Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Mahasiswa Unsri Indralaya Rela ‘Ngangkot’

Mahasiswa Unsri Indralaya Rela ‘Ngangkot’

Tanggal : Pukul :
1607
0
Mahasiswa Unsri berjibaku untuk mendapatkan kendaraan umum menuju kampus Unsri Indralaya. (Foto: Tohir/Detik Sumsel)

*Jumlah Angkutan Khusus Minim

Permasalahan angkutan bagi mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) dari Palembang menuju Indralaya, sekian lama belum juga teratasi. Mahasiswa harus berebutan untuk mendapatkan bangku di bus agar dapat menuju kampus.

Bahkan kini, mahasiswa harus lebih ‘ekstra’ untuk dapat mengikuti perkuliahan di kampus Indralaya. Jumlah bus yang semakin sedikit tidak sebanding dengan terus bertambahnya mahasiswa. Bus ‘pasar’ yang biasa ngetem di Pasar Cinde, tak lagi ada. Bus kuning dari kampus Bukit Besar pun semakin sedikit jumlahnya.

Mahasiswa hanya mengandalkan sekitar 15-20 bus Transmusi dan beberapa unit bus Damri.Alhasil, banyak mahasiswa yang nekat menghadang angkutan kota (angkot) biru Ampera-Bukit Besar untuk mengantar mereka ke Indralaya. Padahal, angkot tersebut seharusnya hanya melayani penumpang yang berada di Kota Palembang dan ‘ilegal’ jika membawa penumpang hingga ke luar kota.

Putri, seorang mahasiswi FISIP Unsri Indralaya yang mengeluh kerap terlambat jika ada perkuliahan pagi. Ia mengaku setiap tahun ajaran baru, jumlah mahasiswa terus bertambah. Sayangnya, jumlah angkutan khusus yang mengangkut mahasiswa semakin berkurang.

“Kalau benar-benar kepepet, terpaksa naik angkot biru. Kadang memang ditawari oleh sopirnya, ongkosnya Rp 15 ribu. Terpaksa daripada telat terus atau tidak masuk, padahal was-was naik angkot lewat jalan Palembang-Indralaya, kan banyak angkutan besar-besar yang lewat. Tapi mau gimana lagi,” ungkapnya.

Sama halnya dengan yang diungkapkan Efran, mahasiswa Teknik Sipil Unsri. “Kalau saya kadang ada kuliah siang, saya terpaksa dari kampus Unsri Bukit naik angkot Bukit ke Indralaya, soalnya kalau jam 13.00 siang, Trans Musi gak ada lagi yang ke Indralaya,” ujarnya.

Baca Juga :   Keliling Kampus, Kampanyekan Open Source untuk Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa

Dirinya juga mengatakan, jika menggunakan Trans Musi, dirinya hanya membayar biaya ongkos menuju Indralaya sebesar Rp 8 ribu. Sementara jika menggunakan angkot biasa, dirinya diminta untuk membayar seharga Rp 15 ribu.

Tampak angkot yang ngetem di kampus Unsri Indralaya

“Yang pasti kalau naik angkot yang nembak gitu, ongkosnya lebih mahal. Biasanya 15 ribu ongkosnya. Tapi gak apalah, yang penting kita nyampe kampus,” ungkapnya.

Senada dikatakan Astrid yang berharap pihak berwenang untuk menambah jumlah operasional bus.”Karena  biasanya kan jam 12.00 tidak ada lagi bus yang berangkat ke Indralaya. Jika terlambat sedikit saja, udah nggak kebagian bus lagi kita,” bebernya.

Baca Juga :   Desak Pemerintah Bergerak Responsif Bukan Reaktif

Ditambahkannya, ada juga sebagian bus mahasiswa khusus dari arah KM 12. Jadi, mahasiwanya jadi tinggal nunggu pinggir jalan. “Nanti naik bus itu asal SMS dulu ke sopirnya untuk janjian. Kalau saya dulu aku suka nebeng naek bus Mang Pen,” jelasnya.

Mahasiswa lainnya, Wawan juga mengaku harus berangkat lebih awal agar bisa kebagian bus. “Biasanya jam 06.30 pagi saja sudah ramai mahasiswa mau ke Indralaya di Unsri Bukit yang ngantri bus, jadi kalau tidak datang lebih awal bisa tambah kesiangan berangkat kuliahnya,” ucapnya.

Menanggapi banyaknya angkot yang membawa mahasiswa Unsri dari Palembang ke Indralaya, mendapat tanggapan dari Kepala Dishub Sumsel, Nelson Firdaus.

Untuk angkot yang dipakai untuk menarik mahasiswa ke Indralaya, ia menegaskan itu hal yang melanggar ketentuan.”Angkutan yang boleh melintas ke Indralaya itu adalah Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), bukan angkot yang kapasitasnya tidak sesuai,” pungkasnya. (DP/Bra/Fir)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here