Penghapusan Denda dan Bunga Pajak Kendaraan oleh Pemprov Sumsel
Bupati Muba Dodi Reza Alex, menjadi pembicara pada acara Aliansi Minyak Sawit Eropa / (EPOA) di European Palm Oil Conference, Madrid.

Lawan Kampanye Negatif Sawit di Uni Eropa, Dodi Paparkan Kondisi Sawit indonesia

Sekayu, Detik Sumsel -Tantangan terbesar yang dihadapi industri sawit nasional saat ini dan tahun-tahun mendatang adalah kampanye negatif luar negeri. Karena pihak  Uni Eropa  menganggap Industri sawit nasional tidak ramah lingkungan.

Padahal, kelapa sawit saat ini menjadi produk ekspor nomor satu di Indonesia dengan nilai US$ 20 miliar pada 2013. Meski menguntungkan, sawit mempunyai tantangan ke depan yang cukup berat dan harus disikapi dengan baik bila ingin tetap menjadi komoditas unggulan dalam waktu yang lama.

Sejumlah masalah di atas, sepertinya menjadi pokok pikiran paparan Bupati Muba Dodi Reza Alex, sekaligus sebagai Ketua Lingkar Temu Kabupaten Lestari atau Chairman of sustainable Districts Platform, Dodi dianggap punya banyak energi menuntaskan persoalan itu. Pada acara Aliansi Minyak Sawit Eropa / (EPOA) di European Palm Oil Conference, Madrid.

“Posisi Indonesia sebagai produsen terbesar kelapa sawit dunia  harus tetap eksis, sehingga saya bersama pembicara lainya dari Indonesia, yakni Enggartiasto Lukita, Menteri perdagangan  Republik Indonesia / Minister of Trade Indonesia) dan Dubes RI Arif Havas Oegroseno  untuk Negara Jerman (Ambassador Embassy of the Republic of Indonesia to Germany), akan berusaha memberikan penjelasan terbaik tentang kondisi sawit kita di hadapan dunia,” jelasnya.

Baca Juga :   Bertambah 11 Kasus Positif Hari Ini, Total Pasien Covid-19 Di Sumsel 210 Orang

Menurut orang nomor satu di Kabupaten Muba ini, ada sejumlah bekal mujarab yang akan dipaparkannya. Mulai dari potensi wilayah, luasan lahan kelapa sawit, hingga contoh program peremajaan kebun kelapa sawit  melalui pendanaan langsung dari pemerintah pusat untuk 4.446 hektare kebun kelapa sawit masyarakat Muba.

“Kini, replanting telah  berjalan dengan baik. Kita juga telah menjalin sinergitas dengan pemerintah pusat dan stakeholder terkait untuk dikembangkan demi meningkatnya hasil panen. Sehingg targetnya,  para petani kelapa sawit yang tadinya meraup 2 ton perhektare, menjadi 8 ton perhektare,” bebernya.

Di arena konfrensi Minyak Sawit Eropa   (European Palm Oil Conference,) EPOC 2018, Madrid Spanyol, dia mengaku, akan berusaha meyakinkan  pihak swasta industri sawit dunia, pemerintah Eropa serta para pakar minyak sawit dunia. Misi dan pesan  bahwa kelapa Sawit Indonesia Ramah Lingkungan menjadi topik utama paparan ini.

“Hal inilah yang harus disikapi dengan baik oleh semua pemangku kepentingan di industri sawit indonesia. Saya bersama pemerintah Indonesia akan memperjuangkan misi ini  di konfrensi Minyak Sawit Eropa. Dunia harus tahu industri sawit Indonesia ramah lingkungan dan berkelanjutan,” terang Dodi  yang akan berbicara pada 3 dan 4 Oktober 2018 mendatang.

Baca Juga :   Minimalisir Perkumpulan, DRA Ajak Tokoh Ulama dan Agama Sosialisasi Bersama

Menurut Dodi Reza Alex, konferensi ini juga meenghadirkan Yayasan Spanyol tentang Minyak Sawit Berkelanjutan, proyek Minyak Sawit Berkelanjutan Eropa, dan sejalan dengan Inisiatif Nasional Eropa untuk Minyak Sawit Berkelanjutan, Negara Penghasil Minyak Sawit dan ‘Deklarasi Amsterdam Group.  Pihak paling kompeten dalam industri sawit Eropa ini fokus dalam mendukung rantai suplai minyak sawit berkelanjutan sepenuhnya pada tahun 2020.

“Di konfrensi ini kita akan mengkampanyekan hasil kelapa sawit Musi Banyuasin dan  indonesia yang ramah lingkungan.  Hasil kelapa sawit kita lebih baik dan ramah lingkungan. Pelaku sawit dunia dan Eropa harus paham posisi Indonesia dan Muba dalam hal penghasil sawit terbesar dunia.  Tentu kedepan harga sawit Indonesia harus naik  dan meningkatkan pendapatan petani kelapa sawit kita,” tegas Dodi.

Untuk diketahui bahwa bahaya kampanye negatif kelapa sawit dengan, Uni Eropa (UE) yang mengeluarkan EU Labelling Regulation 1169/2011 mempersyaratkan pencantuman sumber minyak nabati secara spesifik untuk seluruh produk makanan yang beredar di UE. Selain itu Indonesia juga mendapat tuduhan dari UE atas produk biodiesel dan fatty alcohol. (edy)

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC
Lakukan Penukaran Uang

About Edy Parmansyah

Avatar

Check Also

Pasang Surut Penjualan Masker Ditengah Pandemi Covid 19

Palembang, Detik Sumsel — Sempat menjadi barang paling laris dan menjadi buruan masyarakat meski melambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *