakat dan terdekat dengan anak.

Keberhasilan lain yang dapat kita jadikan contoh untuk membangun budaya literasi di dalam keluarga adalah sebagaimana pengalaman Selebgram dan Penulis Buku Happy Little Soul, Retno Palupi Hening. Dalam bukunya Retno mengungkapkan dirinya tidak ingin Putrinya (Mayesa Hafsa Kirana) seperti dirinya yang tidak suka membaca sehingga pengetahuannya terbatas. Untuk itu, sejak umur 6 bulan Retno mengenalkan buku kepada Kirana dengan harapan Kirana mengenal buku sebagai mainan pertamanya. Harapan Retno Hening tidak bertepuk sebelah tangan, Kirana sangat mencintai buku dan sangat menikmati ketika dibacakan buku tentunya buku yang dikenalkan disesuaikan dengan umur anaknya mulai dari buku kain hingga buku bergambar hard cover.

Saya sebagai pengikut Retno Hening di Instagram sejak Kirana umur satu tahunan bisa melihat sendiri bangaimana manfaat dari apa yang dilakukan oleh ibu dua orang anak ini. Kirana tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mempunyai keterampilan membaca dan menulis dengan baik di usianya yang masih 4 tahun.

Namun sayangnya tidak banyak orangtua seperti Retno Hening yang punya kesadaran sendiri untuk membangun budaya literasi di dalam keluarganya. Masih banyak orang tua yang beranggapan literasi menjadi tugas sekolah.

Untuk mendukung terwujudnya Gerakan Literasi Nasional melalui budaya literasi keluarga ini hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset para orangtua tentang pentingnya membaca. Mindset para orang tua yang sebelumnya menganggap sepele urusan belajar membaca harus diubah. Orangtua harus membiasaan membaca sejak dini. Agar anak tak menjadi generasi gawai maka keluarga harus mengalihkan fokus mereka ke buku. Keluarga juga harus membuat kesepakatan untuk membaca buku setiap hari meskipun tidak harus berjam-jam.

Kedua keteladanan dan pemahaman, hal tersulit untuk mewujudkan literasi keluarga adalah keteladanan. Bisa dibilang mustahil menuntut kebaikan tanpa memberikan teladan. Seorang anak biasanya akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, ketika orang tua hobi membaca anak juga akan melakukan hal yang sama, tentunya dengan motivasi dan pemahaman tentang pentingnya membaca.

Ketiga adanya relawan literasi, relawan literasi ini sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah untuk mengubah mindset masyarakat, mengenalkan buku kepada masyarakat, dan menjadi fasilitasor literasi. Hal yang bisa dilakukan oleh penggerak literasi mulai dari memfasilitasi masyarakat agar lebih mudah membaca buku melalui pojok baca, perpustakaan keliling, atau hanya sekedar hamparan buku di taman-taman bermain yang ramai didatangi orangtua bersama anak-anaknya.

Keempat, peningkatan sarana dan prasarana penunjangan kegiatan membaca serta penyaluran buku gratis yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan melalui kegiatan Corporate Social Responsibelity (CSR)nya. Karena salah satu penyebab minimnya minat adalah karena kurangnya sarana dan prasaran penunjang kegiatan membaca.

Kelima pemberdayaan perpustakaan keluarga. Untuk membangun keluarga yang literat bisa dilakukan dengan menghadirkan perpustakaan di dalam rumah. Sumber informasi yang sangat aman dan akuntabel adalah perpustakaan, bukan gadget. Pemberdayaan perpustakaan keluarga ini menjadi salah satu langkah efektif untuk membangun budaya literasi keluarga.

Apalagi, saat ini tantangan dari majunya teknologi informasi dan komunikasi dirasakan sangat berat dan menghawatirkan. Terutama bagi para orangtua terhadap anaknya. Dengan pembinaan kemampuan literasi informasi yang diawali di lingkungan keluarga, diharapkan dapat memberikan edukasi kepada anak-anak dalam mencari, mengakses dan menggunakan informasi. Sehingga ada filter yang terbentuk dengan sendirinya.


*Penulis adalah Siti Olisa, S1 PGSD Unsri Angkatan 2008

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here