Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Palembang Industri Hulu Migas Jadi Penggerak Tanaman Obat Keluarga

Industri Hulu Migas Jadi Penggerak Tanaman Obat Keluarga

Tanggal : Pukul :
183
0
Keladi Tikus, salah satu jenis tanaman herbal yang ada di Desa Gajah Mati

Palembang, Detik Sumsel – Industri hulu migas,menunjukkan kontribusi positif, bagi kemajuan daerah, seiring dengan program Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), bersama Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS), yang memberdayakan potensi daerah satuan kerja (Satker).

Hal ini terlihat ketika, Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel dan media kontributor nasional Sumsel melaksanakan Media Field Trip di dua tempat yaitu PT Pertamina EP Asset 2 Limau dan PT Medco E&P Indonesia Rimau/kaji, pada Selasa 1 Oktober kemarin.

Dalam kunjungan ke wilayah PT Medco E&P Indonesia Rimau/kaji di dusun IV Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat Kabupaten Muba, yang diikuti tim redaksi Detik Sumsel. Dimana, di desa tersebut dibentuk kelompok Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Kenanga, dalam wadah koperasi wanita herbal bersatu.

Ditemui di lokasi, Ketua Kelompok Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Kenanga, Desa Gajah Mati Yeni Lusmita, menerangkan sejarah singkat terbentuknya pondok Toga Kenanga.

“Kenal dan berhubungan dengan PT Medco E&P Indonesia Rimau sejak tahun 2011, namun mulai aktifnya tahun 2012, setelah pulang dari mengikuti pelatihan meracik obatan herbal di Jakarta, langsung membentuk kelompok Wanita Herbal Bersatu dan Koperasi Herbal,”jelasnya.

Dari pelatihan tersebut ungkapnya, dirinya mendapat pengetahuan, mengenai jenis – jenis tanaman yang bisa dibudidayakan, serta di kelola menjadi obat herbal.

“Setelah ikut pelatihan, saya baru mengetahui ada 200 jenis tanaman yang ada di desa Gajah Mati, yang merupakan tanaman herbal, seperti Keladi Tikus, Batu Cina, Sirih Merah, Stevia, Kecubung, Temu Lawak, Kunir Putih, Kayu Secang, dan lainnya,”jelasnya.

Ibu empat orang anak ini juga merasakan peranan PT Medco, yang tidak hanya memberangkatkan dirinya mengikuti pelatihan.

“Peran serta PT Medco sangat besar, selain kami memberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan obat herbal, kami juga terus dibimbing, dan disupport hingga dapat memproduksi obat herbal yang siap dipasarkan, bahkan kami sudah memiliki izin industri rumah tangga dari Dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Muba, dan sekarang lagi proses izin dari BPOM,”ungkapnya.

“Alhmdulilah, obat-obat herbal produksi dari mitra binaan PT Medco ini, tidak hanya dikonsumsi warga dari Desa Gajah Mati saja, tapi juga lintas provinsi,”ungkap Yeni.

Selain membantu perekonomian keluarga, salah satu warga Desa Gajah Mati, Usbayati (47) menceritakan maaf lain yang dirinya rasakan.

Disaat dirinya putus asa ungkapnya, yang mana anaknya Sini Susanti (20), didiagnosa mengidap penyakit kanker payudara. Dan tim medis menyarankan agar anaknya melakukan operasi pengangkatan sel kanker.

Ketika ibu Yeni datang, dan menjelaskan dan menyarankan tentang obat herbal, Keladi Tikus, dicampur Kunir Putih, Binahong, Sirih Merah dan minyak VCO, untuk mengobati penyakit anak saya.

“Setelah rutin mengkonsumsi dan membalur racikan tanaman obat tersebut, anaknya akhirnya terbebas dari penyakit mematikan tersebut. Bahkan sudah tiga bulan ini, kondisi kesehatan anaknya semakin membaik,”diceritakannya, Rabu (9/10).

Hadirnya Pondok Herbal Kelompok Toga Kenaga yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari SKK Migas Wilayah Sumbagsel dan PT Medco E&P, dinilai Kepala Desa Gajah Mati Suryana, sangat berperan penting dalam mengubah pola hidup warga sekitar.

Awalnya diungkapkannya, para warganya tidak mengetahui banyak tanaman obat, yang hidup di hutan desa dan pekarangan rumah. Setelah mendapat bimbingan dari pembinaan PT Medco E&P, warganya langsung mengembangkan potensi toga ini untuk menjaga kesehatan, dan menambah penghasilan.

Selain obat herbal jelasnya, warga disini juga memproduksi berbagai makanan dan minuman herbal, yang diperjualkan.

“Terpenting, program ini mengubah mindset warga kami, jadi hidup lebih sehat,”ungkapnya kepada awak media dalam acara Field Trip SKK Migas.

Sementara Community and Hosman Officer PT Medco E&P Rimau Asset 2, Novita Ambarsari menjelasakan, terkait pembinaan pondok obat herbal.

Yang mana dikatakannya, pembinaan ini dilakukan, selain untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, juga membantu pengobatan masyarakat dalam bentuk obat herbal.

“Kita rintis pondok herbal ini tahun 2011, di 2012 mulai berjalan sampai dengan sekarang. Awalnya, Medco hanya membantu bibit tanaman herbal, kemudian alat untuk mengemas obat, dan akhirnya bisa dipasarkan,”jelasnya.

“Program ini, merupakan salah satu kontribusi PT Medco E&P, bagi kemajuan daerah seiring dengan program-program pokok yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah,”tandasnya.(Pen)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here