Beranda Daerah Dipaksa Mengundurkan Diri, Pekerja PT Dizamatra Powerindo Tuntut Pesangon

Dipaksa Mengundurkan Diri, Pekerja PT Dizamatra Powerindo Tuntut Pesangon

Tanggal : Pukul :
1263
0
Sejumlah anggota kepolisian dan pihak kecamatan saat menjaga aksi masa. Foto Heru/DS

Lahat, Detik Sumsel — Puncak kekesalan sejumlah pekerja PT Dizamatra Powerindo, Subkon PT Primanaya Energi, lantaran dipaksa untuk mengundurkan diri dari perusahaan, akhirnya meledak. Setidaknya sebanyak 43 pekerja yang dipaksa mengundurkan diri, melakukan aksi pemortalan akses masuk ke perusahaan.

Pemangkasan karyawan ini diduga, lantaran pihak perusahaan yang bergerak di sektor batubara ini. Nampaknya lebih memilih pekerja dari sebuah perusahaan kontraktor, dari pada pekerja yang dipekerjakan langsung atas nama perusahaan. Ditambah lokasi mutasi masih terlibat sengketa dengan warga setempat, selain itu keberadaan PT Sumatera Powerindo diduga sudah tidak aktif lagi.

“Kami dipaksa menandatangi surat pengunduran diri, atau pilih pindah lokasi kerja. Batubara yang diproduksi juga untuk PT Primanaya, bukan dijual keluar,”ujar Heru, salah satu pekerja, Jumat (15/3).

Rejamudin, merupakan Kades Kebur, Kecamatan Merapi Barat, yang jadi perwakilan masa menuturkan, tindakan perusahaan ini sama saja dengan pemaksaan pemberhentian secara halus. Pekerja yang kebanyakan warganya ini, sewajarnya menuntut pesangon kepada pihak perusahaan.

“‎Permintaan pekerja ini tidak muluk-muluk, sebatas kebutuhan dan tanggung jawab terhadap anak istri mereka,” tutur Rejamudin.

Andrew, selaku Pjs Mananajer HRD PT Dizamatra Powerindo berkilah, permasalahan ini dampak dari pengurangan produksi, akibat pelarangan truk angkutan batubara melintas di Jalinsum. Untuk efisiensi, perusahaan menawarkan mutasi ke Sebaya, Sumatera Utara pada PT Sumatera Powerindo.

“Perusahaan hanya menjamin operasional, dan transportasi selama disana. Kalau tidak mau dimutasi, kami siap memberikan konpensasi sesuai masa kerja. Antara Rp 7 juta sampai Rp 15 juta,” terangnya.

Disisi lain, Kapolsek Merapi, AKP Herli Setiawan mengatakan, titik terang pertemuan mediasi ini agak sulit. Mengingat tidak dihadiri oleh pihak pekerja, melainkan hanya diwakilkan oleh Kades setempat.

“Untuk pemortalan jalan, sudah dibuka kembali. Aksi berjalan kondusif hingga massa bubar,” kata Herli. (heru).

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here