KPU Sumatera Selatan

Jurnalis Gadget

0
100
Jurnalis Gadget - Khaerul Yusuf Singaprabu
Jurnalis Gadget - Khaerul Yusuf Singaprabu

PERKEMBANGAN dunia jurnalistik makin pesat. Dunia ini terus mengiringi perkembangan teknologi. Keberadaan teknologi, khususnya dibidang informasi membuat dunia jurnalistik makin pesat pula.

Memang beberapa tahun lalu dunia jurnalistik sempat diramalkan akan rontok seiring berkembangnya dunia maya. Ya, dengan perkembangan dunia maya, kita tak perlu lagi membeli koran. Bermodal sebuah telepon selular bisa membaca berita dari mana pun dan kapan pun.

Tak hanya koran, begitu juga radio yang yang sempat diramalkan rontok. Nyatanya hal itu tak juga, Alhamdulillah, tak terjadi. Malahan jumlah koran, khususnya di daerah semakin banyak. Pun demikian dengan radio. Dewan Pers mencatatan ada sekitar 47 ribu media (di Indonesia), 44.300 di antaranya media online, sisanya adalah media cetak, televisi, dan radio.

Tak hanya dari sisi jumlah, ini juga membawa dampak pada lapangan kerja. Bayangkan bila satu orang yang bekerja di dunia ini menghidupi empat orang, dengan asumsi satu pekerja memiliki satu istri atau suami dan dua orang anak, berapa banyak angka pengangguran akan bertambah. Atau tenaga kerja yang mampu diserap oleh sektoral ini.

Baca Juga :   BZ Kandidat Terkuat Menangi Pilkada Lahat

Dibalik semua itu, ada satu hal yang patut menjadi perhatian kita bersama terkait dengan kualitas berita. Tak jarang kita mendapati isi berita antara satu media online dengan yang lain sama saja. Atau ketika ketika membaca di media online akan sama dengan media cetak.

Memang tak jarang satu media memiliki dua media, media online dan media cetak sekaligus. Namun, tak seharusnya itu terjadi. Toh, banyak sisi berita yang bisa kita angkat. Sehingga akan membedakan pemberitaan media cetak dengan online.

Yang perlu kita soroti pula kini para jurnalis terlalu dimanjakan oleh kemudahan teknologi. Kalau dulu, seorang jurnalis harus menunggu narasumber, kini bisa main titip. Caranya meminta kiriman hp dari teman. Atau meminta berita yang sudah jadi dari teman melalui email atau pun WhatsApp (wa).

Sebelum itu memang “tukaran” berita kerap terjadi, tetapi tak seperti sekarang. Bila ingin meminta berita harus mencatat ulang atau merekam ulang, bagi yang memiliki tape recorder. Bagi yang tidak, meminjam dan mendengarkan rekaman teman lainnya.

Baca Juga :   Bulu Mata

Semua kini jauh lebih mudah. Bila memiliki gadget Hanay tinggal meminta kirim via wa atau bluetooth semua beres. Toh, sekarang siapa yang tak memiliki gadget apa lagi harga yang ditawarkan pun sangat bervariatif dan mudah dijangkau.

Haramkah? Saya tak berani mengatakan iya atau tidak. Hanya saja sebagai jurnalis seharusnya mampu mengambil angle atau sudut berita yang tak sama dengan media lain. Toh, keberadaan media online seharusnya membantu memudahkan kita mencari sisi lain sebuah berita. Bagaimana pun juga media cetak bila bisa mengulas lebih dalam karena ada waktu untuk melengkapi sebuah berita dari berbagai sisi. Bila ini tak dilakukan bukan tak mungkin ramalan punahnya media cetak akan terjadi dengan perlahan.

*Penulis adalah jurnalis dan pemerhati sosial di kota Palembang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here