Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus Dua Jam Koar-Koar, Dibayar Rp 30 Ribu

Dua Jam Koar-Koar, Dibayar Rp 30 Ribu

Tanggal : Pukul :
425
0
Ilustrasi

Lipsus, Detik Sumsel- Massa bayaran kerap kali tidak memahami dan mengetahui substansi permasalahan yang akan disampaikan saat ingin mengikuti aksi demo. Bahkan, muncul istilah di kalangan massa bayaran ini yakni Ada Uang, Ada Demo.

Penelusuran Detik Sumsel, mereka yang menjadi massa bayaran ini kebanyakan berprofesi sebagai buruh serabutan, mulai dari buruh cuci hingga tukang ojek. Misalnya saja yang diakui Elly (47) buruh cuci kawasan Tanggo Buntung ini mengaku, ketika ada job untuk menjadi massa demo bayaran dirinya mematok harga upah paling kecil Rp30 ribu.

“Yo, kalu nak demo harus ado duitnyo (ada uang, ada demo), siapo yang galak koar-koar payah bae tuh (siapa yang mau teriak-teriak dibayar dengan payah saja),” ungkapnya kepada Detik Sumsel.

Dikatakan Elly, untuk satu kali aksi demo dirinya mematok harga tersendiri yakni Rp30 ribu dan diberi konsumsi berupa nasi. “Kadang galak dibayar Rp100 ribu untuk tigo kali demo, duitnyo dibayar terakhir,” ungkapnya lagi.

Baca Juga :   Setiap Hari, Satu Unit Motor Pasti Hilang

Senada diungkapkan Joni (31), tukang ojek yang mangkal di kawasan rumah susun ini mengaku, dirinya sering diajak untuk demo dan dibayar Rp50 ribu untuk satu kali demo dengan estimasi waktu sekitar 1-2 jam untuk satu kali demo. “Bawak motor dewek pak ke lokasi demo, kito dienjuk Rp50 ribu, makan idak dienjuk palingan air mineral bae,” tuturnya.

Joni menyebutkan, biasanya ada orang yang menemui dirinya satu hari sebelum aksi demo berlangsung untuk mengajak turun ke jalan dengan dibayar. “Biasonyo janjian kagek, ngumpul dimano lokasinyo. Duit baru dibayar setelah demo selesai,” bebernya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan dirinya tidak mempersoalkan siapa yang demo atau ada aktor yang terlibat dibelakangnya. “Yang penting itu lihat isi demo itu, kalau bermanfaat untuk dijadikan masukan harus kita terima,” ungkap Deru.

Baca Juga :   Sekolah Gratis di Sumsel Bakal Berakhir

Deru menilai, aksi demo terkadang dilakukan karena sekumpulan orang ingin menyampaikan masalah yang dihadapi dan berharap ada jalan keluar. “Saya pribadi yang penting demo itu sesuai dan disampaikan dengan mengedepankan etika serta kedamaian,” tukasnya.

Terpisah, Wali Kota Palembang, Harnojoyo berharap kepada masyarakat Palembang untuk dapat lebih teliti menaggapi setiap hal-hal atau sesuatu yang diterima.”Jangan sampai ada berita Hoaks, berita fitnah. Koreksi silahkan, tetapi ada solusinya,” ujarnya.

Harnojoyo menambahkan, melalui rasa persaudaraan, masyarakat diharapkannya juga untuk dapat saling mengingatkan dalam hal-hal kebaikan.

“Jadi masyarakat itu janganlah mudah untuk terpancing terhadap suatu isu yang belum jelas kebenarannya, apalagi untuk saat ini. Harus dicerna dulu, demi menjaga kota Palembang tetap kondusif,” pungkasnya.(fir/wira)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here