Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Politik Melalui FGD, F-PDI Perjuangan Cari Solusi Terkait Anjloknya Harga Karet

Melalui FGD, F-PDI Perjuangan Cari Solusi Terkait Anjloknya Harga Karet

Tanggal : Pukul :
306
0
Kegiatan FGD, F-PDI Perjuangan Bersama Para Stakeholder Karet Sumsel

Palembang, Detik Sumsel – Kendala terhadap harga karet yang anjlok membuat para petani di Sumatera Selatan (Sumsel) mengeluh. Bahkan, tak jarang pula beberapa petani karet memilih untuk menjadikan usaha perkebunan mereka sekedar usaha sampingan dan mencari alternatif usaha lainnya demi kelangsungan hidup.

Melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) atau kelompok diskusi fokus dengan bertemakan ‘Menggagas Alternatif Solusi Terkait Kesejahteraan Petani Karet di Sumatera Selatan’ yang diadakan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDI Perjuangan) DPRD Sumsel, diharapkan kedepan dapat mencarikan solusi dari persoalan yang ada saat ini, dengan mengajak stakeholder karet duduk satu meja,

“Kami ingin mengali lebih dalam, apa persoalan yang sebenarnya terjadi penyebab murahnya harga karet di Sumatera Selatan. Setelah memetakan persoalannya seperti apa, kemudian kami mencarikan alternatif solusi agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani karet di Sumatera Selatan,” ujar Sekretaris F-PDI Perjuangan, Robby Budi Puruhita di Ruangan F-PDI Perjuangan DPRD Sumsel, Rabu (21/11)

Melalui FGD tersebut, telah diketahui bahwa, ada beberapa faktor yang mempengaruhi anjloknya harga karet.

Robby mengatakan, murahnya harga karet dunia atau internasional juga merupakan salah satu pengaruh menurunnya harga karet.

Menurutnya, harga karet dunia saat ini berkisar pada angka 1,20 Dolar AS per kilogram (Kg). Jika dikalikan dengan kurs Rp. 14650, maka harga jual karet kering 100 persen sekitar Rp16500.

Dijelaskannya, 90 persen penjualan karet dunia saat ini lebih banyak mengarah kepada pabrik ban. Dengan kondisi, yaitu penawaran jauh lebih tinggi dari permintaan.

Baca Juga :   Seimbangkan Pengeluaran APBN dan Pemasukan Melalui Penggaetan Investor

“Persoalan karet ini sangat kompleks, ada keterkaitan faktor luar negeri, dan harga karet internasional,” kata Robby.

Robby juga menambahkan, masih banyaknya para petani yang belum mampu memproduksi karet secara baik dan benar juga merupakan faktor dalam negeri yang juga dapat mempengaruhi harga.

“Ini menjadi tantangan pemerintah daerah untuk bagaimana dapat meningtkan hasil produksi karet rakyat,” ujarnya.

Robby menjelaskan, saat ini Pemerintah Daerah telah mengadakan suatu Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan lahan karet/bokar (UPPB). UPPB yang menerapkan sistem lelang serta UPPB menyortir kualitas karet rakyat sehingga Kualitas baik tersebut akan dibeli dengan harga tinggi.

“Kita tidak bisa mengintervensi harga internasional. Saat ini bagaimana memperbesar skala produksi dengan mengefesiensi. Bagaimana kualitas baik, bagaimana yang selama ini satu hektar kebun karet menghasilkan satu ton karet menjadi menghasilkan dua ton,” kata Robby.

Ditambahkan Robby, di Asean ada empat negara ekspotir karet terbesar. Yakni, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Pada dataran kebijakan nasional, bagaimana mengupayakan empat negara itu duduk satu meja membicarakan harga karet dunia.

“Yang penting dari diskusi hari ini, kami sudah berhasil mendudukan beberapa stakeholder untuk berbicara soal karet. Jadi Fraksi PDI Perjuangan sudah berupaya memanggil pihak-pihak berkompeten untuk membicarakan satu meja, ini jarang terjadi,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K Edy mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik inisiatif F-PDI Perjuangan dalam mengumpulkan sejumlah pemangku kepentingan karet.

Baca Juga :   Revisi UU BPK, Komisi XI Minta Pendapat Pakar HTN dari Unsri

“Bagus, Fraksi PDI-P DPRD Sumsel berinisiatif megundang stakeholder karet membentuk forum diskusi permasalahan karet,” tuturnya.

Alex menjelaskan, kondisi yang ada saat ini merupakan suatu akibat dampak harga dunia. Dengan harga karet hari ini 1,20 Dolar AS/kg dengan kurs Rp14650, maka harga jual karet kering 100 persen sekitar Rp16500/kg. Sedangkan kekeringan getah karet petani hanya 50 persen. Belum lagi pengusaha karet harus mengelurkan ongkos ekspor. Sehingga, di tingkat pabrik harga beli karet petani Rp7000/kg.

Menurutnya, murahnya harga karet saat ini terjadi bukanlah semata ditentukan oleh perusahaan pabrik karet, namun hal tersebut merupakan faktor dari luar negeri.

“Beli rugi, pabrik karet sudah Senin Kamis. Rp8500 beli di petani, rugi 1000,” kata Alex.

Melalui diskusi bersama F-PDI Perjuangan, Alex menyampaikan bahwa F-PDI Perjuangan telah sepakat akan mencari jalan keluar.

“Misal dengan memanfaatkan karet sebagai pencampur aspal, dan membuat produk barang jadi dari karet. Bukan untuk diekspor tetapi dipakai dalam negeri,” pungkasnya.

Diketahui hadir dalam diskusi, yaitu Ketua F-PDI Perjuangan DPRD Sumsel M A Gantada, SH, MHum serta anggota fraksi, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel M Giri Ramanda N Kiemas, SE, MM, Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Fahrurrozi, dan Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Alex K Edy. Hadir pula dari Asosiasi Petani Karet Seluruh Indonesia (Apkrindo), Balai Penelitian Sembawa, serta sejumlah kelompok petani karet di Sumsel. (Rill)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here