Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Ketika Gadget DiperTuhankan

Ketika Gadget DiperTuhankan

Tanggal : Pukul :
333
0
Ketika Gadget DiperTuhankan - Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H.
Ketika Gadget DiperTuhankan - Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H.

DEWASA ini, Gadget (barang elektronik) telah menjadi kebutuhan primer dan bukan barang antik lagi. Begitu tergangtungnya manusia akan Gadget dalam dunia modern ini, diibaratkan seperti ‘ruh’ yang akan membuat manusia mati jika dipisahkan sedetik saja dalam kehidupan. Perkembangannya juga sangat pesat bertransformasi dalam berbagai ukuran dan spesefikasi sesuai kebutuhan, kita bisa melihat seorang punya Gadget dari semua kalangan, tingkatan usia, bahkan anak umur dua tahun pun sudah bisa mahir mengoperasikannya. Sebuah realita ini yang tidak kita prediksi atau kita jumpai dalam beberapa dekade kebelakang.

Sejujurnya, banyak sekali manfaat yang bisa dikonsumsi dari perkembangan teknologi ini. Informasi-informasi terkait dunia politik, ekonomi, social-budaya, dan agama secara cepat bisa diakses, tanpa batas dan seketika apa yang terjadi di dunia ada dalam genggaman. Melalui Gadget pula, dunia pendidikan bisa melakukan aktivitas belajar-mengajar tanpa tatap muka, dai dapat berdakwah dengan mudah menyampaikan pesan agama ke seluruh antero jagat raya dengan mudah. Tidak ketinggalan penayangan realita dari sejarah bangsa bisa dikemas dan disajikan dalam bentuk cerita/film sebagai wujud nasionalisme serta patriotik terhadap tanah air. Kemudian tinggal share ke youtobe, facebook dan medsos maka semua bisa mengakses.

Disisi lain, sadar tidak sadar kehadiran Gadget ini telah menina-bubukan kita menjadi insan konsumtif, vakum, dan tertipu oleh cerita yang belum tentu kebenarannya (hoax). Bahkan kita akan menjadi orang yang panik, bingung jika sedikit saja lepas dari Gadget ini. Tanpa terasa ia telah mendekontruksi dan membunuh interaksi sosial kita. Gadget juga telah menyihir kita dalam suatu ruang, sehingga jutaan manusia terdiam, asik dengan aktifitas dunia maya menyita komunikasi dengan keluarga, teman, saudara dan bahkan dalam satu meja makan sekalipun.

Tidak berlebihan jika penulis menilai bahwa kini manusia telah mempertuhankan Gadget. Apa yang disajikan benar-benar menjadi tuntunan, bangun tidur pun seakan terperdaya bukan bersegera mengambil wudhu, justru melihat HP. Setelah shalat bukan membaca kitab suci, tapi malah melihat inbox medsos. Bahkan dalam keadaan shalat sekalipun, penulis memperhatikan fenomena shalat Jum’at beberapa jamaah lebih memilih memainkan Gadgetnya ketimbang mendengarkan khatib membacakan khutbahnya. Ini terjadi hampir di setiap masjid, terutama di jalan raya atau perkantoran.

Baca Juga :   Pilkada dan Lansia

Kemajuan teknologi yang semakin berkembang ini memang tidak boleh kita anggap remeh, apalagi dalam dunia psikologi mulai muncul prilaku Gadgetmania. Candu ini seperti yang penulis paparkan di atas merasuk semua kalangan di berbagai jenjang usia dan merasuk sampai ke pelosok desa, kerap juga kita jumpai satu orang memiliki lebih dari satu gadget.

Menurut pakar teknologi informasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dimitri Mahayana sebagaimana dikutip dalam makalah “Pengaruh Gadget Terhadap Perilaku Sosial Manusia”, dipaparkan sekitar 5-10 persen gadgetmania atau pecandu gadget terbiasa menyentuh gadgetnya sebanyak 100-200 kali dalam sehari. Jika waktu efektif manusia beraktivitas 16 jam atau 960 menit sehari, dengan demikian orang yang kecanduan gadget akan menyentuh perangkatnya itu 4,8 menit sekali.

Dalam makalah tersebut, juga menyatakan demam perangkat ini sudah berlangsung sejak 2008 di Indonesia, tepat ketika Facebook naik daun dan penetrasi telefon seluler di negeri ini melewati angka 50 persen. Indonesia kini bahkan telah menjadi salah satu negara dengan pengguna Facebook dan Twitter terbesar di dunia, yang penggunanya masing-masing mencapai 51 juta dan 19,5 juta orang. Ini adalah kenikmatan penduduk dunia abad ke-21. Jarak dan waktu bagaikan terbunuh oleh kemajuan teknologi informasi semacam ini.

Seorang pecandu gadget akan sulit untuk menjalani kehidupan nyata, misalnya mengobrol. Perhatian seorang pecandu gadget hanya akan tertuju kepada dunia maya. Dan bahkan jika dia dipisahkan dengan gadget, maka akan muncul perasaan gelisah. Bahkan diperkirakan 80 persen pengguna gadget di Indonesia memiliki perilaku seperti itu. Mereka tidak tahan jika harus berlama-lama berpisah dengan gadget-nya. Hanya sepuluh persen saja pengguna gadget di Indonesia yang mampu membatasi penggunaan gadget di saat-saat tertentu.

Baca Juga :   Ketegangan di Meja Uji Kompetensi Wartawan

Akibat dari fenomena ini juga, perilaku sosial manusia cenderung menutup diri dan memiliki ego yang tinggi. Sehingga manusia ketika berinteraksi sosial akan cenderung emosional. Inilah yang disebut Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Sebuah Dunia Yang Dilipat” bahwa rangkaian tontonan yang disuguhkan oleh media elektronik kapitalisme telah menggiring masyarakat konsumerisme kedalam satu eksodus menuju satu nihilisme dan fatalisme kehidupan, kehidupam yang dilandasi bukan oleh moral, keimanan, atau makna luhur, melainkan oleh kedangkalan ritual, penampakan, dan simulacra profon.

Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya terhadap perkebangan teknologi ini, karena sejujurnya ini tidak bisa kita tolak, seperti arus sungai perubahan zaman ini bukan untuk kita bendung, tapi harus kita ikuti alirannya tanpa harus menepi. Harus diakui, Gadget ini juga banyak manfaatnya, sehingga konsumenlah yang harus bijak dalam menyikapi ini, dengan tetap menjaga nilai yang baik sebagai jati diri diciptakan manusia untuk mengabdi kepada Tuhannya. Jangan sampai perkembangan teknologi membuat kita justru lalai akan tugas utama ini. So, jika diibaratkan Ayam, teknologi ini jika yang dikeluarkan adalah telor maka rugi kalau tidak kita ambil dan konsumsi, tapi jika yang dikeluarkan adalah kotoran, maka harus kita tinggalkan. Wallahu a’lam

*Penulis adalah Pemred Media Online DetikSumsel.Com yang juga Ketua Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Sumsel.

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here