Penghapusan Denda dan Bunga Pajak Kendaraan oleh Pemprov Sumsel
Masyarakat diminta mempersiapkan diri untuk merubah pola hidup dengan gaya normal baru dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Cegah COVID-19 dari Kampung dengan Swadaya Masyarakat

Palembang, Detik Sumsel- Perkembangan virus COVID-19 di Kota Palembang hingga saat ini terbilang masih sangat tinggi. Status wilayahnya pun masih zona merah dengan kasus positif aktif mencapai 930 orang.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sendiri sudah resmi dicabut oleh pemerintah kota Palembang. Masyarakat diminta mempersiapkan diri untuk merubah pola hidup dengan gaya normal baru dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Di berapa kecamatan seperti Sako dan Kalidoni, ada dua kampung yang bergeliat melindungi warganya untuk tidak terpapar COVID-19. Mereka berswadaya melakukan kegiatan pembatasan sosial berskala kecil (PSBK) untuk wilayah kampung masing-masing yakni kampungan Bumi Sako Damai (BSD) dan Kampung Margoyoso.

Suasana mendung masih menyelimuti sebagian Kota Palembang, saat menyambangi Kampung Tangkal COVID-19 BSD yang terletak di Kecamatan Sako, Kelurahan Sako, Kota Palembang, Sabtu (18/10/2020).

Saat itu berapa ketua RT dan perangkat kampung tengah melakukan penjagaan posko tangkal COVID-19. Mereka menyetop warga luar yang ingin masuk untuk terlebih dahulu mencuci tangan dan dilakukan penyemprotan disinfektan bagi kendaraan secara manual ataupun otomatis.

“Beginilah suasananya, siapa pun itu yang ingin masuk ke dalam harus mencuci tangan, dan menjalani protokol kesehatan, bahkan untuk warga kita sendiri. Termasuk untuk warga kita yang baru pulang dari luar daerah, kebanyakan mereka yang sekolah di Jawa kita minta untuk isolasi mandiri selama 14 hari, dan kita lakukan pendataan,” ungkap Ketua RT 098 BSD, Agus Sutami.

Kegiatan tangkal COVID-19 sendiri sudah dilakukan sejak akhir Maret lalu. Saat itu, kasus positif pertama baru saja terkonfirmasi di Palembang. Perangkat kampung pun langsung turun untuk rembuk bersama mengambil sikap membentengi kampung dari virus.

Saat itu warga kampung langsung setuju untuk memberlakukan protokol kesehatan lebih dulu sebelum ada imbauan lebih lanjut dari pemerintah. Mereka langsung memberikan peringatan agar warga BSD berhati-hati atas bahaya virus.

“Setelah kasus pertama itu kita langsung sepakat untuk membuat posko COVID-19 di pintu gerbang masuk. Kami langsung menyediakan alat cuci tangan, penyemprotan disinfektan di kawasan dan bagi mereka yang datang ingin masuk ke dalam,” jelas Agus.

Awalnya perangkat kampung mulai bergotong royong dan menggunakan uang kas kampung untuk membeli keperluan posko seperti, alat cuci tangan, cairan disinfektan. Seiring waktu warga pun secara sukarela membantu operasional posko Tangkal COVID-19 dengan menyumbang uang.

Di BSD sendiri jumlah penduduknya sekitar 2.400 dengan 600 rumah terbagi dalam tiga RT, 097, 098, 099. Mereka bahu membahu memberikan penjagaan di posko dengan melibatkan warga kampung, untuk mulai berjaga sejak pukul 06.00 WIB hingga 24.00 WIB. Para relawan sendiri secara sukarela melakukan penjagaan tanpa dibayar. Hal itu semata-mata dilakukan untuk menjaga kampung sendiri.

Baca Juga :   Tokoh Agama Ikrarkan Tetap Jaga Sumsel Zero Konflik

“Alhamdulilah sampai saat ini belum ada satu pun warga kita yang terpapar COVID-19,” jelas dia.

Tidak sedikit, olokan terdengar dari warga kampung lain melihat langkah antisipasi ketat tersebut. Apa lagi mereka sempat mengunci kampung secara penuh selama satu minggu. Hal itu membuat aktifitas kampung terhenti total mulai dari, keagamaan, hingga tujuh pernikahan ditunda di kampung itu.

“Masjid saja kami tutup sejak ada imbauan dari MUI dan pemerintah. Semua kegiatan terhenti. Satu jam sekali kita lakukan patroli keliling kampung dengan melibatkan Babinkantibmas dan Babinsa,” ujar dia.

Kegiatan kampung yang berpusat di posko Tangkal COVID-19 tersebut dimanfaatkan perangkat kampung dan warga untuk menyulap lahan yang tidak terpakai di sepanjang masuk kampung untuk kegiatan bercocok tanam dan membuat kolam ikan. Tidak terhitung banyak sayuran, dan tanaman obat serta ikan yang dapat dibeli warga untuk keperluan sehari-hari.

“Memang dari sebelum COVID-19 sudah ada tanaman yang kita tanam tetapi sejak wabah terjadi kita membuka lahan lebih besar lagi. Kita tanami, sawi, kangkung, terong, bayam, kacang panjang, ubi, jagung dan masih banyak lagi. Kalau kita panen warga dapat membeli dengan harga murah. Hasil uangnya itu bisa diputar lagi untuk membeli bibit lagi,” jelas dia.

Kondisi itu meringankan, warga kampung yang terdampak pandemik. Agus mencatat di kampung tersebut ada sekitar 70 orang yang di putus hubungan kerja (PHK). Mereka rata-rata adalah pekerja hotel, mall, hingga satpam.

Hal serupa dibenarkan oleh Ketua Penyelenggara Penjagaan Posko Tangkal COVID-19, Najmi Umar. Menurutnya di saat seperti ini ketika PSBB sudah dilonggarkan pihaknya tetap melakukan prosedur protokol kesehatan. Kondisi ini dilakukan sampai wabah benar-benar hilang dari Bumi Sriwijaya.

Untuk satu bulan operasional, pihaknya membutuhkan Rp6 juta untuk keperluan posko. Semuanya dipenuhi dari swadaya masyarakat.

Sedangkan untuk kegiatan yang selama ini dilarang, pihaknya pun telah melonggarkan kegiatan keagamaan di masjid ataupun hajatan. Hanya saja kegiatan yang mengundang banyak orang harus mendapatkan persetujuan dari pihak keamanan yakni Danramil dan Kapolsek.

“Kalau ada yang mau sedekah kami minta izin dan ramil dan kapolsek dulu, kalau diizinkan harus ada protokol kesehatan yang dilakukan. Hari raya Idul Adha yang ikonik dengan kurban pun rencananya ditiadakan untuk tahun ini, tetapi masih akan kami diskusikan dahulu,” ujar dia.

Tidak jauh berbeda, Kampung Tangkal COVID-19 Margoyoso Palembang, juga melakukan kegiatan hampir serupa. Mereka melakukan pendirian posko sejak wilayah kecamatan Kalidoni dinyatakan zona merah, dengan adanya 19 warga yang terpapar virus.

Kampung Margoyoso yang terdiri dari satu RW lima RT tersebut langsung melakukan penjagaan ketat. Mereka memberlakukan akses keluar masuk satu pintu bagi warga yang akan melintas. Warga pun diwajibkan untuk menggunakan masker dan selalu mencuci tangan saat akan masuk kampung di posko.

Baca Juga :   Wawako Instruksikan Bantu Pengurusan Surat Yang Terbakar

“Dalam pengawasan ada enam orang yang kita tugaskan untuk bergantian menjaga di posko. Mereka dibagi shift kerja, di mana dalam satu shift ada dua orang yang kerja. Tamu tetap boleh masuk tetapi dengan melakukan standar protokol kesehatan, cuci tangan, pemeriksaan suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan,” jelas Ketua Kampung Tangkal COVID-19, Sutrisno Basir.

Kampung Margoyoso sendiri memiliki 2.400 warga. Sejak pandemik terjadi belum satupun warganya yang terpapar COVID-19. Menurutnya hal itu terjadi karena kedisiplinan yang diberlakukan di Kampung tersebut. Padahal wilayahnya di kepung zona merah.

“Kita bersyukur belum ada warga kita yang sakit. Selama masa PSBK ini, kita stop seluruh kegiatan keramaian. Kita tidak mau ada kabar buruk dari warga kita sendiri,” ungkap dia.

Perangkat Kampung beserta warga masyarakat menyusun lima program untuk mendukung keberlangsungan PSBK kampung Margoyoso. Pertama, aspek keamanan hal ini dinilai penting untuk mengawasi setiap kegiatan yang terjadi di kampung guna mengendalikan hal-hal yang diinginkan. Lalu kedua, protokol kesehatan yang mengatur bagaimana aspek kesehatan dapat terjalin lewat fungsi disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

Ketiga, aspek ketahanan pangan. Sutrisno melihat, jika aspek ini harus dipenuhi agar masyarakat dapat bertahan hidup di tengah pandemik. Pasalnya banyak warganya yang terdampak sehingga perangkat kampung memutuskan untuk memanfaatkan lahan kosong untuk berkebun, menanam sayur-sayuran yang bisa dimanfaatkan warga. Lalu membudidayakan ikan, mulai dari lele, nila, hingga patin.

“Jadi kebunnya kita gunakan lahan kosong warga. Kita tanami tanaman obat, sayuran. Sedangkan untuk budi daya ikan kita gunakan saluran sungai kecil dengan membentuk 12 jerambah. Paling banyak ikan lele, sisanya patin dan nila. Total ikan ada 12.500 bibit. Itu semua bisa dikonsumsi oleh masyarakat yang nantinya akan dibagikan ke RT masing-masing. Kita jual harga di bawah pasar untuk keperluan bibit lagi,” ungkap dia.

Lalu aspek keempat yakni ketahanan ekonomi. Untuk menjaga ekonomi tetap berputar di masa pandemik Sutrisno meminta warga untuk memproduksi makanan yang dapat dijual sesama warga, menggunakan grup whatsapp. Selama ini, kegiatan itu membantu saling menutupi kesulitan yang terjadi.

Aspek terakhir yakni, pembinaan generasi muda. Sejak PSBB diberlakukan otomatis anak muda di kampung tersebut tidak lagi bersekolah. Untuk membinanya, kampung Margoyoso mengaktifkan lagi kegiatan TPA untuk belajar bagi anak-anak kampung.

“Nah kelima aspek inilah yang kami gunakan untuk bertahan di masa pandemik. Alhamdulilah sampai sejauh ini kita masih bertahan, warga tetap sehat, keamanan terlindungi, pangan terjaga, ekonomi bergeliat dan pembinaan tetap jalan,” tandas dia.(tet)

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC
Lakukan Penukaran Uang

About Deby

Avatar

Check Also

Masuk ke Museum Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Pengunjung Wajib Memakai Masker

Palembang, Detik Sumsel — Pengelola museum Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) yang terletak di Jalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *