Penghapusan Denda dan Bunga Pajak Kendaraan oleh Pemprov Sumsel
Pengelolaan batu bara

Ekspor Produk Tambang Melonjak Tajam

Palembang, Detik Sumsel – Neraca perdagangan Sumsel sepanjang tahun 2018 tercatat mengalami surplus 3,6 juta dolar. Salah satu penyumbang terbesar adalah ekspor produk pertambangan yang mengalami pertumbuhan 62,09 persen.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel, positifnya neraca dagang berkat sokongan ekspor yang tumbuh cukup signifikan. Meski impor untuk produk pendukung industri juga tercatat mengalami lonjakan. Januari sampai Desember 2017 tercatat ekspor Sumsel berada di angka 232,19 juta dolar, sementara tahun lalu mengalami lonjakan menjadi 366,51 juta dolar.

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sumsel, Timbul Parulian Silitongan mengatakan, peranan dan perkembangan ekspor non migas Sumsel memberikan kontribusi paling besar dibandingkan migas, terutama dari sektor pertambangan.

Menurut sektornya, pada periode Januari -Desember 2018 dibanding periode 2017 tumbuh cukup signifikan, yakni 134 juta dolar. Jika dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2017, ekspor produk pertambangan pada periode 2018 mengalami peningkatan sebesar 62,09 persen.

Baca Juga :   Puasa dan Lebaran Tak Mampu Dongkrak Inflasi

“Angka ini tercatat paling tinggi dibanding dengan komponen ekspor lain, sebab untuk migas meningkat 57,85 persen sedangkan ekspor produk industri malah mengalami penurunan 2,94 persen dan produk pertanian turun sebesar 51,47 persen,” jelasnya.

Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor secara keseluruhan pada periode Januari – Desember 2018, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 68,75 persen, produk pertambangan adalah sebesar 21,89 persen dan kontribusi ekspor sektor pertanian adalah sebesar 1 persen, sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 8,37 persen.

“Namun untuk tahun ini, tetap saja pemerintah harus menambah pola baru untuk memperkuat ekspor, sebab sejauh ini harga komoditi masih belum stabil ini tentu bisa memangkas nilai ekspor itu sendiri, sebab kita juga masih dibayangi oleh naiknya impor setiap tahun,” jelasnya.

Sementara untuk impor sendiri, dari total impor Sumsel periode Januari – Desember 2018, impor barang konsumsi memberikan peranan 2,15 persen (US$ 16,02 juta), bahan baku/penolong 50,09 persen (US$ 373,01 juta), dan barang modal 47,76 persen (US$ 355,70 juta).

Baca Juga :   Produksi Padi Sumsel Berpotenasi Naik 2,69 Ton

Pengamat ekonomi, Prof Dr H Sulbahri Madjir menilai produk pertambangan tahun lalu memang sangat menolong neraca perdagangan Sumsel, sebab dari beberapa komponen yang memberikan kontribusi terhadap perdagangan luar negeri, hanya pertambangan khususnya batubara yang harganya masih tinggi, sementara untuk karet dan sawit masih jatuh.

“Makanya saya rasa, sudah saatnya Sumsel itu mengembangkan komoditi lain yang bisa diekspor, bila perlu membuat produk jadi dari usaha kecil namun basisnya sudah ekspor. Artinya ini mendorong sektor riil untuk bisa menghasilkan produk yang diminati masyarakat luar,” jelasnya.

Jika terus bergantung pada komoditi unggulan saja, lama kelamaan negara dagang juga bisa tekor. “Sebab semakin pesat pembangunan otomatis akan meningkatkan impor, karena banyak produk untuk kebutuhan industri dan pembangunan didatangkan dari luar negeri, salah satunya baja dan mesin,” katanya. (May)

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC
Lakukan Penukaran Uang

About Maya

Avatar

Check Also

PGN Dorong Perekonomian Daerah Lewat Pembangunan Blok Minyak Rokan

Palembang, Detik Sumsel – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) grup berkomitmen memberikan dukungan terbaik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *