KPU Sumatera Selatan

Kongres Alumni FISIP Unsri, Untuk Siapa?

0
92
Kongres Alumni FISIP Unsri, Untuk Siapa? - Muhammad Haekal Al-Haffafah*
Kongres Alumni FISIP Unsri, Untuk Siapa? - Muhammad Haekal Al-Haffafah*

KONSEP alumni secara sederhana lazim digunakan untuk menjelaskan seseorang yang sudah selesai dalam mengikuti jenjang pendidikan seperti sekolah, Perguruan Tinggi, atau Universitas. Sebutan alumni juga digunakan secara luas oleh lembaga pelatihan, perusahaan atau organisasi  misal, mantan anggota, karyawan, kontribrutor.

Keberadaan ikatan alumni dipandang penting untuk membesarkan nama instistusi yang merupakan tempat dimana seseorang pernah berproses didalamnya. Dalam organisasi mahasiswa, keberdaan ikatan alumni yang sampai sekarang masih eksis antara lain, Persatuan Alumi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII), Forum Komunikasi Persatuan Mahasiswa Katolik RI (Forkoma PMKRI), Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (Senior GMKI). Beberap ikatan alumni Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang memiliki nama besar misalnya, Keluarga Alumni Gajah Mada (KAGAMA),  Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA UNPAD), Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI).

Kongres, Untuk Siapa?

Sebagaimana Universitas-Universitas lain, FISIP Universitas Sriwijaya juga memiliki ikatan alumni yang bernaung dalam wadah IKA FISIP. Sejak tahun 1983 sampai 2013 FISIP UNSRI telah melahirkan 30 angkatan ditambah dengan 2 jurusan baru yakni, Ilmu Komunikasi dan Hubungan Internasional, diperkirakan akan lebih banyak alumnus yang lahir dari FISIP UNSRI.

Tanggal 20 Januari 2018 mendatang, IKA FISIP UNSRI kembali mengadakan Kongres yang rutin diadakan 4 tahun sekali. Sebuah ajang untuk memperkuat silahturahmi dan eksistensi keberadaan alumni. Tapi ada hal yang perlu kita kritisi, apa yang sebetulnya ingin dicapai dalam kongres ini?  atau pertanyaan lain, gagasan yang seperti apa yang  mau dimunculkan dalam kongres ini?

Relevankah, gagasan itu dengan tantangan kekinian? Atau siapa sebetulnya yang akan menikmati hasil dari kongres ini? Alumni? Mahasiswa? Civitas Akademik? Masyarakat Luas?  Atau pertanyaan-pertanya lain, apa manfaatnya buat Alumni, Civitias Akademik atau FISIP secara kelembagan? kalau pertanyaan ini tidak mampu dijawab,  justru akan lahir pertanyaan baru, yang cukup menggangu pikiran kita, untuk apa dan siapa sebetulnya kongres ini dilangsungkan? Pertanyaan inilah yang mesti muncul dalam kongres ini, sebagai dasar untuk menggerakkan roda dan capaian dari kepengurusan yang akan terpilih berikutnya.

Baca Juga :   Jalur Independen Akan Menjadi Pilihan

Penilaian kita sama bahwa kongres ini harus dilihat dari seberapa besar perdebatan atas persoalan yang mau kita angkat, kita melihat ikatan alumni dari beberapa universitas yang memiliki capaian besar, yang alumninya berperan disemua lini, solidaritas alumninya terjaga, kepeduliannya besar terhadap alumni dan almamater, kultur untuk saling membesarkan hidup.

Sebagai wadah alumni, IKA FISIP mestilah dilihat sebagai potensi, kita sepakat bahwa  mesti ada lompatan besar yang digagas dalam kongres ini. Jika tidak, justru tidak ada yang kita dapat kecuali seorang ketua umum. Begitu seterusnya, IKA FISIP akan dipandang sebagai wadah yang nyaris sama dengan paguyuban. Gagasan yang harus dimunculkan paling tidak kualitas dan kompetensi alumni kita, kedepan bisa bersaing dengan alumni dari kampus-kampus terbaik lain, seperti UI, UGM, ITB, IPB.

Hal lain, masalah sederhana namun mendasar untuk dikritisi adalah jadwal dalam schedule kongres dibuat setengah hari, scedulnya  berisi pembukaan, pleno, pemilihan ketua baru, dan penutup. Bagaimana bisa bicara perbaikan, kelangsungan organisasi dan nama besar almamater, bisa selesai dengan setengah hari.

Hal lain lagi, dalam jadwal roundown pleno 3, pembahasan program kerja dibuat hanya satu jam, pukul 11.30 sampai 12.30. Pembahasan program kerja apa yang bisa kita bahas dengan waktu satu jam. Sebegitu kuatkah wadah alumni ini, sehingga hanya butuh satu jam dalam membahas program kerja. Atau jangan-jangan naluri kita sedemikian pragmatis, untuk berani mengatakan bahwa semua program kerja cukup diselesaikan dengan memilih ketua umum yang “pundi-pundinya” menjanjikan.

Baca Juga :   Mengenal Gigi Ala GM RS Pelabuhan

Pemahaman kita sama, setiap organisasi yang serius ingin besar, haruslah berani melakukan otokritik dari dalam. Tidak bisa logika kelangsungan dan masadepan almamater dilaksanakan dengan kejar tayang, atau memaknai forum setingkat kongres sebatas seremoni ala event organizer. Substansinya bukan siapa yang terpilih menjadi ketua umum, tapi parameter apa yang mau kita gunakan untuk melihat capaian yang akan dilakukan oleh  pengurus berikutnya.

Dalam konteks ini ada beberapa hal, yang perlu menjadi perhatian:

Pertama, Sebagai basis ilmu sosial harus ada kesadaran untuk berani melakukan kritik sehingga jelas peran dan tanggung jawab kita dalam mengawal kebijakan pemerintah pada setiap daerah.

Kedua, Dalam mengembangkan potensi, diperlukan penguatan intensitas interaksi antar alumni, sehingga muncul tanggung jawab untuk saling membantu dan membesarkan.

Ketiga, Diperlukan sinergi yang kuat  antar alumni, instansi pemerintah, bumn, dan sektor swasta, untuk membuka peluang studi dan beasiswa guna menyiapkan lahirnya doktor dan guru besar baru dari rahim FISIP.

Keempat, Perlu kesadaran dari segenap alumni bahwa IKA FISIP harus didorong untuk menciptkan pusat riset yang mandiri sebagai kontribusi dan tanggung jawab dalam membangun perkembangan ilmu-ilmu sosial di Sumatera-Selatan.

Kelima, Dalam hal lain IKA FISIP perlu lebih banyak melakukan kerjasama kepada sektor swasta dalam hal mebuka ruang kesempatan kerja baru bagi alumni FISIP.

Bentuk kesadaran ini paling tidak perlu menjadi wacana dalam ruang perdebatan kongres, jika tidak setiap momen empat tahunan akan selalu muncul pertanyaan dihati kita “Kongres Alumni untuk Siapa?”

*Penulis merupakan Sekjen Alumni Pemuda Lemhannas RI VIII dan Kandidat Magister Ilmu Politik Universitas Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here