Pemprov
Kepala kantor wilayah Bank Indonesia Sumatera Selatan, Heri Widodo saat menyampaikan Pertumbuhan Ekonomi Sumsel. (maya/detiksumsel.com)

Ekonomi Sumsel di Prediksi Membaik pada 2021

Palembang, Detik Sumsel – Bank Indonesia (BI) optimistis, pemulihan ekonomi nasional akan terwujud pada 2021. Saat ini, ekonomi Indonesia terus tumbuh mencapai 4,8-5,8%, seiring membaiknya perekonomian nasional.

Meski diawal Maret atau pada Triwulan II saat Covid-19, Bank Indonesia tidak memprediksi terjadinya minus, akibat adanya beberapa periabel yang menyebabkan terjadi tren negatif. Sehingga membuat pertumbuhan ekonomi menyentuh angka minus 1,3 persen.

Meski demikian, ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Hari Widodo, secara keseluruhan perekonomi di Sumsel cukup baik.

“Bahkan sebelum terjadi Covid-19 atau pada Triwulan I, pertumbuhan ekonomi Sumsel berada diangka 4,8 persen. Begitu pula pada Triwulan III yang terus menunjukkan kenaikan, seiring dengan mulai dibukanya pusat perbelanjaan, pariwisata dan pasar tradisional. Kondisi ini menjadi indikator peningkatan ekonomi di Sumsel,”ungkapnya pada press confrence, Besinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi, di Arista Hotel, Kamis (3/12).

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi tersebut tercermin dari kinerja sistem keuangan daerah yang makin terjaga. Hal itu terlihat pada Triwulan III 2020, dimana penghimpunan DPK dan aset perbankan meningkat, ditengah kinerja penyaluran kredit yang masih terkontraksi.

Sehingga membuat aset perbankan menjadi tumbuh 4,41% (yoy) dan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, yang hanya 0,33% (yoy).

“Kita juga mencatat adanya pertumbuhan positif dari dana pihak ketiga perbankan, yang mencapai Rp91,98 triliun atau tumbuh 8,11% (yoy). Perbaikan DPK ini disumbang oleh seluruh komponen pembentuk DPK,”lanjutnya.

Baca Juga :   Pengunjung Hiburan Malam di Palembang Dikeroyok Hingga Kepala Berlumuran Darah

Meskipun kata dia, realisasi penyaluran kredit perbankan di Sumatera Selatan, hingga triwulan III 2020 mengalami pelambatan dengan 5 kontraksi sebesar 3,88% (yoy).

“Secara umum, penyaluran kredit di Sumatera Selatan cukup banyak didanai dari bank di luar provinsi, khususnya kantor pusat bank di DKI Jakarta. Hal ini terkonfirmasi dari nominal penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek (Rp125,45 triliun) lebih besar dari nominal penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank (Rp84,45 triliun),” jelasnya.

Perlambatan penyaluran kredit diikuti oleh kenaikan risiko kredit, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 3,62% pada triwulan III 2020, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 3,41%. Namun risiko kredit ini masih dalam batas aman (di bawah 5%).

Hari melanjutkan, kinerja intermediasi perbankan tercatat masih dalam rentang ketentuan yakni 89-94%. Berdasarkan nilai Loan to Deposit Ratio mencapai 91,80%, lebih rendah dari posisi Desember 2019 sebesar 97,61%.

“Penurunan rasio LDR, disebabkan perlambatan penyaluran kredit di tengah pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Sementara itu, di tengah pertumbuhan kredit yang melambat, risiko kredit bermasalah yang tercermin dari rasio Non Performing Loan terjaga rendah pada level 1,37% pada Oktober 2019,”terangnya.

Baca Juga :   Mudahkan Pencari Kerja, Kominfo Luncurkan SIMONAS

Pada triwulan III 2020, pangsa kredit UMKM terhadap total penyaluran kredit di Sumatera Selatan tercatat sebesar 22,06%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 21,55%.

“Rasio ini dinilai cukup baik karena telah melampaui kewajiban pemberian kredit/pembiayaan UMKM minimal 20%. Dilihat dari sisi sektor ekonomi, pangsa penyaluran kredit UMKM terbesar adalah di sektor perdagangan besar dan eceran yaitu sebesar 40,98% dengan pertumbuhan yang terkontraksi sebesar -5,59% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar -3,13% ( yoy),” paparnya.

Peningkatan kualitas dan kapasitas UMKM daerah dilakukan dengan
mempermudah perizinan dan pembentukan usaha untuk UMKM. Untuk mendorong penggunaan OSS dan tanpa tatap muka, serta kemudahan akses kredit bagi UMKM.

“Berikan kemudahan UMKM menjadi penyedia barang dan jasa, dalam program pengadaan pemerintah. Mulai dari bahan baku, baik dari sisi pengurangan rantai pasokan dan jalur distribusi,”harapnya.

Misalnya, kebutuhan benang untuk pengrajin kain tradisional, dan perluasan infrastruktur telekomunikasi untuk perluasan jangkauan pemasaran produk UMKM di daerah.

Selain itu jelasnya, perekonomian Syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru, juga perlu terus didorong.

“Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi penerimaan zakat sebesar Rp2,3 triliun, penyaluran DPK dan kredit syariah yang terus tumbuh hingga mencapai Rp8,3 triliun dan Rp9,2 triliun pada triwulan III 2020,” tutupnya. (May)

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC

About Maya

Avatar

Check Also

Ditembak Polisi, Pembobol Konter HP Ini Berjalan Terpincang – pincang

Palembang, Detik Sumsel — Hendra Suwandi alias Ujang (32) warga Jalan Pangeran Ratu Lorong Family …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *