Youtube Channel
Oleh : Mia D. Mentari, SP
Oleh : Mia D. Mentari, SP

Erosi Peran dan Tugas dalam Pernikahan Jadi Tren Perceraian

Hembusan ide- ide feminisme, khususnya kesetaraan gender, menghasilkan kebingungan dan perselisihan berkaitan dengan tanggung jawab pernikahan dan pengasuhan anak. Ide feminisme memaksa kaum ibu untuk bekerja atas nama kesetaraan gender untuk melemahkan perempuan dalam menjalankan peran vital mereka sebagai ibu.


Di Indonesia, pada tahun 2014, ada 382.231 perceraian yang melibatkan pernikahan Muslim – setara dengan 44 setiap jam dan lebih dari 1000 setiap hari. (Statistik dari Pengadilan Tinggi Agama) Tingkat perceraian meningkat dari rata-rata 20.000 per tahun pada tahun 1999 menjadi lebih dari 200.000 pada tahun 2009. (Departemen Agama RI)

Di Kota Palembang sendiri angka perceraian cukup tinggi. Berdasarkan data dari Pengadilan Agama kelas 1A kota Palembang, hingga September 2018 ini, tercatat 2.212 kasus perceraian. Artinya, di tahun ini terdapat 2.212 janda baru di kota pempek ini.

Erosi peran dan tugas yang jelas di dalam pernikahan bagi laki-laki dan perempuan sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan keluarga, pekerjaan rumah tangga, dan pengasuhan anak-anak, menyebabkan seringnya terjadi perselisihan dalam banyak unit keluarga. Lebih jauh lagi, dengan dicopotnya posisi laki-laki sebagai kepala keluarga karena posisi ‘pemerataan gender’ di dalam struktur keluarga, tidak ada cara yang terorganisir untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan ini.

Baca Juga :   Golkar Lahat Targetkan Delapan Kursi

Oleh karena itu pernikahan menjadi lembaga yang didominasi oleh persaingan antara gender tentang peran dan tugas, bukannya menjadi kesatuan yang harmonis yang dibentuk oleh suami dan istri yang memenuhi kewajiban pernikahan dan keluarga yang saling melengkapi.

Feminisme juga membuat perempuan percaya bahwa mereka dapat mengambil peran sebagai suami dan ayah, dan karenanya, ‘tidak perlu ada seorang laki-laki’ di rumah.

Bagi banyak perempuan yang menghadapi masalah-masalah pernikahan, hal ini menyurutkan dorongan untuk menyelesaikan kesulitan dan tantangan dalam pernikahan mereka, malah lebih memilih untuk serta merta beralih pada pilihan perceraian.

Selain itu, dengan banyaknya laki-laki dan perempuan yang bekerja pada pekerjaan yang seringkali lama dan penuh tuntutan, hanya ada sedikit waktu dan energi yang dihabiskan untuk melakukan pernikahan, sehingga hal ini melemahkan ikatan pernikahan.

Sebagai contoh, dalam survei PEW Research Center di AS yang diterbitkan pada tahun 2013, setengah dari orang dewasa yang disurvei mengatakan bahwa meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja membuat pernikahan menjadi sulit untuk berhasil.

Perselisihan dalam pernikahan ini juga meningkatkan kekerasan dalam pernikahan, merusak keharmonisan kehidupan keluarga dan menyebabkan peningkatan perceraian.

Baca Juga :   Penerbitan Kartu Nikah, Kakanwil Sumsel : Masih Tunggu Aturan

Mengejar harta dan individualisme: Dalam budaya individualistik, orang dapat cenderung mengejar kepentingan mereka sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan pasangan atau keluarga mereka. Dalam skenario yang paling drastis, perkawinan dianggap sebagai halangan untuk pemenuhan diri semacam itu. — Paper Penelitian diterbitkan dalam Journal of Family Medicine, #Iran, 2016

Feminisme, dan cita-cita kesetaraan gendernya, merupakan konsep yang cacat secara rasional dan merusak secara sosial, yang telah menimbulkan banyak kerusakan pada harmoni dan kesatuan kehidupan keluarga serta kesejahteraan anak-anak.

Ini karena perspektif feminis individualistik yang rabun jauh yang selalu melihat apa yang terbaik untuk keinginan dan kepentingan perempuan, sering mengabaikan apa yang terbaik untuk pernikahan, anak-anak, kehidupan keluarga yang tenang, dan masyarakat secara keseluruhan.

Lebih jauh lagi, feminisme tidak memberikan kehidupan yang adil dan bahagia bagi perempuan. Sebaliknya membebani mereka dengan tanggung jawab ekstra, mencabut hak-hak mereka atas penyediaan keuangan, menyebabkan konflik dalam pernikahan mereka, dan mencurangi peran keibuan mereka.

Gagasan tentang perempuan yang mendefinisikan hak dan peran mereka sendiri tidak membebaskan mereka dari penindasan melainkan menundukkan mereka.


*Penulis adalah Aktivis Property Syariah

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC

About Raam

Raam

Check Also

Pria Terduga Teroris Diamankan Tim Densus 88 di Palembang

Palembang, Detik Sumsel — Tim Densus 88 melakukan penangkapan seorang pria terduga teroris. Penangkapan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *