Pemerintah Sumatera Selatan
Beranda Refleksi Egoisme Eksklusif Dalam Menyikapi Virus Corona dan Implikasinya Terhadap Relasi Sosial

Egoisme Eksklusif Dalam Menyikapi Virus Corona dan Implikasinya Terhadap Relasi Sosial

Tanggal : Pukul :
1178
1
Egoisme Eksklusif Dalam Menyikapi Virus Corona dan Implikasinya Terhadap Relasi Sosial
Oleh: A Rifai Abun

Dalam teori struktural fungsional yang mengemuka di abad ke-20, disebutkan bahwa “masyarakat” merupakan sebuah sistem yang dinamis, yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan, bersosialisasi, dan membangun sebuah relasi. Sosialisasi dan relasi dalam konteks ini dapat dipahami sebagai suatu proses dimana warga masyarakat dididik untuk saling mengenal, memahami, mentaati dan menghargai norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, sehingga pada waktunya akan tercipta lingkungan atau kondisi masyarakat yang harmonis, kondusif. Masyarakat semacam itu, dapat terbentuk jika masing-masing individu dan bahkan keluarga, komunitas yang ada dalam masyarakat tersebut bisa menjaga dan melihat lingkungan sekitarnya dengan baik


Relasi dalam bentuk interaksi atau pergaulan dengan individu/komunitas menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang “masih hidup” di dunia ini. Sangat aneh dan bahkan dapat dikatakan langka, jika ada orang atau keluarga yang mampu bertahan hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Seperti halnya di ungkapkan dalam Al-Qur’am yang artinya  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat:13).

Paradigma relasi sosial yang sudah terbentuk seperti diungkapkan di atas, pada gilirannya nanti akan terjadi jalinan kerjasama. Kerjasama itu akan berlanjut terus, di antaranya dalam bentuk saling memberikan informasi dan arahan terhadap sesuatu yang dianggap baik dan benar, yang pada waktunya nanti terciptanya  control and balancing. Artinya setiap entitas dalam suatu masyarakat harus memainkan peran saling mengarahkan terhadap sesuatu yang benar (haqq), sehingga stabilitas sosial menjadi terwujud. Dengan demikian, dimungkinkan segala problematika yang muncul dan menerpanya pun akan menjadi mudah diupayakan berbagai solusinya.

Dalam konteks kekinia, masyarakat dunia dihebohkan oleh virus corona atau yang seringkali disebut dengan Covid-19, yang bersumber dari virus hewan, salahsatunya jenis kelelawar, yang sangat menakutkan dikarenakan penularannya begitu cepat, yang awalnya hanya melanda salah satu kota di Cina yaitu Wuhan. Namun, untuk  saat ini wabah virus tersebut telah masuk ke wilayah Indonesia, sehingga per tanggal 20 Maret 2020, sudah ada 31 korban meninggal dunia.

Seiring dengan perkembangan waktu, Virus corona yang begitu cepat menyebar keberbagai belahan negara, yang oleh WHO, disebut sebagai pandemic global, dan dihadapkan dengan kondisi kehidupan yang semakin modern, dengan kapasitas manusia sebagai “Homo-Sapiens”, sebagai spesies manusia terbaik dan tertinggi, hingga kini belum mampu mewujudkan harapan besarnya secara tuntas untuk melawan dan menghilangkan wabah virus tersebut, yang pada saat ini baru bisa dilakukan hanya pada tingkat mencegah dan meminimalisir penularfannya. Namun, tidak sedikit reaksi dan sikap yang ada dari masyarakat, saling menagasikan di antara yang saling mengafirmasi. Hal itu terjadi karena munculnya perbedaan dalam sudut pandang, latar sosiokultura dan pijakan teologis yang berbeda.

Manusia baik secara personal maupun secara kolektif minimal dalam komunitasnya, sebaiknya tidak mengedepankan egoisme apalagi luapan emosi kebencian dan pendekatan tanpa pemahaman ilmu dan fakta empiris dalam menyikapi virus corona tersebut. Hari ini, kebijakan pencegahan virus corona baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun lembaga dan ormas di antaranya Muhammadiyah  –sebagai institusi yang memiliki otoritas– belum sepenuhnya diimplementasikan oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena pemahaman yang dimiliki selain berbasis pada pemahaman pengetahuan parsial dan ada yang dipertajam dengan luapan emosi.

Baca Juga :   Peran Jurnalisme Merawat Keberagaman

Kebijakan Social Distancing dari pemerintah yang diterjemahkan oleh lembaga dan ormas Islam dalam bentuk anjuran agar shalat jum’at untuk sementara diganti dengan shalat dhuhur di rumah, ibadah umrah atas kebijakan pemerintah Saudi Arabia ditangguhkan, termasuk untuk sholat berjamaah di dua masjid baik Masjidil Haram di Mekah maupun masjid Nabawi di Madinah. Mengurangi persentuhan fisik antara sesama, seperti halnya berjabat tangan, cium pipi kanan dan kiri, menggunakan masker dan lain sebagainya. Masyarakat muslim belum satu sikap. Masih banyak perbedaan perilaku dan sikap dalam merespon.

Terjadinya perbedaaan dalam menyikapi persoalan semacam ini, dan persoalan-persoaan lainnya, tentunya saja tidak bisa dimungkiri, karena merupakan sebuah implikasi dan paradigma serta polarisasi beragama masa lalu, yang senantiasa berkutat pada “tradisi simbol” Hal ini dengan meminjam istilah McGrath (1990), disebabkan bahasa alkitab bersifat “balbative” (pembicaraan bayi) yaitu penyederhanaan kebenaran  yang dilakukan dengan sengaja, karena kebenaran itu sendiri terlalu komplek untuk dipaparkan. Teks kitab suci diayakini sering menggunakan “amsal dan I’tibar” (permisalan dan maksud tersembunyi). Implikasinya dalam beragama seringkali mentradisikan symbol yang bersifat ambique. Ibadah haji merupakan contoh akurat untuk agama symbol ini. Ketika berhaji, agama menyuarakan cinta lingkungan tetapi pada waktu yang bersamaan diperintahkan untuk menyembelih kurban. Satu sisi menyuruh hidup sederhana, namun pada saat yang sama bersifat kapitalistik.

Timbulnya sikap semacam itu, dikarenakan agama memang menganjurkan ketaatan, kohesifitas, kesatuan dan pengelompokan identitas. Agama membentuk komunitas yang disamakan melalui tradisi etika, system keagamaan, teks yang bersifat ortodoksi, maupun tafsiran terhadapnya. Dari sinilah gagasan agama seseorang lebih komplit, lebih sempurna, dan bahkan lebih baik dari agama orang lain dikampanyekan, selanjutnya pada tingkat praksis, mereka yang berbeda agama dianggap kafir, sesat dan bahkan haru dimusnahkan. Munculnya konsep ke-beragama-an yang bersifat bahwa satu wilayah yang harus ditundukkan karena penduduknya berbeda agama atau kufur, dan wilayah yang penduduknya beragama sama atau seagama, dan diatur oleh aturan yang sama. Dari dua bentuk keberagmaan inilah yang menyebabkan lahirnya agamawan yang berwawasan “pinggiran” dan bersifat ektrim tertutup.

Kondisi semacam itu, sebagai sebuah implikasi dari cara manusia beragama yang seringkali mentradisikan symbol sebagai cara untuk beriman. Implikasinya tafsir bukan memperkaya wacana melainkan hasil mis-interpretasi dari symbol. Ragam tafsir yang truth clam inilah asal muasal munculnya konflik antara intra agama. Symbol kemudian menggiring manusia untuk menyukai misteri maupun takhyul, sehingga menikmati apa yang tidak dimengerti (ilmiah)

Karena itu sudah waktunya umat Islam dalam beragama harus mentradisikan diri dengan keiman nasional yang bersifat substantive. Atau dengan kata lain, paradigma berpikir kita dalam beragama  sudah waktunya bersikap rasional (menggunakan akal sehat). Agama dalam beberapa hal harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang tidak absolut. Ia berubah untuk menunjukkan kebenaran-kebenaran. Dimana kebenaran-kebenaran hanya bisa didapatkan dengan percobaan atau eksperimen yang efisien dan efektif. Jika agama dianggap sebagai irrasional, dan batasan-batasan agama konservatif dipostulatkan maka manusia bisa terjatuh dalam khayalan-khayalan. Akibatnya substansi agama menjauh, cita-cita terkubur bersama proyek dan imajinasi yang dibungkus dalam symbol.

Kita, sebaiknya secara personal maupun secara kolektif minimal dalam komunitasnya, sebaiknya tidak mengedepankan egoisme apalagi luapan emosi kebencian dan pendekatan tanpa pemahaman ilmu dan fakta empiris dalam menyikapi virus corona tersebut. Secara universal kehidupan dunia ini, menggapai qadha sekaligus qadarnya sebagai ruang dan waktu perkembangan sains modern dan revolusi industri 4.0 dengan berbagai pilarnya antara lain: artificial intelligent, algoritma dan Internet of Things (IoT). Pilar – pilar dan perpaduan di antaranya telah mampu melahirkan robot – robot cerdas, teknologi nano, rekayasa genetika, teknologi fabrikasi digital yang mampu berinteraksi dengan dunia biologis. Kenapa hal ini penting diungkapkan?, bahwa secara rasional, bumi ini dan manusia sebagai  bagian kehidupan di dalamnya, idealnya telah mengalami qadar (takdir) terbebas dari wabah termasuk Covid-19. Virus Corona seakan hadir menyentak kesadaran dan mendekonstruksi premis “Homo Sapiens sebagai spesies terkuat di muka bumi”. Membombardir tesis sains modern, revolusi industri 4.0 dengan berbagai pilarnya yang menjadi kebanggaan peradaban globalisasi hari ini. Artificial intelligent, teknologi fibrikasi digital dan segala kemampuan dalam rekayasa genetika seakan lumpuh. Terbukti sampai hari ini belum ditemukan vaksin dan obat untuk virus Corona. Dan akan lebih aneh jika hari ini, ada manusia modern mengedepankan mantra untuk menyembuhkan virus Corona.

Baca Juga :   KELIRUMOLOGI TAHUN POLITIK.!!!

Sekalipun rekayasa sain sudah mencapai titik kulminasinya, tentu saja kita tetap harus mnghargai sikap perbedaan pemahaman dalam kasus corona ini, karena masing-masing komunitas yang didalamnya berkumpul manusia dalam berbagai identitasnya memiliki hak-hak sebagai manusia, memiliki kebebsan untuk berpendapat. Misalnya, dalam kasus corona yang menyita perhatian dunia ini, kita menemukan beberapa seruan dari kalangan muslim terutama di Indonesia yang mempropagandakan kepada masyarakat Indonesia bahwa tidak harus takut kepada virus corona dan hanya takut kepada Allah SWT, karena hidup dan mati telah ditakdirkan oleh Allah. Pendapat tersebut secara sekilas tidak ada yang salah dan keliru, dan bahkan merupakan anjuran yang baik agar masyarakat tidak mengalami ketakutan dan kepanikan secara berlebihan. Namun nyatanya hal itu mengandung makna yang lebih luas. Dimana seruan untuk tidak takut kepada corona namun takut kepada Allah, sesungguhnya telah mengenyampingkan usaha-usaha dalam mengurangi penyebaran covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah yang bersifat persuasif yang menghimbau untuk belajar, bekerja dan bahkan beribadah seperti diuraikan di atas, tidak dihiraukan bahkan ada komunitas yang menyepelekan

Dengan munculnya virus corona, barangkali sudah waktunya kita mengikuti kebijakan yang diambil oleh pemerintah, dalam arti kata mengurangi kegiatan-kegiatan yang bersentuhan dengan sesama, berkumpul di ruang publik yang banyak melibatkan manusia. Dan sudah waktunya juga untuk tidak lagi memberikan komentar di berbagai media yang menyalahkan pemerintahan.

Kebijakan yang diambil pemerintah ini, tentu saja tidak dikeluarkan secara sembarangan tanpa memikirkan konsekuensinya. Qur’an memberi penjelasan: … dan jangan kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (Baqoroh: 195). Selain itu, himbauan pemerintah, melalui MUI didukung oleh kaedah fighiyah, yaitu: “Tidak boleh membahayakan diri dan membahayakan orang lain”, “Menolak mafsadah didahulukan daripada mencari kemaslahatan”, “Bahaya harus ditolak”, dan lainnya. Banyak ayat al-Qur’an dan Hadis, serta kaidah fiqhiyyah yang mendukung fatwa tersebut.

 Saya yakin saat ini pemerintah dengan segala potensi yang dimilikinya sudah berupaya untuk mengatasi virus corona ini. Kita, sebagai rakyat biasa, masyarakat awam, komunitas beragama, yang tidak terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan dan hanya pengambil nikmat, sebaiknya ikut mendo’a agar bencana ini segera berakhir, kita-kita ini, sedikitpun belum memberikan kontribusi positif dalam upaya mengatasi virus ini.

Akhirnya, kebijakan pemerintah adalah sebagai salah satu solusi untuk mengantisipasi berkembang dan bahkan menularnya virus corona. Tapi, kalau kebijakan itu dianggap salah oleh sebagian individu, tentukan langkah secara individu.


Penulis: A Rifai Abun. Dosen Pasca UIN Raden Fatah Palembang.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here