Iklan
Pemprov
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Letjend Doni Monardo

Dorong Keseriusan Pemda di Sumsel

Palembang, Detik Sumsel- Situasi Covid-19 di Sumsel kian mengkhawatirkan. Tiga daerah yakni Kota Palembang, Prabumulih dan Kabupaten OKU Timur mengalami peningkatan status menjadi zona merah penyebaran Covid-19. Tak hanya itu, tingkat kematian Sumsel secara persentase menjadi yang terbesar ketiga di Indonesia dengan angka kematian 4,93 persen.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Letjend Doni Monardo menjelaskan, situasi tersebut harus segera disikapi dengan cepat oleh jajaran Forkompinda di daerah. Sehingga bisa dicari jalan keluarnya. “Perlu ada evaluasi untuk mencari tahu penyebabnya dan langkah penangananya. Jangan pernah menganggap enteng,” kata Doni saat dibincangi, kemarin (5/5), usai Rapat Koordinasi di Graha Bina Praja.

Doni menyebutkan, kasus Covid-19 banyak ditularkan oleh warga berusia produktif. Kondisi tersebut membuat angka kematian yang banyak dialami usia 45 tahun keatas mengalami peningkatan. “Kalau terus aktif maka penyebaran sulit dikendalikan. Dan akan beresiko terhadap warga yang berusia diatas 45 tahun. Terbukti angka kematian di usia tersebut mencapai 85 persen. Apalagi yang memiliki komorbit,” terangnya.

Menurutnya, jumlah kasus aktif yang ada di Sumsel saat ini sudah diatas angka nasional yakni sebesar 6,76 persen. Sementara angka nasional hanya mencapai 5,88 persen. Kondisi tersebut membuat tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di Sumsel berada di angka 56,4 persen. “Angkanya hampir mendekati standar WHO sebesar 60 persen,” tuturnya.

Padahal, sambung Doni, BOR di Sumsel hanya mencapai 30 persen. Artinya dalam waktu sebulan ada peningkatan hampir 100 persen. Tentunya, kondisi ini harus diwaspadai kalau tidak ingin kejadian di India menular ke Indonesia. “Saatnya sekarang seluruh elemen masyarakat bergerak untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan dan penanganan,” ucapnya.

Baca Juga :   Purnawirawan TNI-AD, Warakawuri Wilayah OKI-OI di Vaksinasi

Sementara, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 dr. Dewi Nur Aisyah menjelaskan, kenaikan angka kematian di Sumsel banyak ditularkan oleh masyarakat usia produktif. Dalam artian anak menularkan orang tuanya. Angka kematian ini juga diikuti oleh angka positif yang meningkat

“Kenaikan tertinggi kasus positif di Sumsel terjadi terakhir Februari dan Maret setelah itu tidak ada zona merah lagi. Zona kuning lebih banyak. Namun sejak awal April setelah paskah dan awal Ramadan kasus mulai alami lonjakan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Lesty Nurainy mengatakan, saat ini ada tiga daerah yang dinyatakan sebagai zona merah. Kota Palembang dengan 84 kelurahan dinyatakan zona merah. Lalu OKU Timur sebanyak 305 desa dan Kota Prabumulih sebanyak 12 desa.

Selanjutnya, zona oranye sebanyak 9 daerah yakni Kabupaten Banyuasin, Muara Enim, OKU, Lubuk Linggau, Pali, Muba, Lahat, OKU Selatan dan Musi Rawas. Zona Kuning sebanyak 5 daerah yakni Kabupaten Empat Lawang, OKI, Ogan Ilir, Kota Pagaralam dan Muratara.

Menurutnya, Pemprov telah mengerahkan sejumlah upaya dalam menekan angka penyebaran Covid-19 di wilayahnya. Mulai dari tracing yang agresif dengan peningkatan kemampuan tenaga lapangan dan pelibatan lintas sektor. Kemudian testing masif dengan peningkatan kapasitas laboratorium, rumah sehat Jakabaring sebagai skrining center, serta pemeriksaan spesimen atau sampel yang saat ini sudah mencapai 36.067 sampel.

Proses treatment juga telah ditingkatkan. Melalui pemanfaatan rumah sehat Jakabaring sebagai tempat karantina, pembentukan ruang isolasi mandiri di daerah-daerah, mengintegrasikan PSC119 dalam pelayanan gawat darurat Covid-19.

Baca Juga :   Sukseskan Vaksinasi, UPTD Puskesmas Lais Lakukan Vaksinasi Massal

“Kami juga melakukan penguatan pelaksanaan PPKM Mikro. Sejak diberlakukan, kami telah mengintensifkan disiplin Prokes, upaya penanganan kesehatan 3T dan 3M, memperkuat kegiatan testing, lacak dan isolasi. Perbaikan treatment dengan meningkatkan fasilitas kesehatan serta berbagai upaya lainnya,” bebernya.

Menurut Lesty, penanganan Covid-19 tidak hanya dengan mendorong upaya 3T dan 3M saja. Tapi juga proses vaksinasi. Hanya saja, proses vaksinasi saat ini terkendala pasokan vaksin yang masih tersendat. Data yang dimilikinya, Sumsel telah menerima pasokan vaksin Sinovac dan Vaksin Covid-19 sebanyak 695.300 dosis. Sementara Astra Zeneca sebanyak 3.300 dosis.

Vaksin tersebut telah didistribusikan kepada sasaran Tahap 1 yakni SDM Kesehatan dengan 45.430 penyuntikan pertama dan 41.866 untuk penyuntikan kedua. Selanjutnya, Tahap kedua dengan sasaran pelayan publik sebanyak 219.072 dosis penyuntikan pertama dan 142.553 dosis penyuntikan kedua. Tahap kedua lansia sebanyak 53.397 dosis penyuntikan pertama dan 27.558 dosis penyuntikan kedua.

“Nah, sisa yang ada saat ini hanya sanggup memenuhi kebutuhan dosis penyuntikan kedua dan lansia saja. Sementara untuk penyuntikan pertama atau baru sudah tidak bisa lagi. Kita butuh lebih banyak pasokan vaksin lagi. Terutama untuk tenaga guru,” bebernya.

Dijelaskan Lesty, selain ketersediaan vaksin, pelaksanaan vaksinasi menemui beberapa kendala lainnya. Yakni kepastian jadwal kedatangan vaksin yang belum tepat. Kepastian jadwal ini dibutuhkan agar memaksimalkan vaksinasi di tingkat layanan. Lalu, masalah aplikasi vaksinasi terutama dashboard pelaporan vaksinasi KPC PEN dimana data capaian menjadi berkurang.

“Masalah-masalah ini yang menjadi kendala kami dalam menuntaskan program vaksinasi,” pungkasnya. (Raam)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Sukseskan Vaksinasi, UPTD Puskesmas Lais Lakukan Vaksinasi Massal

LAIS, Detik Sumsel- MUBA Program vaksinasi COVID-19 terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Kali ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *