Iklan Detik Sumsel

Hakikat Idul Fitri

0
130
Hakikat Idul Fitri - Ustadz Al Habib Muhammad Syahab
Hakikat Idul Fitri - Ustadz Al Habib Muhammad Syahab

Jama’ah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah


Di hari yang mulia ini, marilah kita mengingat kembali ungkapan dan uraian nasehat yang bersumber dari pribadi seorang waliyullah yang tertulis dengan tinta emas, sarat akan ajaran-ajaran para salaf shaleh tentang keilmuan dan keteladanan. Seluruh hidupnya di abadikan untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu-ilmu agama.

Semenjak usia muda beliau Sudah di kenal sebagai pelita di zamannya, karena tidak memiliki nafsu duniawi. Tidak sedikit dari para alim ulama’ yang datang berkunjung untuk menuntut ilmu kepadanya. Beliau di kenal sebagai ruhnya ‘Alawiyyin’, serta kepribadiannya sarat akan hasanah ilmu. Di akhir hayatnya beliau masyhur sebagai seorang ulama’ yang muhaqqiq yang mempunyai kekuatan ‘Ain Bashirah (Mata Bathin). Siapapun yang melihat dan mendengar mutiara nasehatnya, pasti memperoleh keterangan sendiri di dalam bathin nya. Beliau adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf.

Uraian nasehat atau kalam nya terangkum dalam kitab  “Majmu’ul Kalam” yang di tulis dan di kumpulkan oleh putra beliau Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Assegaf, Jeddah. Seorang ulama’ dan waliyyullah tersohor akan ilmu dhohir dan bathin yang menampakkan jejak langkah pada tapak ayahnya.

Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf menandaskan agar orang-orang di akhir zaman seperti kita ini tidak sering melihat kelebihan-kelebihan dirinya sendiri. Perhatian beliau tertumpu pada generasi muda untuk mengikuti para salafnya baik dalam berpakaian, berucap maupun berbuat. Sehingga kita dapat kembali menjadi fitrah manusia yang sejati, yaitu meneladani orang-orang tuanya yang sholeh. bukan hanya di banggakan tapi ditiru akhwalnya dalam segala hal. Di contohkan bagainiana mujahadahnya (kesungguhan) dalam menuntut dan beramal dengan ilmunya tersebut.

Beliau menasehatkan pada permulaan Syawwal 1353 H, setelah di bacakan qasidah di hadapan Syi’ir Habib Abdullah A1 Haddad. Beliau berkata, “Lihatlah para salaf kita yang sudah sampai pada puncak ilmu dan amal. Mereka masih menangisi akan langkah dan mujahadah mereka jika di bandingkan dengan para pendahulunya.

Aku mendengar Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi menceritakan, dahulu ada seorang yang bernama Fatah Ibn Sukhruf menangis bersimbah air mata selama 20 tahun dan menangis bersimbah air mata darah pada 20 tahun berikutnya.

Ketika ia wafat dan di hadapkan kepada Allah SWT, salah seorang muridnya bermimpi, Ia di tanya “Wahai hambaku Fatah bin Sukhruf, engkau menangis selama 20 tahub dengan air mata mengalir, apa yang engkau rasakan?” Ia menjawab, “Aku menangis karena aku belum menunaikan kewajiban hak Mu wahai Allah.” Kemudian ia di tanya lagi, “Lalu mengapa engkau menangis bersimbah air mata darah pada 20 tahun berikutnya?”ia menjawab, “Aku menangis karena takut dan khawatir apakah tangisanku yang selama 20 tahun itu Engkau terima.”

Wahai saudara-saudaraku, Alhamdulillah saat ini kita berada dalam musim Rahmat Allah SWT. Hari ini adalah hari yang agung. Hari Raya Kaum Muslimin yang Mulia. Agama mensyariatkan agar kita bahagia pada hari ini dan menampakkan kebahagian itu. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, “Apabila datang hari Raya Idul Fitri para malaikat berjajar di seluruh sudut jalan sambil berseru, ‘Berbahagialah wahai Kaum Muslimin, berangkatlah menuju rumah Rahmat Allah yang memberikan kepada kalian kebaikan di atas segala kebaikan. Terimalah limpahan pahala ini karena kalian di perintahkan untuk shalat pada malam hari dan perintah itu kalian lakukan. Kalian di perintahkan untuk puasa di siang harinya kemudian perintah itu kalian taati.’

Baca Juga :   Setelah Ransomware Wannacry, Kini Muncul Malware Adylkuzz

Jika kaum muslimin menyelesaikan Shalat Idul Fitri, mereka berseru kembali, ‘Wahai Kaum Muslimin ketahuilah sesungguhnya Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosa kalian. Pulanglah ke tempat masing-masing dalam keadaan menang.’

Wahai Saudara-saudaraku, Hari Raya bukanlah bagi orang yang mengenakan baju baru. Bukan bagi yang menghias baju dan   kendaraannya, Bukan juga bagi orang yang menghidangkan beraneka ragam makanan. Akan tetapi Hari Raya yang sebenarnya adalah bagi mereka yang bertambah ketaatannya dan tetampuni dosa-dosa serta di terima segala taubatnya.

Pernah seorang laki-laki masuk ke rumah Amiri Mu’minin Ali ibn Abi Thalib Kwh. Pada hari Raya ldul Fitri. Saat itu beliau menyantap roti kering tanpa lauk pauk. Orang itu bertanya, “Wahai Amiril Mukminin, hari ini adalah Hari Raya, mengapa engkau menyantap roti seperti ini’?”

Maka beliau menjawab,  “Hari ini adalah Hari Raya bagi kami, besok adalah Hari Raya bagi kami, lusa adalah Hari Raya bagi kami. Setiap hari kami tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah. Itulah kebahagian dan merupakan Hari Raya bagi kami.”

Al Imam Anas bin Malik pernah berkata, “Orang mukmin setidaknya mempunyai lima hari raya. Pertama, setiap hari yang di lewati orang mukmin tanpa melakukan dosa, ia akan merasakan Hari Raya di hari tersebut. Kedua, Suatu hari jika ia mati dengan membawa Iman dan Syahadat, maka itulah Hari Raya terbesar baginya. Ketiga, suatu hari jika ia melewati Shirat dan ia selamat dari jilatan api neraka, maka itulah  Hari Raya bagi dirinya. Keempat, suatu hari ketika ia di masukkan ke dalam syurga tanpa hisab, maka itulah Hari Raya bagi dirinya. Kelima, suatu hari jika di dalam Syurga dan mendapatkan kemulian yang Maha Hebat yaitu dapat memandang Wajah Mulia Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka itulah Hari Raya yang tiada banding baginya dan didambakan seluruh hamba.

Di ceritakan dari Anas bin Malik Ra dari Nabi SAW pada suatu hari beliau keluar ketika selesai menunaikan Shalat Eid. Nabi SAW nelihat anak-auak kecil sedang bermain satu sama lainnya, namun ada seorang bocah yang duduk seorang diri berlinang air mata memandang wajah teman-teman yang sedang riang gembira.

Nabi SAW menghampirinya seraya berkata,  “Wahai anakku, kenapa engkau menangis? Dan mengapa engkau tidak ikut bermain bersama mereka?”  Bocah kecil itupun menjawab tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang datang kepadanya,

“‘Wahai paman, ayah dan keluargaku meninggal dunia, gugur sebagai Syuhada membela perjuangan Rasulullah SAW. Kemudian ibuku nikah lagi dan memakan seluruh harta peninggalan ayahku serta suaminya yang baru mengusirku dari rumahnya. Hari ini aku belum makan, belum merasakan setetes airpun, akupun tidak punya baju dan tidak ada tempat berteduh bagi diriku. Oleh karena itu ketika aku melihat teman-temanku dalam keadaan riang gembira dengan baju yang bagus bersama orang tua mereka, Bagaimana aku tidak bersedih’?”

Baca Juga :   Penguatan E-commerce sebagai Penyokong Ekonomi

Maka Rasulullah SAW menggendong bocah itu dengan tangannya yang mulia dan membelainya seraya berkata,

“Wahai anakku, maukah engkau aku jadi ayahmu? Aisyah sebagai ibumu? Ali sebagai pamanmu ? Hasan dan Husain sebagai saudaramu? Fatimah sebagai saudarimu?”

Maka tahulah bocah itu bahwa yang menggendongnya adalah Rasulullah SAW. Iapun berkata,

“Bagaimana aku tidak senang Ya Rasulullah….!”

Sesampainya di rumah, Nabi SAW mengenakan baju yang baru, memberikan makanan yang, lezat dan memberinya wewangian.

Dengan senyum kegembiraan anak itu keluar menemui teman-temannya yang sedang bermain.  Mereka  bertanya-tanya, ” Mengapa kemarin engkau menangis dan sekarang bahagia tertawa? “

Bocah itu menjawab,

“Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi sekarang aku bahagia karena Rasulullah SAW Ayahku. Aisyah Ibuku, Hasan dan Husain Saudaraku, Ali adalah Pamanku dan Fathimah Saudariku. Bagaimana aku tak bahagia…!”

Ketika Nabi SAW wafat, bocah itu menangis dan bersimpuh di atas pusara Nabi SAW dengan berlinang air mata, ia berkata “Ya Allah, hari ini aku menjadi yatim yang sebenarnya. Ayahku yang sangat mencintaiku sudah tiada. Apakah aku harus hidup sebatang kara?

Maka datanglah Sayyidina Abu Bakar Ash – Shiddiq menghampiri sambil membujuk dan memeluknya dengan berkata,” Akulah pengganti ayahmu yang sudah tiada.”

Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf melanjutkan nasehatnya,

“Orang yang bahagia adalah orang yang menjaga diri dan hatinya untuk mencintai Allah dan RasulNya. Oleh karena itu didiklah jiwa kita dan keluarga untuk senantiasa duduk dan menghadapkan wajah kita kepada Allah SWT. Maka, pasti Allah akan memberikan segala-galanya dan tidak akan membiarkan kita begitu saja. Jadikan hari-hari kita tanpa maksiat sehingga kita akan merasakan Hari Raya setiap harinya. Setiap orang hendaknya memanfaatkan waktunya dan tidak menyia-nyiakan  baik untuk urusan dunia maupun akherat, karena orang yang  menyia-nyiakan waktunya mirip dengan penganggur. Kunjungilah orang-orang Shaleh agar mata kita menatap wajah mereka hingga terekam apa yang mereka lakukan pada diri kita.”

Demikian sekilas tentang apa yang telah di soroti Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf tentang Hari Raya yang sebenarnya, agar kita meneladani para salaf shaleh dengan memperbanyak syukur dan taat.

Semoga yang ringkas ini dapat di jadikan penerang dan penuntun di hari yang penuh Rahmat dan Karunia ini sebagai hari yang di muliakan Allah Dan Rasul-Nya.


*Khotib Shalat Idul Fitri di Masjid Agung Palembang oleh Pimpinan Majelis Ta’lim & Tadzikir Al-Anwar Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here