Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Bunuh Diri Bisa Dicegah, Bagaimana Caranya?

Bunuh Diri Bisa Dicegah, Bagaimana Caranya?

Tanggal : Pukul :
365
0
Penulis : Akila Labiba

World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia menyadari akan adanya kedaruratan dalam masalah kesehatan mental. Pada tahun ini, WHO mengusung tema yang sangat menarik yaitu Mental Health Promotion and Suicide Prevention atau Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri.


Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat yang besar dan terus mengalami peningkatan sehingga pencegahan bunuh diri menjadi fokus utama pada tahun ini. Secara global, WHO menyatakan lebih dari 800.000 nyawa di seluruh dunia hilang karena bunuh diri setiap tahunnya, dan Asia menyumbang lebih dari 60% dari kematian tersebut. Indonesia termasuk salah satu negara Asia yang turut menyumbang angka kematian akibat bunuh diri. Berdasarkan data perkiraan WHO, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia mengalami tren peningkatan. Angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada tahun 2010 adalah 5.000 sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi 10.000 dan hal ini adalah suatu hal yang mengkhawatirkan serta perlu dilakukan suatu tindakan untuk mengatasinya.

Bunuh diri merupakan usaha seseorang untuk mengakhiri hidupnya yang didasari kesengajaan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyebut adanya hubungan bunuh diri dengan kekerasan, masalah kesehatan mental dan ekonomi. Peristiwa bunuh diri yang terjadi di Indonesia dikaitkan juga dengan gangguan kesehatan mental, permasalahan keluarga, penyalahgunaan alkohol maupun obat-obat terlarang, sikap tak menghormati agama, serta hubungan sosial yang buruk.

Bunuh diri membawa efek yang buruk pada kesehatan orang lain maupun masyarakat. Ketika orang meninggal karena bunuh diri, keluarga dan teman-teman mereka cenderung mengalami keterkejutan, kemarahan, rasa bersalah, serta depresi. Orang yang selamat dari percobaan bunuh diri memungkinkan mereka untuk mengalami depresi yang lebih serius dan masalah kesehatan mental lainnya.

Pencegahan ialah suatu hal yang tepat dan efektif untuk dilakukan dalam meminimalisasi angka kejadian percobaan atau tindakan bunuh diri. Tujuan dari tindakan pencegahan bunuh diri adalah untuk mengurangi faktor-faktor yang meningkatkan risiko dan untuk meningkatkan faktor-faktor yang meningkatkan ketahanan. Pencegahan membutuhkan pendekatan komprehensif yang terjadi di semua tingkatan masyarakat, dimulai dari tingkat individu, keluarga, dan masyarakat hingga lingkungan sosial yang lebih luas.

Pembatasan akses ke sarana adalah salah satu strategi yang efektif untuk mengekang perilaku bunuh diri karena dapat mengatasi populasi pada umumnya termasuk mereka yang berisiko bunuh diri tetapi tidak terdeteksi. Terdapat berbagai cara pembatasan untuk bunuh diri seperti menjauhkan benda-benda yang dapat digunakan seseorang untuk mencelakai dirinya, mengadakan kegiatan pendidikan sosiokultural yang mempromosikan kesadaran untuk menghindari tindakan bunuh diri, serta pembatasan akses dalam penggunaan pestisida. Selain itu, CDC di Amerika Serikat menganjurkan agar semua orang segera melakukan komunikasi secara terbuka kepada mereka yang memiliki tanda-tanda ingin bunuh diri, misalnya seperti depresi. Sesungguhnya orang-orang yang memiliki keinginan bunuh diri membutuhkan teman bicara yang dapat menolong dan menghindari mereka dari aksi tersebut. Sebagai orang terdekat, kita bisa membantu mereka mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang ahli dalam menangani masalah kesehatan jiwa seperti psikolog dan psikiatri.

Strategi lain yang dapat mencegah bunuh diri adalah mengidentifikasi dan memberikan dukungan positif kepada orang yang berisiko, untuk itu perlu adanya pelatihan gatekeeper. Gatekeeper adalah individu yang dapat berinteraksi dengan orang yang berpotensi melakukan bunuh diri dan bersedia mengenali petunjuk perilaku utama yang menunjukkan risiko bunuh diri yang tinggi. Guru, teman sebaya, staf pendukung sekolah, dan penasihat khusus yang ditunjuk merupakan gatekeeper. Pelatihan gatekeeper untuk siswa mencangkup unsur-unsur dalam menginformasikan dampak buruk dari perilaku bunuh diri, faktor risiko, tanda-tanda peringatan, sistem pendukung yang tersedia, tanda-tanda depresi, komunikasi, dan keterampilan konseling untuk mengatasi populasi yang berisiko melakukan tindakan bunuh diri. Selain itu, Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membuka pelayanan konseling terkait masalah kejiwaan melalui telepon dalam upaya mencegah terjadinya bunuh diri. Hotline (021) 500-454 ini telah ada sejak 10 Oktober 2010 akan tetapi sekarang belum aktif kembali sehingga dialihkan ke nomor telepon gawat darurat, yakni 119 yang bebas pulsa. Komunitas yang pedulli akan masalah ini juga turut berkonstribusi dengan menyediakan situs-situs jasa konsultasi psikologi online seperti Ibunda.id, riliv.co, dan luminar.id.


Penulis : Akila Labiba, Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here