Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Kreasi Uang Mahar Bisa Terancam Penjara 5 Tahun

Kreasi Uang Mahar Bisa Terancam Penjara 5 Tahun

Tanggal : Pukul :
325
0
Grafis/Ilustrasi: Raam/Detik Sumsel

Lipsus, Detik Sumsel- Bank Indonesia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak merusak uang Rupiah, tidak terkecuali, kepada para perajin mahar yang belakangan ini mulai marak dengan mengkreasikan uang kertas Rupiah asli menjadi mahar dengan berbagai bentuk.

Bank Indonesia Perwakilan Sumsel menyampaikan bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang UU Mata Uang Rupiah Pasal 35 mengatur bahwa setiap orang yang dengan sengaja merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan Rupiah sebagai simbol negara, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) UU tersebut, dapat dikenakan hukuman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

“Jadi kita tegaskan kembali bahwa bukan penggunaan uang Rupiah sebagai mahar yang dilarang, tapi yang dilarang adalah menjadikan uang Rupiah sebagai bahan untuk dikreasikan sebagai mahar dengan cara dilipat dan lainnya yang dapat merusak uang kertas tersebut, apabila mahar diberikan dalam bentuk uang utuh sebagai alat pembayaran tentunya tidak masalah,” tegas Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumsel, Yunita Resmi Sari kepada detiksumsel.com.

Baca Juga :   TOA dan Lagu Perjuangan Aktivis Tandai Pembukaan Rembuk Aktivis Sumsel

Dijelaskan, penggunaan uang asli dalam pembuatan hiasan mahar akan berdampak pada rusaknya uang rupiah. Pasalnya, uang akan digunting, distapler, diisolasi dan dilem.

“Kalau pakai uang asli, kemudian rusak, dan suatu saat akan ditukarkan, maka akan masuk dalam kategori uang lusuh,”¬†tegasnya lagi.

Dikatakan Yunita, BI Sumsel mencatat pada 2016 ada Rp 8 triliun uang tidak layak edar, pada 2017 ada Rp 6,6 triliun dan pada 2018 Rp 3,7 trilun.”Uang yang tidak layak edar tersebut mulai dari seribu rupiah sd seratus ribu rupiah, tapi didominasi oleh pecahan kecil,” bebernya.

Ia menghimbau agar masyarakat menyayangi rupiah dengan memelihara kondisi fisik Rupiah dengan baik sehingga tetap dalam kondisi layak edar. Pasalnya, uang lusuh yang kembali ke Bank Indonesia tersebut dimusnahkan dan diganti dengan uang rupiah dalam kondisi layak edar. “Dengan beredarnya uang layak edar lebih lama di masyarakat maka akan menciptakan efisiensi dalam pengelolaan uang rupiah,” terangnya.

Baca Juga :   Tiket MXGP Dibanderol Rp100 Ribu

Lebih jauh ia menghimbau agar masyarakat jangan merusak uang. Jika memang ada uang lusuh bisa ditukarkan di bank terdekat. Pelayanan penukaran uang lusuh di Bank Indonesia dilakukan setiap Kamis dan melalui kegiatan kas keliling, antara lain ke pasar tradisional atau daerah-daerah terpencil yang belum terlayani oleh perbankan.

“Disamping itu, kami juga menggalakkan Gerakan Nasional Non Tunai melalui kerjasama dgn berbagai pihak antara lain Pemda terkait elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah,” pungkasnya.(may)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here