Beranda Refleksi Ketegangan di Meja Uji Kompetensi Wartawan

Ketegangan di Meja Uji Kompetensi Wartawan

Tanggal : Pukul :
300
0
Ketegangan di Meja Uji Kompetensi Wartawan - Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H.
Ketegangan di Meja Uji Kompetensi Wartawan - Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H.

“Untuk pertama kalinya, setelah 28 kali digelar UKW, baru kali ini lulus 100 persen. Semua peserta dinyatakan kompeten,” kata Plh Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat Sayid Iskandarsyah memecahkan ketegangan peserta UKW ke-29 yang diselenggarakan oleh PWI DKI Jaya. Peserta yang tadinya diam dengan pandangan kosong kedepan menanti pengumuman, serentak mengucapkan alhamdulillah, suasa berganti menjadi riuh dengan tepuk tangan peserta. Legah rasanya. Begitulah ungkapan kami yang telah mengikuti uji kompetensi di gedung Prasada Sasana Karya, Jakarta pusat, 23-24 Maret lalu. ‘Kompeten’ menjadi predikat bagi mereka yang memenuhi standar penilaian dewan penguji. Huufs, sayapun menghela nafas panjang.

Ketegangan di meja uji kompetensi benar-benar membuat peserta menjadi glagapan. Meskipun sehari sebelumnya sudah digelar pra-UKW oleh panitia dengan memberikan kisi-kisi sebagai bahan pembelajaran, tetap saja tidak mampu membuat tangan ini menjadi santai, keringat terus keluar dari telapak tangan, padahal ruang kelas tempat kami diuji ful menggunakan AC.

Ketegangan sudah dimulai saat pembukaan, Direktur Kompetensi PWI Pusat Kamsul Hasan mengumumkan bahwa selama UKW digelar oleh PWI DKI Jakarta, selalu ada saja peserta yang tidak kompeten. Sistem penilaian minimal mendapatkan angka 70 skala 10-100 dengan delapan mata uji bagi UKW utama membuat peserta harus kompeten di setiap tahapan ujian, sebab penilaian bukan sistem akumulatif. Semua harus di atas standar, satu saja di bawah meskipun nilai yang lain bagus, wartawan tetap dianggap tidak kompeten. “Bagi peserta yang dinyatakan penguji tidak kompeten, boleh banding atau mengikuti UKW lagi nanti setelah enam bulan kedepan,” terangnya.

Pengumuman ini membuat kami para peserta saling lirik, lalu mengulum senyum memanggut kepala. UKW kali ini diikuti 13 peserta dari berbagai daerah, 10 wartawan mengikuti tingkat utama dan 3 tingkat muda. Sumsel sendiri, UKW kali ini kebetulan hanya dua orang, saya sebagai Pemred dan rekan Deby Aryanto, Redaktur Pelaksana DetikSumsel.Com. Kami berdua mengikuti UKW tingkat utama. Dengan backgroud media berbeda, ada yang koran cetak, media online dan majalah membuat peserta memiliki kompetensi berbeda pastinya.

Ujian kali ini tidak ada tingkat madya, tapi sebagai standar ujian dalam rapat redaksi mengawali UKW harus ada yang berperan diposisi madya. Kami pun dibagi menjadi 3 kelas, 5 orang di kelas Utama, 5 orang kelas Utama tapi berperang madya dan 3 orang ditingkat muda.

Secara garis besar, delapan mata ujian yang harus diiukuti tingkat utama meliputi evaluasi rencana liputan, menentukan bahan liputan layak siar, mengarahkan liputan investigasi, menulis opini/tajuk, kebijakan rubrikasi, rapat redaksi, fasilitas jejaring, dan rapat redaksi (evaluasi). Sebelum ujian dimulai, panitia memperkenalkan penguji. Mereka adalah M Noeh Hatumena wartawan senior, mantan Pimpinan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Kamsul Hasan (Post Kota/Direktur Kompetensi PWI Pusat), Teguh Santoso (Ketua Lembaga Luar Negeri PWI Pusat/Pemred RMOL.Co) dan M Natsir (Sekretaris Kompetensi PWI Pusat /Sekred harian Kompas). “Untuk tingkat utama kelas A, pengujinya bapak M Noeh Hatumena dan M Natsir,” kata panitia.

Usai pengumuman, kami langsung membuat kelas dan bergabung dengan penguji. “Ujian sama saya, nilai 70 sudah bagus, kalaupun bisa 80 itu sudah sangat bagus dan itu biasa saya kasih nilai,” kata M Noeh memberikan pengantar sebelum masuk ke mata ujian. Wartawan senior Antara asli Maluku ini memang terkenal wawasan yang luas, perawakannya tinggi dengan rambut dan janggut memutih membuat ia sangat berwibawah sebagai penguji. Setiap memberikan pengantar ia langsung to the poin. Usianya yang sudah menginjak 73 tahun membuat ia sangat mateng di dunia jurnalistik, terlebih ia pernah menjadi Biro Antara di Australia, sehingga standar yang dia ujikan tidak hanya dari media nasional di Indonesia, tapi juuga media-media internasional. “Pengujinya Killer,” begitu kata peserta lainnya berbisik kepada saya.

Baca Juga :   Jalur Independen Akan Menjadi Pilihan

“Apa berita terpopuler, menarik, dan penting hari ini?,” tanya penguji kepada peserta. Sontak kami kelabakan, waktu ujian yang ontime pukul 08.00 WIB, membuat kami tidak sempat membaca koran pagi ini, maklum jarak yang jauh menuju lokasi ujian dari hotel membuat kami pagi-pagi sudah berangkat, dalam benak kami jangan sampai terlambat, sehingga tak menghiraukan koran yang terletak di meja resepsionis hotel. Alhasil, Kami pun menjawab sekenanya tentang politik, olahraga, ekonomi dan hukum yang kami anggap populer. “Itu top of the week, bukan top of the day. Bagaimana mana mau menjadi pemimpin media jika tidak bisa membedakan dan tahu mana berita yang bagus dan penting,” singgungnya. “Tidak ada jaminan kalian ikut UKW ini kompeten,” cecarnya kemudian.

Alihkan Ketegangan dengan Izin ke Toilet

Ujian berjalan begitu menegangkan diawali dengan rapat redaksi menerima usulan dari redaktur tentang berita-berita yang layak siar dan sudut pandang kode etik jurnalistik. Rapat mengalir begitu saja, walaupun ini kerjaan setiap hari di meja redaksi tapi tetap menegangkan dibawah pengasawan penguji yang menatap tajam. Lucunya setiap sesion pergantian dari mata uji ke mata ujian berikutnya peserta memanfaatkan untuk izin ke kamar mandi. Entah sekedar keluar menghilangkan ketegangan atau memang tekanan kepada peserta yang terus bertubi-tubi membuat harus ke toilet selalu, meskipun tidak banyak minum air putih. Entahlah, hanya peserta yang bisa menjawabnya.

“Sekarang siapkan handphone pastikan ada pulsa, saya mau lihat kekuatan jejaring kalian sebagai pemimpin media,” kata penguji sembari memberikan kertas lembar ujian. Kali ini pak Noeh hanya memantau saja, ujian diserahkan kepada pak M Natsir (Sekred Harian Kompas) yang kebetulan penguji magang dan ini menjadi magang terkahir baginya sebelum benar-benar ditetapkan sebagai penguji UKW tingkat utama.

Ada 21 kolom narasumber beserta jabatan yang harus diisi peserta, minimal 20 nama dengan level utama. Saat memberikan  pengarahan, pak M Natsir mengingatkan bahwa narasumber utama tidak boleh level Pemda tingkat II, apalagi camat. Harus minimal tingkat Provinsi, atau lebih bagus nasional. Begitu juga level di bidang hukum, pendidikan, olahraga dan politik. Saya sendiri menulis narasumber yang saya kenal, mulai dari Menteri Olahraga, Deputi II Kemenpora, Wakil ketua BK DPD RI Senator Hendri Zainuddin, Edhy Prabowo ketua Komisi VI DPR RI, ketua KPU Sumsel, Bawaslu Sumsel dan ketua DPRD Sumsel. Narasumber ekonomi saya tulis Ketum KADIN, Ketua HIPMI Sumsel, Dirut Bank Sumsel Babel dan jaringan pengusaha lainnya. Tak lupa juga saya juga tulis sebagai narasumber bapak Dodi Reza Alex sebagai Presiden Sriwijaya FC. Di level pemerintahan daerah, saya menulis nama Wagub Sumsel bapak Ishak Mekki serta beberapa kepala Dinas tingkat Provinsi, termasuk Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara.

Saat rekan saya TB Adhi dari Breakingnews.co.id menelpon narasumber tidak mengangkat, saya menjadi ikut panik. Ia menelpon Taufik Hidayat, atlet bulu tangkis nasional. Beruntungnya, altlet peraih emas olimpiade Athena 2004 itu menelephon balik dan terjadilah percakapan penguji pun merasa cukup puas. Giliran saya, penguji meminta menelpon Narasumber nomor tiga, ya diurutan ketiga saya menulis nama Senator Hendri Zainudin. Tak lama kemudian saya telepon, telepon pertama belum diangkat, saya menelpon kedua kali dan alhamdulillah diangkat. Obrolan kami terkait pencegahan narkoba yang kini sudah menjadi darurat bencana bagi Indonesia. Tema narkoba ini berkembang dalam rapat redaksi yang bergulir menjadi Investigasi dan Tajuk redaksi. Kurang lebih lima menit percakapan kami, pengujipun menganggapnya cukup. Sesion kali ini sepertinya semua peserta lancar-lancar saja, tapi tetap saja usai mata uji jejaring ini satu persatu dari kami kembali izin, tidak lain menuju ke toilet. Dingin rasanya.

Baca Juga :   Gubernur Sumsel 2018-2023: Siapkah Menyambut Bonus Demografi?

Ujian berikutnya, tentang mengarahkan liputan Investigasi. Selain harus membuat TOR investigasi dalam bentuk ketikan, kami juga harus mampu menjelaskan investigasi secara utuh. Ujian lisan kami ditanya mengenai investigasi, perbedaan dengan indepth reporting beserta contoh diantara keduanya. Terakhir sebelum evaluasi, kami diminta membuat tajuk/opini tentang narkoba yang mejadi pembahasan di dalam rapat redaksi. Semua peserta di kelas A ini wajib membuat tema besar tajuk narkoba dan masa depan bangsa sebagai sikap dari redaksi menilai berita berkembang. Sebenarnya, menulis sebuah jatuk/opini adalah agenda rutin media, pada level redaktur pelaksana, wapimred dan pemred ini adalah makanan sehari-hari. Tapi yang menjadi menegangkan adalah, tajuk/opini ini harus ditulis dalam waktu 30 menit dan telah ter-print. Lewat satu detik saja dianggap tidak kompeten. Bisa dibayangkan betapa paniknya, menulis yang dibutuhkan adalah ketenangan agar mengalir tapi menjadi terbatah-batah karena batasan waktu. Untungnya, saya berhasil menulis tajuk/opini sebanyak 3.424 karakter delapan paragraf dalam waktu 20 menit. Di mata uji kali ini saya benar-benar puas, penguji menunjukkan nilai saya di angka 90, sementara mata ujian lainnya bervariatif tidak ada yang dibawah standar. Dalam hati saya berucap alhamdulillah bisa melewati semua mata ujian dan mendapatkan predikat kompeten. Prestasi yang sama juga diperoleh rekan saya dari Detik Sumsel, Deby Aryanto.

Usai ujian, benar-benar legah. Ketegangan di meja uji kompetensi benar-benar membuat saya tidak tenang, makan tak nafsu, tidur tak nyenyak dan menghisap rokok pun tak bergairah. Bagaimana tidak, beban moral yang harus kami tanggung jika dinyatakan tidak kompeten oleh penguji, bukan bagi saya pribadi saja tapi juga media tempat saya bekerja. Sebagai pemimpin redaksi, mau disimpan dimana muka ini jika tidak kompeten, bukan saya saja yang malu tapi juga ada 24 wartawan Detik Sumsel lainnya. Apa jadinya jika ternyata wartawan tahu jika tidak lulus, berarti mereka dikomandoi oleh orang yang tidak kompeten di bidang jurnalitik. Tapi, semuanya telah berlalu, ketegangan itu sudah kami lewati dan hasilnya cukup memuaskan.

Sebenarnya apa yang diujikan dalam UKW ini adalah aktivitas sehari-hari seorang wartawan, jika memang ia bekerja sebagai jurnalis, maka akan dapat melaluinya walaupun dengan penuh ketegangan. Maklum saja waktu dan ruang menjadi pembatas. Tapi jika yang ikut uji kompetensi ini tidak melakukan aktivitas sebagaimana wartawan sesuai dengan tingkatannya, itulah yang membuat ada saja peserta yang tak beruntung. Wallahu’alam..

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi DetikSumsel.Com dan peserta UKW ke-29 PWI Jaya, 23-24 Maret 2018

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here