Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Karena Sebiji Nasi, Panen Gagal

Karena Sebiji Nasi, Panen Gagal

Tanggal : Pukul :
293
0
Karena Sebiji Nasi, Panen Gagal - H. Muhammad Syubli, LN.
Karena Sebiji Nasi, Panen Gagal - H. Muhammad Syubli, LN.

DULU kita sering dengar kata pepatah: “Karena Mani setitik, rusak Susu sebelanga”. Mungkin karena menyebut kata “Mani” itu dianggap orang tabu, maka muncul kata lain, “Karena Nila setitik rusak Madu sebelanga”. Nila diartikan “Racun” atau apalah. Dulu kita tidak begitu peduli dengan pepatah itu, sampai sekarang, karena kita hanya pahami makna yg. tersurat dari kata pepatah itu, selesai ,titik. Bukan  memahami  makna yang tersirat.

Padahal bila kita pahami makna tersirat dari pepatah itu, banyak sekali yang bisa dijadikan contoh dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satunya “Karena Sebiji Nasi Berhektar Sawah Gagal Panen”. Judul diatas saya sarikan dari ungkapan Prof.DR.Ir.H.Fachrurrozi Sjarkowi, M.Sc.(Dosen UNSRI) yang disampaikan dalam kata sambutan atas nama “tamu” disuatu resepsi pernikahan seorang teman 15 Agustus 2015 lalu di Gedung Serba Guna Yayasan Islam Teladan Kota Palembang.

Meski disampaikan dalam kata sambutan tamu, kedengarannya sepele, ternyata sangat penting dan sangat dalam makna dan sangat masuk diakal, apalagi setelah itu orang-orang atau tamu, undangan dan panitia akan menuju meja“Prasmanan” tuk makan. Lebih  penting dari “Ceramah Hikmah Pernikahan” yang isinya biasa-biasa saja, dan itu-itu saja.

Beliau katakan begini : “Kalau setiap orang makan 3x sehari dan membuang sebiji atau sebutir  nasi saja tiap kali makan, maka 250 juta orang x 3 biji nasi /orang /hari x 365 hari maka nasi yang terbuang atau = mem-buang hasil panen padi atau gagal panen seluas 50 ribu Hektar sawah setahun.Atau memubazzirkan 250 ribu ton beras. Ini makna tersirat dari kata pepatah di atas, apalagi disebagian daerah Indonesia mengalami gagal panen.

Mungkin ada yang menganggap tidak masuk akal, tapi lebih tidak masuk akal ketika kita masih kecil dimarah orang tua waktu makan masih bersisa, “habiskan nasi itu, jangan ada sisa, nanti nasi itu menangis!” jadi kalau gagal panen dinegeri ini, mungkin penyebabnya karena orang banyak membuang nasi dengan cuma-cuma. Namun dibalik itu semua bagi kita yang beriman, itu semua terjadi atas kehendak/taqdir Allah.

Wajar kalau beliau berbicara dihadapan jamaah yang menghadiri resepsi atau pesta.Sebab tiap orang di tempat pesta kadang ada yang membuang rata-rata ¼ piring nasi, bukan hanya sebutir atau dua butir tanpa sengaja. Ini ¼ piring nasi, hitung sendiri, berapa ribu butir nasi terbuang. Mungkin tak sedap, tak sesuai selera, terlalu banyak mengambil nasinya, sambelnya, terburu-buru, ditunggu teman di mobil, dan lain-lain. Dari sini pelajaran buat kita supaya dikira-kira saja mengambilnya jangan sampai akhirnya terbuang. Dengan makan itu kita berharap keberkahan dari Allah, mungkin dari sebiji nasi yang terbuang itulah ada keberkahan, tapi terbuang.

Baca Juga :   Palembang Madani Perwujudan Palembang Darussalam Abad Modern

Ternyata kebiasaan membuang Nasi itu bukan cuma di resepsi atau pesta, tapi juga di rumah-rumah makan, di Pondok-pondok Pesanteren, di Asrama Pelajar, Mahasiswa dan di rumah-rumah penduduk, baik di kota maupun di Desa-desa. Apalagi dibulan Romadhon seperti ini. Yang jelas orang itu sudah berbuat mubazzir. Pelaku mubazzir atau pemboros itu diingatkan Allah dalam suroh Al Isro ayat : 26-27 sebagai berikut:

26. “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) secara boros. 

27. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Pernahkah kita lihat orang mengambil makanan di meja yang tadi dia antri lama, ketika dia isi piringnya dengan nasi merah+putih yang amat banyak belum termasuk lauk-pauk seperti: ayam goreng kecap,  rendang, telor , ikan bakar, kuah soto, sate, sambal, lalap buah dan terakhir kerupuk serta air minum mineral..!

Lihatlah, begitu penuh “muatan” piring itu, mungkin jika anda melihat akan geleng-geleng kepala, tanda kagum? Tanda heran? Ataukah tanda ejekan ? Ya terserah Anda. Apapun reaksi yang muncul dari orang yang melihat pemandangan seperti contoh itu, kesannya pasti negatif, tak etis dan tak indah serta,… ih, serakahnya,  rakusnya!  Untuk itu kita ingatkan dengan firman Allah dalam suroh Al A’rof ayat 31 :

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah (bagus) setiap kali kamu mau (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”

Dengan hanya diberi tanda baca koma (,) ayat 31 Suroh Al A’rof itu dilanjutkan-Nya dengan kalimat “…makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan”.  Dan di bulan Romadhon seperti ini, bagi orang yang berilmu, satu  ayat di atas yang berisi beberapa masalah, tentu mengandung makna yang signifikan, karena satu ayat yang juga berarti satu rangkaian kalimat yang sangat urgen, dan satu sama lain sangat erat korelasinya dengan kehidupan kita sehari-hari.

Baca Juga :   Menakar Elektabilitas Kandidat Pilkada Palembang di Jejaring Sosial

Menurut etika Internasional, jika orang makan dengan tangan kanan, lalu minum dengan tangan kiri, itu sudah dianggap etis, sopan, “indah”. Kita sering melihat pemandangan seperti itu. Bahkan bukan cuma minum dilakukan oleh kebanyakan orang dengan tangan kiri, tapi juga makan. Tidak cuma itu kadang sering terlihat para pejabat diacara kenegaraan, makan minum dengan  tangan kiri dan sambil berdiri.

Mungkin kita pernah menghadiri undangan pesta perkawinan di hotel Berbintang. Undangan semua berdiri, tidak ada kursi disana, kecuali Pengantin dan keluarga di atas panggung. Apakah ini yang namanya gaya hidup modern? Orang tak perlu mempersiapkan kursi untuk tamu undangan? Standing Party katanya, makan dan minum sambil berdiri, pasti ada nasi tersisa. Saya ingatkan kita  dengan salah satu Hadits Nabi Saw yang artinya : “Jangan kamu minum dengan tangan kiri, karena sesungguhnya syetan itu minum dengan tangan kiri”.   

Mengapa Rosululloh saw melarang kita minum sambil berdiri? Ternyata secara medis dalam tubuh manusia ada penyaring Sfringer, saringan itu terbuka saat kita duduk. Tertutup saat kita berdiri. Air yang kita minum belum 100% steril untuk diolah tubuh kita. Bila tubuh kita minum sambil berdiri, maka air tidak tersaring oleh Sfringer, dan langsung masuk ke kantong kemih. Dapat menyebabkan penyakit kristal ginjal. Subhanallah ternyata  setiap perintah dan larangan Allah dan Rasululloh saw pasti bermanfaat bagi ummatnya.

*Majlis Mustasyar Dewan Masjid Indonesia SUMSEL

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here